Cerita sebelumnya menuju Labuan Bajo bisa dibaca di sini.
Karena belum ngantuk akhirnya saya memutuskan untuk
jalan-jalan barang sebentar. Malam di Labuan Bajo tak seramai kota wisata
lainnya seperti Bali ataupun Jogja, di jalan ... yang hanya satu arah tak
tampak banyak kendaraan yang lewat, walaupun masih baru sekitar pukul 8 malam,
sayapun hanya berjalan sebentar kemudian balik lagi dan duduk di atas trotoar
disamping seorang bapak yang sedang asyik berbicara di telpon. Ternyata bapak
ini juga baru datang dari arah timur, dia sedang menjemput tamu di Labuan Bajo
yang akan berkeliling di Flores. Kalau tau mendingan ikut saya, lumayan ada
teman buat ngobrol di jalan. Katanya...yah bapak, coba kita kenal lebih dulu
lumayan kan gratis ke Labuan Bajo...hee
Pak Leo juga bercerita kalau sebenarnya Labuan Bajo masih
belum siap sebagai kota wisata, dari segi infrastruktur jalannya masih banyak
yang rusak dan yang paling susah adalah air. Rata-rata air dirumah penduduk
masih berasa payau, begitu juga dengan air di penginapan, entah bagaimana
dengan hotel-hotel mewah di sana karena belum pernah juga nginap di hotel yang
harganya mahal tersebut. Pak Leo pun memilih menginap di penginapan karena cuma
pengen mandi sampai puas, kadang kalau cuma tidur di mobil beliau bawa air
galon buat mandi, mahal banget kan..
 |
| Pelabuhan Labuan Bajo |
Tak terasa mata sudah mulai ngantuk, sebelum berpisah
beliau menyarankan untuk mencari seseorang di Pusat Informasi kali aja bisa
bantu untuk ke Pulau Komodo yang harganya tak murah itu. Untungnya saya selalu
membawa losion anti nyamuk sehingga bisa tidur dengan bijak malam itu.
Pagi harinya setelah sarapan dengan membeli nasi bungkus
yang di jual seorang ibu yang lewat saya berjalan-jalan ke pelabuhan Fery, dari
sini saya bisa melihat banyaknya kapal-kapal yang sedang berlabuh di teluk, di
ujung saya juga bisa memperhatikan kesibukan di dermaga pasar termpat para
nelayan membawa hasil tangkapannya. Setelah itu saya melanjutkan perjalanan ke
arah barat ternyata di bagian ujung jalan di depan pasar ada seperti gazebo
yang bisa dipakai untuk beristirahat sambil menikmati pemandangan laut biru
dengan berbagai macam kapal yang ada.
Setelah itu sayapun menuju pasar ikan untuk melihat-lihat
kehidupan masyarakan sana, dan saya bertemu dengan dua orang yang sedang asik
foto-foto dan ternyata mereka sudah beberapa hari di Labuan Bajo dan belum ke
Pulau komodo karena uangnya belum cukup, saya pun mengajak mereka bareng sambil
mencari tambahan orang biar biaya sewa kapal lebih murah, namun sayangnya
mereka besok sudah harus meninggalkan Labuan Bajo karena tiket sudah terbeli.
Di pasar saya sambil mencari tau tentang public boat yang akan menuju Pulau
Komodo, namun masih belum bisa mendapatkannya. Mungkin masih kurang pagi
sehingga besok harinya saya berencana untuk kembali ke pasar ini lebih pagi.
 |
| Ikan kering di pasar |
Setelah itu saya pun kembali menyusuri jalan namun dengan
arah sebaliknya, di sebelah kiri jalan tampak hotel-hotel sedangkan di sebelah
kanan banyak berjejer dive centre yang siap mengantarkan wisatawan yang ingin
Diving, Snorkling, Trekking di Pulau Komodo sampai Overland trip di Flores.
Saya pun mencari seseorang yang dimaksud pak Leo tadi namun sayangnya dia sore
hari baru ada di tempat, di dive centre lain saya coba-coba tanya harga
ternyata paling murah sekitar Rp. 500.000 itupun Cuma satu hari dan harus
mencari teman untuk sharing cost kecuali mampu untuk menyewa kapal sendiri,
sedangkan yang satu malam atau dua malam harganya lebih mahal lagi lebih dari
satu juta. Kayaknya Pulau Komodo semakin jauh bagi backpacker kere seperti
saya.
Sayapun melanjutkan perjalanan dan kayaknya dari jalan
yang di atas pemandangan yang bisa dilihat lebih bagus, maka sayapun terus
berjalan dan ketika melihat ada orang yang keluar dari jalan kecil saya
berpikir bahwa itu pasti jalan tembus, sayapun mencobanya dan memang betul itu
jalan ke atas namun melalui rumah-rumah penduduk sehingga saya harus sering
bertanya supaya tidak tersesat.
Akhirnya saya sampai di jalan yang berdebu, dan ikut
beristirahat sebentar depan sorang bapak yang berasal dari Jawa, ternyata untuk
menuju tempat yang bisa memandang semuanya saya harus menuju tempat yang
bernama puncak Waringin, dari sini saya bisa melihat pemandangan keseluruhan
pelabuhan Labuan Bajo dengan latar belakan laut biru yang dihiasi oleh kapal
besar dan kecil yang tengan berlabuh, seandanya ada kursi pasti saya menghabiskan
waktu lebih banyak di sini, sayangnya saya hanya berdiri di pinggir jalan.
 |
| Kapal-kapal sedang berlabuh |
Saya lebih memilih pulang dengan naik Angkot, tarifnya
jauh dekat hanya Rp. 2.000. Dan saya putuskan untuk turun di gazebo yang
menghadap kelaut dan foto-foto di sana, ada dua orang di salah satu gazebo dan
ternyata salah satunya adalah seorang guide yang sedang menunggu untuk
menjemput tamunya yang baru datang dari Pulau Komodo, ketika bertanya-tanya
tentang cara ke sana dan mungkin melihat tampang saya kere akhirnya saya diajak
untuk ikut dengan dia namun harus menunggu 3 hari lagi.
Alhamdulillah akhirnya saya bertemu satu lagi orang
Flores yang baik hati menjadi dewa penolong saya. Tidak hanya itu, orang yang
saya panggil kaka Pedi ini juga mengajak saya bersantai sambil menunggu tamunya
pulang. Kita bersantai di salah satu cafe di sana, saya juga ikut main bilyar
namun dikalahkan langsung dikalahkan 3 set, maklum lama tidak megang stik..:-)#(Alasan)
 |
| Main Bilyar Dulu |
Setelah mengantar ke Bandara saya kita ke kantor Dinas
kehutanan yang mengurus Taman Nasional Komodo, di sini saya mendengar bahwa tak
lama sebelumnya ada seorang Ranger yang digigit oleh komodo, dan langsung di
bawa ke Bali karena rumah sakit yang mampu untuk mengatasinya hanya ada di Bali,
bikin ngeri mendegarya.
Sore harinya saya menikmati sunset di Gazebo tadi,
rupanya tempat ini memang dibangun untuk menikmati sunset, banyak warung-warung
yang bermunculan yang menjual gorengan dan makan seperti gorengan sehingga
masyarakan bisa bersantai menikmati matahari terbenam sambil menyeruput teh
panas dan pisang goreng.
 |
| Sunset di Labuan Bajo |
Padahal saya sudah berencana untuk pindah dari penginapan
tempat saya menginap, tapi karena kemaren tidak sempat jadi satu malam lagi
saya harus tidak “Bahagia”, pagi harinya setelah membeli sarapan di pasar saya
mencari penginapan lain, sesuai petunjuk dari Rizal bahwa di dekat Bank NTT ada
juga penginapan murah yang lumayan, masuk di Jalan Cumi-Cumi ternyata ada
sebuah hotel di pinggir lapangan bola yang bernama Hotel Pelangi, dilihat dari
luar bangunannya memang bagus, terbuat dari beton dan ada ruang yang berAC,
namun ternyata ada juga kamar ekonomi yang berharga Rp. 30.000, saya pun tak
pikkir panjang segera mengambilnya, kamarnya lebih bersih dan ada dua kasur di
dalam kamar, namun dindingnya yang dari papan agak jarang, sehingga kita bisa
melihat orang di sebelah kamar.
Di sekitar Pelabuhan memang banyak penginapan murah
dengan Tarif sekitar Rp. 25.000 sampai Rp. 50.000, ternyata ini adalah
penginapan yang biasanya digunakan oleh para penduduk Flores yang sedang
menunggu kapal, baik itu kapal Fery yang menyebrang ke Sape ataupun Kapal Pelni
yang melayani pelayaran dari Sulawesi dan Jawa. Dan biasanya mereka menginap di
sini sampai kapal yang di tunggu datang, jadi jangan heran kalau kapal belum
datang jadi penginpan akan banyak yang penuh.
Belum sempat saya mengambil ransel di penginapan yang
lama ada sebuah telepon yang masih, nomornya masih baru dan menanyakan mau
ngapain saya hari ini, dan saya jawab belum tau
dan dia langsung mengajak saya jalan.
 |
| Pertandingan sepak Bola di depan Hotel |
Tak lama menunggu ternyata dia adalah Abang Icang,
temannya kaka Pedi yang kemaren bertemu di Kantor Kehutanan, sayapun diajak
keliling-keliling kota Labuan Bajo, serta menuju Goa Batu Cermin, salah satu
objek wisata yang bisa dikunjungi di Labuan Bajo. Eh ternyata yang jaga juga
teman-temannya sehingga saya tidak dipungut karcis masuk. Dan menuju Goa Batu
cermin dengan ditemani oleh seorang cewek yang menjadi guide saya, salah seorang
bapak membisiki saya “Ntar beri aja uang Rp. 10.000 buat tip dia”,oke deh...
Untuk menuju Lokasi Goa kita harus berjalan sekitar 200
meter di jalan yang sudah dilapisi paving blok, dan tampaknya goa ini baru
dibenahi oleh pemerintah walaupun tampak ada bangunan yang sudah rusak dan
penuh coretan. Silvy pun bercerita dengan lancar tentang sejarah goa ini,
katanya goa ini sempat dijadikan tempat persembunyian oleh penduduk setempat
ketika jaman penjajahan.
Seperti goa pada
umumnya banyak stalagtit dan stalagmit yang menghiasi langit-langit dan dinding
goa ini.Yang menjadi keunikan goa ini adalah kita bisa menemukan fosil-fosil
hewan yang biasa di bawah laut seperti ikan dan kura-kura, hal ini menandakan
bahwa goa ini dulunya pernah berada di bawah laut. Selain itu goa ini dinamakan
Goa Batu Cermin bukan karena kita bisa bercermin dengan batunya, namun karena
pada musin hujan air yang menggenangi lantai goa terpantul oleh cahaya matahari
ke dinding goa dan tampak berkilauan seperti cermin, makanya disebut Goa Batu
Cermin.
 |
| Goa Batu Cermin |
Untuk masuk ke dalam goa kadang kita harus menunduk
karena ada yang stalaktitnya sangat rendah, namun di bagian tengah goa ada
sebuah ruangan yang cukup luas dan disinilah katanya orang-orang dulu
berkumpul. Jalan masuk dan keluar goa ini berbeda sehingga kita akan melewati
pemandangan yang berbeda.
Setelah selesai dan kembali ke pos penjagaan saya
langsung diantar oleh sepupu Bang Icank untuk bertemu dengannya di Perempatan
karena dia ada yang urus sebelumnya. Karena dia tidak bisa menemani akhirnya
saya dipinjamkan motor untuk berkeliling, dan untungnya jalan di Labuan Bajo
tidak begitu membingungkan dan hanya ada beberapa lampu merah. Sehingga cukup
aman bagi saya berkendara sendiri tanpa peta.
Siangnya saya menuju Pantai Pede, bertanya menjadi
panduan saya untuk menuju pantai ini. dan saya diberi petunjuk bahwa tinggal
lurus menuju arah ke Hotel Jayakarta dan Pantai Pede tepat ada di samping kanan
sebelum hotel ini.
 |
| Pantai Pede, sayang kotor |
Sudah banyak fasilitas yang dibangun di Pantai ini
seperti tempat untuk duduk-duduk, bahkan ada juga Perahu air berbentuk bebek
namun terlihat dirantai dan kayaknya lama tidak digunakan. Hanay ada beberapa
orang di pantai ini, serasa milik sendiri, namun pantainya yang berpasir putih
hanya sedikit mungkin karena pasang atau memang begitu adanya yang pastinya
cukup banyak sampah yang terlihat di tepi pantainya, mungkin terbawa dari laut.
Karena bosan hanya duduk-duduk sayapun melanjutkan ke
perjalanan mengikuti jalan, ternyata di pinggir jalan banyak terlihat pub dan
bar yang kecil-kecil, dan jalan yang beraspal mulus ini ternyata berakhir di
Hotel Jayakarta, Salah satu Hotel berbintang yang ada di Labuan Bajo dan
memiliki banyak jaringan di berbagai kota.
Matahari semakin
turun, sayapun kembali ke Pantai Pede untuk menikmati sunset. Hanya ada dua
orang cewek dari Polandia setengah bugil yang lagi berjemur, sisanya hanya tampak
nelayan di ujung pantai yang membuat saya penasaran untuk mendekat.Ternyata
orang tua ini bernama Pak Lewu, dia tinggal di sebuah pondok di ujung pantai
yang berdindingkan kardus dan atapnya seng bekas, dia melaut masih memakai perahu
tenaga angin, hanya anak-anaknya yang telah menggunakan perahu bermesin.
 |
| Sunset di Pantai Pede |
Matahari semakin
tenggelam dan berubah perlahan-lahan dari bundar hingga habis sama sekali, yang tertinggal hanya cahayanya yang keemasan.
Itu berarti mengakhiri pertualangan saya
hari ini di Labuan Bajo dan besok harinya adalah waktu yang saya tunggu-tunggu,
yaitu waktunya untuk mengekplore Taman Nasional Komodo (bisa di baca di sini).