WHAT'S NEW?
Loading...
Postingan kali ini melanjutkan dari tulisan yang berjudul 14 hal yang bisa dilakukan di Kota Palangkaraya. Bukan dalam bentuk tulisan, namun dalam bentuk visual yang kebetulan saya juga terlibat dalam proses pembuatannya.
Kapal wisata di Palangkaraya
Ternyata tidak mudah memang proses pembuatan sebuah film, contohnya saja untuk salah satu scene yang di Desa Wisata Kanarakan kita penghabiskan setengah dari syuting untuk anya beberapa detik yang kemudian ditampilkan dalam film. Untuk satu adengan harus di ulang beberapa kali dan dari sudut yang berbeda.
Film ini adalah persembahan dari Dinas Pariwisata Kota Palangkaraya untuk mempromosikan wisata yang lebih mengarah ke wisata budaya dan pertualangan yang berada di Kota Palangkaraya.
Film pendek ini menurut saya sangat bagus karena bukan hanya dalam bentuk promosi keindahan saja, tapi dalam bentuk alur yang bercerita. Sebuah pertualangan ketika menjelajah Kota Palangkaraya.
Selamat menyaksikan..
Bagaimana menurut kalian? Semoga kota-kota lain di Kalimantan segera menyusul mempunya media promosi visual seperti ini.
Harry responsible travel!
Kutipan “jalan-jalanlah selagi kamu masih muda dan single” itu ternyata benar adanya, setelah berkeluarga akan ada banyak pertimbangan yang sebelumnya tak perlu dipikirkan. Tak terasa, hampir setahun sejak istri hamil dan melahirkan kita tidak pernah jalan-jalan bareng yang benar jalan-jalan. Akhirnya kita merencanakan untuk sedikit jalan-jalan ala keluarga alias piknik yang tidak menyita banyak waktu dan biaya.
Tujuan kita adalah Desa Wisata Sei gohong yang bisa ditempuh dengan 45 menit perjalanan dari pusat kota Palangkaraya. Walaupun sudah sering ke sini ketika ngajak tamu jalan-jalan namun ini pertama kalinya kita sekeluarga ke sini.
Hammockan
Setelah melewati jalan rusak khas Kalimantan akhirnya kita tiba di desa Sei Gohong, sungai yang menjadi tujuan piknik kita berada di belakang desa, tidak sampai 5 menit jalan kaki. Beruntung ketika kita datang hanya ada kita bertiga, karena biasanya pada weekend banyak orang-orang yang datang ke sini.
Tikar digelar dan hammock digantung diantara dua pohon, kitapun siap untuk menikmati sejuknya  sungai berbatu di antara pepohonan yang menaunginya. Keunikan tempat ini sehingga saya bilang tempat yang pas buat piknik adalah karena tempatnya yang tertutup dari sinar matahari Palangkaraya yang cukup menyengat, bagi yang mau berenang tinggal menceburkan diri di sungai yang berwarna merah kehitaman yang mengalir diantara bebatuan. Ketika sedang dangkal tempat ini menjadi tempat berseluncur yang asik, tinggal rebahan atau tengkurap mengikuti arus air.
Sungainya ketika sedang surut
Sayangnya ada beberapa vandalisme di bebatuan yang agak mengurangi keindahan pemandangan, yuk ah gak usah nulis-nulis di batu atau di pohon kayak gini, gak ada yang bilang kamu keren kalau nulis nama kamu di alam dan itu memang gak keren banget!!
Bayi kita yang berusia 7 bulan tampaknya sangat menikmati berada di alam seperti ini, senyum dan tawa selalu merekah di bibir mungilnya. Ah, bahagia itu sederhana ternyata melihat orang kesayangan bahagia kitapun turun bahagia.
Maen air
Apalagi ketika di ajak massuk ke air, dia yang awalnya takut-takut makin lama makin suka bermain air, bahkan hampir tidak mau ketika diajak untuk meninggalkan sungai. Apalagi banyak teman baru yang bermain dengannya, serombongan keluarga dan teman-temannya yang juga jauh-jauh dari Palangkaraya untuk sekedar menceburkan diri.
Matahari yang semakin turun ke barat membuat kita harus menyudahi piknik kita kali ini, nampaknya traveler junior kita sudah siap untuk diajak jalan-jalan. Jadi mau di ajak kemana nih? Ada masukan?
Happy Responsible Travel!
Memakai kacamata di Indonesia khususnya di Kalimantan , selama ini anggapan orang hanya untuk gaya-gayaan saja, khususnya ketika jalan-jalan atau liburan. Namun ternyata kacamata harusnya berfungsi untuk melindungi mata kita dari sengatan sinar UV yang tajam, khususnya yang sering disebut dengan kacamata riben atau yang bekaca gelap, beda dengan kacamata minus ya.
Namun yang pasti bagi para traveller, salah satu aksesoris yang tidak boleh tertinggal ketika bepergian adalah kacamata hitam, walaupun warnanya tidak melulu hitam. Termasuk saya sebenarnya dulu selalu membawa kacamata, namun jarang digunakan dan hanya dipakai untuk bergaya ketika sedang difoto.
di depan borneo orangutan survival foundation
Borneo Eyewear di depan BOS Foundation
Dan ternyata kacamata adalah salah satu printilah travelling yang paling sering hilang, pernah ketika sedang island hoping di Raja Ampat karena keasikan menikmati pemandangan yang aduhai, saya sampai lupa dengan kacamata yang digantung di leher baju, dan ketika menunduk di atas air, bunyi “plung” adalah salam perpisahan dari kacamata tersebut.
Sejak bekerja sebagai travel guide yang mayoritas waktu kerja di luar ruangan, kacamata menjadi salah satu kebutuhan pokok yang harus saya bawa. Baru-baru ini, hasil iseng nyari hastag #borneo di Instagram ( yuk di follow @backpackerborneo yaa) saya menemukan sebuah akun yang bernama @borneoeyewear.
Ello menyususri sungai di Kalimantan
Casing untuk kacamata yang terbuat dari bambu
Hasil kepo di akun tersebut sayapun langsung jatuh cinta dengan kacamata yang terbuat dari kayu yang menjadi produk utama dari Borneo Eyewear tersebut, apalagi setelah mengetahui bahwa kayu-kayu tersebut merupakan kayu berkualitas  yang di ambil dari sisa potongan yang tidak terpakai workshop-workshop seperti dari tempat pembuatan mebel. Kreatif bukan?
Kayu sisa yang terpilih itulah yang kemudian diolah menjadi kacamata, ada tiga bahan kayu yang menjadi bahan dasar pembuatan kacamata ini, yaitu kayu Jati, Sonokeling dan Johar yang memang sudah dikenal sebagai kayu yang tahan lama di Indonesia.
Kacamata kayu dari Borneo Eyewear
Model dari Borneo Eyewear
Setelah dipotong sesuai model, dihaluskan dan dipasang lensa maka kacamata Borneo Eyewear siap untuk mempercantik dan mempertampan pemakainya. Ada 5 model yang sementara tersedia yaitu Hope, Ello, Sura, Cinta dan Yodanka.
Uniknya, penamaan model tersebut ternyata berasal dari nama Orangutan yang sedang dalam proses rehabilitasi di Borneo Orangutan Survival Foundation. Penamaan tersebut bukan tanpa alasan, karena setiap keuntungan dari pembelian kacamata tersebut juga disumbangkan untuk pelestarian Orangutan.
Akhirnya, kini Ello selalu melindungi mata saya dari sengatan matahari Kalimantan yang lumayan menyilaukan. Banyak komentar dari tamu yang saya guiding tentang kerennya kacamata yang saya pakai, rupanya tidak sia-sia meminang kacamata yang terbuat dari kayu tersebut, selain tambah keren juga turun meyumbang untuk rehabilitasi Orangutan.

Borneo Eyewear
Telp: (62) 858 1129 4541
Email: info@borneoeyewear.com
Facebook: Borneo Eyewear
Twitter: @BORNEOeyewear
Instagram: @borneoeyewear
Selama ini, kita cuma mengenal Taman Nasional Tanjung puting sebagai lokasi untuk melihat Orangutan di Kalimantan atau Kalimantan Tengah pada khususnya. Namun tenyata Taman Nasional lain yang selama ini belum dilirik sebagai tujuan wisata Orangutan juga memiliki potensi yang sangat besar.
Taman Nasional Sebangau namanya, hanya berjarak 20 menit perjalanan dari bandara Cilik Riwut Palangkaraya kita sudah  sampai di dermaga Kereng Bangkirai yang menjadi pintu masuk menuju taman Nasional ini. Di sore hari, dermaga Kereng bangkirai selalu ramai oleh warga sekitar yang ingin bersantai, mandi di air hitam hingga menikmati sunset. Diperkirakan sekitar 6.500 hinggal 9.000 populasi Orangutan liar tersebar di wilayah hampir sebesar Jakarta yang di dominasi oleh hutan gambut ini.

Taman Nasional Sebangau
Nipah yang terbakar di sebelah kanan
Walaupun tidak jauh dari rumah, namun baru ini saya berkesempatan untuk mengunjungi tempat ini dalam rangka survey untuk pegembangan eko wisata yang sedang dirintis oleh pihak taman nasional.
Begitu tiba di pusat informasi wisata yang terletas tepat di pelabuhan, kita segera mempersiapan diri untuk memasuki kawasan taman nasional, life jaket dan air mineral sudah siap di dalam longboat yang akan kita pakai menjelajahi keindahan hutan rawa gambut ini.
Longboat berbahan fibreglass melaju pelan di atas air yang berwarna merah kehitamaa seperti teh, sesekali kita harus merunduk ketika melewati “terowongan” nipah. Ya, salah satu sensasi ketika datang ke Taman Nasional Sebangau adalah naik speedboat diantara hutan nipah yang tumbuh mengelompok tak beraturan bak labirin. Bagi saya yang pertama kalinya datang ke sini sudah pasti saya akan lupa di mana saja jalur yang barusan kita lewati, semua terlihat sama.
Dipisahkan oleh sungai berair merah kehitaman.
Di beberapa bagian tampak bekas kebakaran hutan yang terjadi tahun lalu ketika kemarau panjang melanda Kalimantan. Ranger yang mendampingi kami mengatakan bahwa manusialah penyebab utama kebakaran hutan yang terjadi di sini, sebagian olah para pemburu yang lupa mematikan api unggunnya sebagian lagi oleh para nelayan yang memang sengaja membakar untuk membuka jalur bagi ikan, dan apinya menyebar menjadi tak terkendali.
Beberapa saat sebelum memasuki jalur untuk trekking, perbatasan hutan rawa gambut dan hutan nipah mulai terlihat dipisahkan oleh Sungai Koran yang memjadi pembatan kawasan taman nasional. Beberapa monyet tampak santai dan tidak terganggu dengan kehadiran kami, bahkan ada yang sedang saling mencari kutu dengan temannya.
taman nasional sebangau
Peamndangan dari menara pandang
Akhirnya kami tiba di sebuah pondok yang dibangun oleh WWF, namun katanya akan segera diserah terimakan kembali kepada pihak taman nasional karena dari WWF sudah tidak ada kegiatan di daerah ini. Di samping pondok tampak berdiri sebuah menara pandang, walau tidak terlalu tinggi namun cukup untuk memandang keadaan sekelilig, paling pas kayaknya buat liat sunrise dan sunset. Fasilitas juga cukup lengkap di pondok yang bias digunakan untuk menginap para wisatawan ini.
Setelah puas di pondok pos Sungai Koran kita kembali untuk survey jalur trekking, debit air yang tinggi membuat membuat jalur terendam air, kita mencoba untuk masuk menggunakan longboat perlahan-lahan. Ketika semua sedang asik ngobrol tiba-tiba saya melihat seekor ular berwarna hijau sedang bertengger tak jauh dari longboat kami, salah satu teman yang duduk paling depan tampak pucat karena ular itu hanya berjarak sekitar 1 meter darinya. Akhirnya karena trauma ular akhirnya kita sepakat membatalkan masuk di jalur ini.
Ular yang tak jauh dari boat
Karena ada beberapa jalur yang biasa di pakai untuk trekking akhirnya kita mencoba jalur lain, ternyata dari sini kita juga harus terlebih dahulu terjun ke air, namun tidak terlalu jauh berjalan di dalam airnya seperti jalur sebelumnya. Setelah sekitar 50 meter jalan akhirnya kering, walaupun tidak sepenuhnya kering karena sebenarnya banyak pasir yang terkandung di bawah lahan gambut ini. Trekking kitapun hanya sebentar karena memang tidak ada niatan untuk masuk lebih jauh, cuma sekedar tau saja.
Kali kedua saya kembali ke Taman Nasional Sebangau dengan tamu kita menyusuri sungai kecil yang hanya selebar satu setengah meter. Sensai pertualangannya lebih berasa karena kita seperti melalalui terowongan, beberapa kali kita harus merunduk mensejajarkan diri dengan longboat agak tidak terantuk dahan yang rendah.
Trekking di hutan gambut
Menurut kepala balai, kedepannya akan di bangun jembatan kayu untuk memudahkan trekking sehingga wisatawan yang datang tidak harus berjalan di alama air yang kadang mengerikan karena berwarna kehitaman dan kita tidak bias melihat dasarnya. Jalur trekking juga sedang dipersiapkan melewati wilayah yang menjadi habitat orang-utan, camping ground juga akan disiapkan bagi yang ingin bermalam di hutan.
Semoga, kedepannya Taman Nasional Sebangau yang terletak tak jauh dari ibu kota provinsi Kalimantan Tengah menjadi destinasi wisata baru bagi wisatawan minat khusus di Kalimantan.
Happy Responsible Travel.

Pantai merupakan sarana pembuang penat yang mujarab bagi kebanyakan orang setelah melakukankan kegiatan yang melelahkan fisik juga pikiran. Banyak hal biasa yang dilakukan bila sudah berada di pantai antara lain berenang bebas ditepian, duduk atau tidur santai di pasiran, atau hanya sekedar berjalan riang di pinggiran.
Adapun alat atau asesoris pantai yang dipakai bisa beragam banyaknya. Mulai dari sandal jepit yang ringan dan nyaman, topi ragam jenis, kaca mata hitam, dan banyak lagi hal penunjang berenang yang terlalu biasa untuk diceritakan. Mau yang anti mainstream? Simak uraian berikut.


Kalimantan Tengah merupakan salah satu provinsi yang memiliki potensi kebaharian yang jauh berbeda dan unik ketimbang provinsi lain di Indonesia. Salah satunya pantai. Pantai identik dengan air asin yang jernih bertepian pasir putih dan karang dengan permandangan lepas biru lautan.
Bila berkunjung ke Palangka Raya, jangan lupa berenang di Back Water Beach, danau Tahai. Walaupun bukan pantai sesungguhnya namun tempat ini menjadi tempat wisata yang anti mainstream dan bisa dibilang extreme.


Bagaimana tidak? Berenang di air tawar yang berwarna cokelat kemerahan bersih dengan dasar batu alam di keadalamannya. Dijamin seger abis sensasi airnya. Kadang para perenang juga harus was-was bisa sudah berada di dalamnya. Sebab keanekaragaman reptil di Kalimantan Tengah beragam banyaknya dan tidak jarang yang liar dan beracun dengan ukuran yang bisa sebesar manusia dewasa. Gimana? Masih merasa pertualang tangguh yang anti mainstream? Coba deh berenang kesini.

Bila dari pusat kota bisa diakses dengan kendaraan bermotor sejauh 35 km atau 45 menit perjalan menuju desa wisata Sei Gohong. Tenang, kota ini masih menjadi salah satu kota bebas macet dan hambatan. Bahkan lampu lalulintas disini masih bisa dihitung banyaknya. Arah jalan menuju desa tersebut mulus beraspal juga menawarkan hamparan hutan yang hijau.
Sesampainya di desa bisa langsung menyewa getek pada warga sekitar dengan tarif Rp 225.000 untuk maksimal 3-4 orang yang akan memakan waktu kurang lebih 30 menit. Gak akan bosen deh karena arah menuju danau akan melewati sungai besar dan terkadang kecil menyempit juga area konservasi orangutan.


Salah satu hewan yang mulai langka dan terancam punah itu direhabilitasi disini setelah diambil dari warga kota sebagai peliharaan untuk dijadikan liar kembali dan dikembang biakan agar populasinya semakin meningkat. Tak jarang juga pengunjung dapat melihat Bekantam dan Hornbill atau burung Enggang yang sudah mulai punah.
Sesampai dilokasi, pengunjung bisa bebas melakukan aksi explor hutan dengan berjalan masuk ke dalam hutan terlebih dahulu. Lalu bila dirasa cukup lelah dan penat, pengunjung bisa kembali ke tepian hutan dan berenang. Direkomendasikan untuk datang pada waktu pagi atau sore hari ke lokasi tersebut dan jangan sendiri karena bareng kawan makin seru.
Guest post by  oleh  @di_diadmojoyo

Happy Responsible Travel!

Sebagai kota yang tidak terlalu terkenal sebagai tujuan untuk berlibur, kadang orang-orang masih bingung mau ke mana saja dan hal apa saya yang bisa dilakukan ketika berwisata ke Kota Palangkaraya. Berdasarkan pengalaman sebagai pemandu wisata berikut saya coba untuk memberikan rekomendasi 14 hal yang bisa dilakukan ketika berada di Kota Palangkaraya:
1.       Wisata susur sungai
Ini adalah atraksi utamma yang wajib untuk di lakukan ketika berada di Kota Palangkaraya, ada kapal susur sungai yang berada di dermaga tugu pahlawan yang selalu siap untuk mengantarkan anda untuk menikmati keindahan panorama sungai Kahayan dan Rungan. Kapal wisata milik pemerintah ini berangkan setiap hari selama kurang lebih 3 jam sekali berangkat dengan minimun penumpang 25 orang. Selain itu juga ada kapal milik swasta namun lebih mahal karena pasarnya adalah wisatawan mancanegara, namun semua fasilitas di kapal ini full service, dari penjemputan hingga makan dan kamar tidur yang berada di dalam lambung kapal.
2.       Menikmati Baram 
Baram adalah minuman alkohol tradisional suku Dayak yang terbuat dari fermentasi beras ketan, di beberapa cafe mereka telah mengolahnya menjadi minuman yang tidak memabukan, salah satunya dengan menjadikannya coctail baram  yang harus dicoba karena cuma ada di Kota Palangkaraya. Cafe Cilik Riwut yang memadukan galeri perjuangan pahlawan nasional dari Kalimantan Tengah adalah salah atu tempat untuk mencobanya, selain itu Greenleaf Cafe yang berada di Palma juga menyediakan berbagai olahan dari baram.
3.       Berkunjung ke Musium Balanga

Satu-satunya musium yang ada di Kota Palangkaraya ini adalah tempat yang paling cocok untuk di kunjungi bagi yang ingin mengetahui tentang adat dan budaya Suku Dayak. Dari proses kelahiran hingga upacara kematian di jelaskan dengan menarik dengan benda-benda yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari dipajang dalam kaca dan tampilan yang menarik, di lantai dua bahkan ada miniatur dari rumah betang dan rumah yang biasa digunakan ketika tinggal di ladang selama berbulan-bulan oleh suku Dayak.
4.       Aburetum Nyaru Menteng
Di sinilah Orangutan yang telah menjadi korban dari lajunya deforestasi kembali di rehabilitasi untuk kembali ke alam liar, di sini bawah yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation mereka di ajarkan kembali bagaimana menjadi Orangutan yang seutuhnya, bagaimana cara naik pohon, membuat sarang hingga mengenali predator yang ada di di sekitarnya. Namun pengunjung hanya diperbolehkan untuk masuk ke pusat informasi dan hanya melihat mereka di kandang besar dari balik kaca, di pusat informasi ini kita juga diputarkan video ketika pelepasliaran dan film pendek tentang orangutan yang menjadi peliharaan hingga kembali ke hutan. Pusat  infomasi ini hanya buka pada hari sabtu dan minggu, diluar itu bagi yang ingin berkunjung harus mengurus di BKSDA setempat.
5.       Bersantai di Danau Tahai

Tak jauh dari dari Aburetum Nyaru Menteng ada sebuah danau berair hitam yang telah dibangun di atasnya jembatan kayu yang pas untuk foto-foto, juga tersedia beberapa tempat untuk bersantai santai menikmati panorama sekeliling yang masih dikelilingi oleh hutan gambut. Bagi yang ingin mencoba aktifitas lain juga ada bebek-bebekan yang tinggal dikayuh untuk berkeliling danau.
6.       Mendaki Bukit Tangkiling
 
Diperlukan waktu sekitar 45 menit untuk mencapai puncak bukit ini, setiba dipucak panorama hijaunya hutan Kalimantan berhiaskan sungai yang meliuk-liuk adalah bonus yang bisa kita nikmati. Waktu terbaik untuk mendaki bukit yang berupa batu-batu ini adalah di pagi hari ketika kabut tipis masih menutupi daerah sekitarnya sehingga kita tampak seperti berada di atas awan, atau di sore hari ketika matahari kembali ke peraduannya, sunset di Bukit Tangkiling adalah salah satu sunset terindah yang bisa dinikmati.
7.       Main seluncuran di Sungai Berbatu
Turun dari Bukit Tangkiling anda bisa menuju desa Sei Gohong yang berada di bawah bukit, desa ini dibelah oleh sebuah sungai yang airnya berwarna merah kehitaman. Ada bagian yang berbatu dan berlumut sehingga pas untuk berseluncur dan berendam untuk menghilangkan lelah setelah mendaki bukit.
8.       Camping di Danau Tahai’i

Walaupun namanya mirip dengan danau tahai sebelomnya, namun yang satu ini sama sekali berbeda dengan yang sebelumnya, untuk meuju ke sana kita terlebih dahulu melalui labirin sungai kecil dengan pepohonan yang masih rapat. Pasir putih yang menghampar merupakan tempat yang pas untuk mendirikan tenda dan danaunya yang tidak terlau luas namun berair bersih sangat menyegarkan untuk berenang. Lebih lanjut tentang Danau tahai’i bisa dibaca di sini (Link).
9.       Berkeliling Pulau Kaja
Pulau kaja adalah pulau pra pelepasliaran Orangutan yang telah lulus “Sekolah Hutan” di pusat rehabilitasi BOSF, di sinilah mereka untuk pertama kalinya dengan bebas bergelayut dari satu pohon ke pohon lainya. Walau begitu, mereka masih di beri makan setiap harinya karena persediaan buah-buahan yang terbatas di pulau ini. Karena Pulau ini bukan tempat wisata, jadi ada beberapa peraturan yang harus di patuhi oleh pengunjung seperti dilarang untuk naik ke pulau dan berinteraksi dengan Orangutan,menjaga jarak maksimal 10 meter serta dilarang mengambil foto Orangutan dengan camera profesional. Pulau Kaja hanya boleh di kunjungi pada hari Sabtu, Minggu, Selasa dan Kamis
10.   Memetik Nanas langsung di kebunnya


Kalau di Malang ada wisata kebun apel, di Palangkaraya juga ada kebun nanas yang bisa menjadi alternatif untuk berwisata. Bukan cuma melihat-lihat, kita juga langsung dijelaskan oleh pemiliknya langsung tentang bagaimana perkebunan seluas 3 hektar tersebut di kembangkan olehnya, tentang beberapa jenis nanas yang di taman serta memetik sendiri dan memakan buahnya yang manis dan segar. Perkebunan nanas ini berada sekitar 10 kilometer dari bukit Tangkiling.
11.   Melihat Tarian Dayak
 
Waktu terbaik untuk melihat berbagai macam tarian Suku Dayak yang mempesona adalah ketika Festival Budaya Isen Mulang yang biasanya dilaksanakan setial bulan Mei. Namul diluar itu juga bisa dengan memesan langsung tarian dari sanggarnya yang khusus performance untuk kita.
12.   Bersantai di Taman Kota
 
Ada dua taman yang bisa dijadikan alternatif untuk bersantai dan bergaul di Palangkaraya. Yang pertama adalah taman kota yang terletak di dekat kantor gubernur, taman ini bisanya rame ketika sore dan malam hari. Relief perjuangan bangsa Indonesia dari jaman penjajahan hingga jaman kemerdekaan menghiasi temboknya, di bagian tengah, tirai air membelah taman menjadi dua bagian. Yang kedua adalah taman Tugu Sukarno, di sebut Tugu Sukarno karena di sinilah pertama kalinya dipancangkan pembangunan Kota Palangkaraya oleh presiden pertama republik Indonesia dan disiapkan sebagai ibukota negara.
13.   Menikmati Sunset dari tepi Sungai Kahayan
Setiap sore, di tiga pelabuhan sungai utama yang ada di Kota Palangkaraya selalu di penuhi oleh masyarakat baik itu untuk sekedar bersantai ataupun memancing, tak lupa pula para penjaja makanan yang datang untuk menawarkan dagangannya kepada para warga yang haus atau sekedar pengen menikmati gorengan sambil menatap sunset. Tiga pelabuhan yang biasanya menjadi tongkrongan adalah Pelabuhan Tugu Sukarno, Pelabuhan Flamboyan dan Pelabuhan Rambang.
14.   Trekking di Taman Nasional Sebangau

Taman nasional ini memang kalah terkenal dengan tetangganya Taman Nasional Tanjung Puting, namun ternyata di sini ada sekitar 6500 Orangutan liar yang tersebar di area hutan rawa gambut yang mendominasi kawasan ini. Menurut petugas di Taman Nasional sangat mudah untuk bertemu dengan Orangutan ketika sedang trekking atau menyusuri sungai dengan kelotok, terkadang mereka hanya bergelantungan di atas pohon di tepi sungai. Keunikan lainnya adalah hutan nipahnya yang cukup luas dan berliku-liku, menyusuri tempat ini dengan longboat atau kelotok adalah salah satu sensasi tersendiri yang tidak bisa didapatkan di tempat lain.
Demikian 14 hal yang bisa dilakukan ketika berwisata di Kota Palangkaraya menurut Backpacker Borneo, ada yang mau menambahkan? 
Tulisan ini dipersembahkan untuk posting bareng dari komunitas Travel Blogger Indonesia dalam rangka #14on14, silahkan di simak tulisan lainya di sini:
·         Astin Soekanto  |  Makna Filosofis 14 Motif Tenun dari Nusa Tenggara
·         Danang Saparudin | 14 hal manis dan murah di Inggris
·         Danan Wahyu | 14 alasan mengunjungi Kerinci
·         Arie Okta | 14 Ragam Wisata Tanah Kelahiran
·         Albert Ghana | 14 Objek Wisata Menarik di Kalimantan Barat
·         Lenny | 14 travel selfie around USA
·         Tekno Bolang | 14 Senja yang Bikin Kamu Galau
·         Fahmi Anhar | 14 Tempat Wisata Menarik di Dubai
·         Wisnu Yuwandono | 14 Foto Romantis di Sekitar Kepulauan Komodo
·         Yofangga | 14 film inspirasi perjalanan
·         Teguh Nugroho | 14 Hal yang Harus Kamu Tahu Tentang Semarang
·         Dea Sihotang | 14 Things to do in Paris
·         Indri Juwono | 14 tindak tanduk asyik di wae rebo!
·         Parahita Satiti | 14 tempat cantik untuk Natarajasana
·         Titiw Akmar | 14 Lagu Momen untuk Traveling
·         Bobby Ertanto | 14 SEO Basic Travel Blogging ala Virus Traveling
·         Adlien | 14 Alasan kenapa harus Traveling Saat Muda
·         Rembulan Indira | 14 Places I want to Share with my Loved One
·         Rembulan Indira | 14 Places I want to Share with my Loved One
·         Wira Nurmansyah | 14 Tips Simpel agar Komposisi Foto makin Kece
·         Olive Bendon | 14 Langkah Menikmati Perjalanan Tak Biasa

Happy ResponsibleTravel!