#SEEBORNEO

Lindungi Mata dengan Borneo Eyewear

Memakai kacamata di Indonesia khususnya di Kalimantan , selama ini anggapan orang hanya untuk gaya-gayaan saja, khususnya ketika jalan-jalan atau liburan. Namun ternyata kacamata harusnya berfungsi untuk melindungi mata kita dari sengatan sinar UV yang tajam, khususnya yang sering disebut dengan kacamata riben atau yang bekaca gelap, beda dengan kacamata minus ya.
Namun yang pasti bagi para traveller, salah satu aksesoris yang tidak boleh tertinggal ketika bepergian adalah kacamata hitam, walaupun warnanya tidak melulu hitam. Termasuk saya sebenarnya dulu selalu membawa kacamata, namun jarang digunakan dan hanya dipakai untuk bergaya ketika sedang difoto.
di depan borneo orangutan survival foundation
Borneo Eyewear di depan BOS Foundation
Dan ternyata kacamata adalah salah satu printilah travelling yang paling sering hilang, pernah ketika sedang island hoping di Raja Ampat karena keasikan menikmati pemandangan yang aduhai, saya sampai lupa dengan kacamata yang digantung di leher baju, dan ketika menunduk di atas air, bunyi “plung” adalah salam perpisahan dari kacamata tersebut.
Sejak bekerja sebagai travel guide yang mayoritas waktu kerja di luar ruangan, kacamata menjadi salah satu kebutuhan pokok yang harus saya bawa. Baru-baru ini, hasil iseng nyari hastag #borneo di Instagram ( yuk di follow @backpackerborneo yaa) saya menemukan sebuah akun yang bernama @borneoeyewear.
Ello menyususri sungai di Kalimantan
Casing untuk kacamata yang terbuat dari bambu
Hasil kepo di akun tersebut sayapun langsung jatuh cinta dengan kacamata yang terbuat dari kayu yang menjadi produk utama dari Borneo Eyewear tersebut, apalagi setelah mengetahui bahwa kayu-kayu tersebut merupakan kayu berkualitas  yang di ambil dari sisa potongan yang tidak terpakai workshop-workshop seperti dari tempat pembuatan mebel. Kreatif bukan?
Kayu sisa yang terpilih itulah yang kemudian diolah menjadi kacamata, ada tiga bahan kayu yang menjadi bahan dasar pembuatan kacamata ini, yaitu kayu Jati, Sonokeling dan Johar yang memang sudah dikenal sebagai kayu yang tahan lama di Indonesia.
Kacamata kayu dari Borneo Eyewear
Model dari Borneo Eyewear
Setelah dipotong sesuai model, dihaluskan dan dipasang lensa maka kacamata Borneo Eyewear siap untuk mempercantik dan mempertampan pemakainya. Ada 5 model yang sementara tersedia yaitu Hope, Ello, Sura, Cinta dan Yodanka.
Uniknya, penamaan model tersebut ternyata berasal dari nama Orangutan yang sedang dalam proses rehabilitasi di Borneo Orangutan Survival Foundation. Penamaan tersebut bukan tanpa alasan, karena setiap keuntungan dari pembelian kacamata tersebut juga disumbangkan untuk pelestarian Orangutan.
Akhirnya, kini Ello selalu melindungi mata saya dari sengatan matahari Kalimantan yang lumayan menyilaukan. Banyak komentar dari tamu yang saya guiding tentang kerennya kacamata yang saya pakai, rupanya tidak sia-sia meminang kacamata yang terbuat dari kayu tersebut, selain tambah keren juga turun meyumbang untuk rehabilitasi Orangutan.

Borneo Eyewear
Telp: (62) 858 1129 4541
Email: info@borneoeyewear.com
Facebook: Borneo Eyewear
Twitter: @BORNEOeyewear
Instagram: @borneoeyewear
Read more »

Sesaat di Taman Nasional Sebangau

Selama ini, kita cuma mengenal Taman Nasional Tanjung puting sebagai lokasi untuk melihat Orangutan di Kalimantan atau Kalimantan Tengah pada khususnya. Namun tenyata Taman Nasional lain yang selama ini belum dilirik sebagai tujuan wisata Orangutan juga memiliki potensi yang sangat besar.
Taman Nasional Sebangau namanya, hanya berjarak 20 menit perjalanan dari bandara Cilik Riwut Palangkaraya kita sudah  sampai di dermaga Kereng Bangkirai yang menjadi pintu masuk menuju taman Nasional ini. Di sore hari, dermaga Kereng bangkirai selalu ramai oleh warga sekitar yang ingin bersantai, mandi di air hitam hingga menikmati sunset. Diperkirakan sekitar 6.500 hinggal 9.000 populasi Orangutan liar tersebar di wilayah hampir sebesar Jakarta yang di dominasi oleh hutan gambut ini.

Taman Nasional Sebangau
Nipah yang terbakar di sebelah kanan
Walaupun tidak jauh dari rumah, namun baru ini saya berkesempatan untuk mengunjungi tempat ini dalam rangka survey untuk pegembangan eko wisata yang sedang dirintis oleh pihak taman nasional.
Begitu tiba di pusat informasi wisata yang terletas tepat di pelabuhan, kita segera mempersiapan diri untuk memasuki kawasan taman nasional, life jaket dan air mineral sudah siap di dalam longboat yang akan kita pakai menjelajahi keindahan hutan rawa gambut ini.
Longboat berbahan fibreglass melaju pelan di atas air yang berwarna merah kehitamaa seperti teh, sesekali kita harus merunduk ketika melewati “terowongan” nipah. Ya, salah satu sensasi ketika datang ke Taman Nasional Sebangau adalah naik speedboat diantara hutan nipah yang tumbuh mengelompok tak beraturan bak labirin. Bagi saya yang pertama kalinya datang ke sini sudah pasti saya akan lupa di mana saja jalur yang barusan kita lewati, semua terlihat sama.
Dipisahkan oleh sungai berair merah kehitaman.
Di beberapa bagian tampak bekas kebakaran hutan yang terjadi tahun lalu ketika kemarau panjang melanda Kalimantan. Ranger yang mendampingi kami mengatakan bahwa manusialah penyebab utama kebakaran hutan yang terjadi di sini, sebagian olah para pemburu yang lupa mematikan api unggunnya sebagian lagi oleh para nelayan yang memang sengaja membakar untuk membuka jalur bagi ikan, dan apinya menyebar menjadi tak terkendali.
Beberapa saat sebelum memasuki jalur untuk trekking, perbatasan hutan rawa gambut dan hutan nipah mulai terlihat dipisahkan oleh Sungai Koran yang memjadi pembatan kawasan taman nasional. Beberapa monyet tampak santai dan tidak terganggu dengan kehadiran kami, bahkan ada yang sedang saling mencari kutu dengan temannya.
taman nasional sebangau
Peamndangan dari menara pandang
Akhirnya kami tiba di sebuah pondok yang dibangun oleh WWF, namun katanya akan segera diserah terimakan kembali kepada pihak taman nasional karena dari WWF sudah tidak ada kegiatan di daerah ini. Di samping pondok tampak berdiri sebuah menara pandang, walau tidak terlalu tinggi namun cukup untuk memandang keadaan sekelilig, paling pas kayaknya buat liat sunrise dan sunset. Fasilitas juga cukup lengkap di pondok yang bias digunakan untuk menginap para wisatawan ini.
Setelah puas di pondok pos Sungai Koran kita kembali untuk survey jalur trekking, debit air yang tinggi membuat membuat jalur terendam air, kita mencoba untuk masuk menggunakan longboat perlahan-lahan. Ketika semua sedang asik ngobrol tiba-tiba saya melihat seekor ular berwarna hijau sedang bertengger tak jauh dari longboat kami, salah satu teman yang duduk paling depan tampak pucat karena ular itu hanya berjarak sekitar 1 meter darinya. Akhirnya karena trauma ular akhirnya kita sepakat membatalkan masuk di jalur ini.
Ular yang tak jauh dari boat
Karena ada beberapa jalur yang biasa di pakai untuk trekking akhirnya kita mencoba jalur lain, ternyata dari sini kita juga harus terlebih dahulu terjun ke air, namun tidak terlalu jauh berjalan di dalam airnya seperti jalur sebelumnya. Setelah sekitar 50 meter jalan akhirnya kering, walaupun tidak sepenuhnya kering karena sebenarnya banyak pasir yang terkandung di bawah lahan gambut ini. Trekking kitapun hanya sebentar karena memang tidak ada niatan untuk masuk lebih jauh, cuma sekedar tau saja.
Kali kedua saya kembali ke Taman Nasional Sebangau dengan tamu kita menyusuri sungai kecil yang hanya selebar satu setengah meter. Sensai pertualangannya lebih berasa karena kita seperti melalalui terowongan, beberapa kali kita harus merunduk mensejajarkan diri dengan longboat agak tidak terantuk dahan yang rendah.
Trekking di hutan gambut
Menurut kepala balai, kedepannya akan di bangun jembatan kayu untuk memudahkan trekking sehingga wisatawan yang datang tidak harus berjalan di alama air yang kadang mengerikan karena berwarna kehitaman dan kita tidak bias melihat dasarnya. Jalur trekking juga sedang dipersiapkan melewati wilayah yang menjadi habitat orang-utan, camping ground juga akan disiapkan bagi yang ingin bermalam di hutan.
Semoga, kedepannya Taman Nasional Sebangau yang terletak tak jauh dari ibu kota provinsi Kalimantan Tengah menjadi destinasi wisata baru bagi wisatawan minat khusus di Kalimantan.
Happy Responsible Travel.

Read more »

Ada Pantai di Tengah Hutan?

Pantai merupakan sarana pembuang penat yang mujarab bagi kebanyakan orang setelah melakukankan kegiatan yang melelahkan fisik juga pikiran. Banyak hal biasa yang dilakukan bila sudah berada di pantai antara lain berenang bebas ditepian, duduk atau tidur santai di pasiran, atau hanya sekedar berjalan riang di pinggiran.
Adapun alat atau asesoris pantai yang dipakai bisa beragam banyaknya. Mulai dari sandal jepit yang ringan dan nyaman, topi ragam jenis, kaca mata hitam, dan banyak lagi hal penunjang berenang yang terlalu biasa untuk diceritakan. Mau yang anti mainstream? Simak uraian berikut.


Kalimantan Tengah merupakan salah satu provinsi yang memiliki potensi kebaharian yang jauh berbeda dan unik ketimbang provinsi lain di Indonesia. Salah satunya pantai. Pantai identik dengan air asin yang jernih bertepian pasir putih dan karang dengan permandangan lepas biru lautan.
Bila berkunjung ke Palangka Raya, jangan lupa berenang di Back Water Beach, danau Tahai. Walaupun bukan pantai sesungguhnya namun tempat ini menjadi tempat wisata yang anti mainstream dan bisa dibilang extreme.


Bagaimana tidak? Berenang di air tawar yang berwarna cokelat kemerahan bersih dengan dasar batu alam di keadalamannya. Dijamin seger abis sensasi airnya. Kadang para perenang juga harus was-was bisa sudah berada di dalamnya. Sebab keanekaragaman reptil di Kalimantan Tengah beragam banyaknya dan tidak jarang yang liar dan beracun dengan ukuran yang bisa sebesar manusia dewasa. Gimana? Masih merasa pertualang tangguh yang anti mainstream? Coba deh berenang kesini.

Bila dari pusat kota bisa diakses dengan kendaraan bermotor sejauh 35 km atau 45 menit perjalan menuju desa wisata Sei Gohong. Tenang, kota ini masih menjadi salah satu kota bebas macet dan hambatan. Bahkan lampu lalulintas disini masih bisa dihitung banyaknya. Arah jalan menuju desa tersebut mulus beraspal juga menawarkan hamparan hutan yang hijau.
Sesampainya di desa bisa langsung menyewa getek pada warga sekitar dengan tarif Rp 225.000 untuk maksimal 3-4 orang yang akan memakan waktu kurang lebih 30 menit. Gak akan bosen deh karena arah menuju danau akan melewati sungai besar dan terkadang kecil menyempit juga area konservasi orangutan.


Salah satu hewan yang mulai langka dan terancam punah itu direhabilitasi disini setelah diambil dari warga kota sebagai peliharaan untuk dijadikan liar kembali dan dikembang biakan agar populasinya semakin meningkat. Tak jarang juga pengunjung dapat melihat Bekantam dan Hornbill atau burung Enggang yang sudah mulai punah.
Sesampai dilokasi, pengunjung bisa bebas melakukan aksi explor hutan dengan berjalan masuk ke dalam hutan terlebih dahulu. Lalu bila dirasa cukup lelah dan penat, pengunjung bisa kembali ke tepian hutan dan berenang. Direkomendasikan untuk datang pada waktu pagi atau sore hari ke lokasi tersebut dan jangan sendiri karena bareng kawan makin seru.
Guest post by  oleh  @di_diadmojoyo

Happy Responsible Travel!

Read more »

14 Hal Yang Bisa Dilakukan di Kota Palangkaraya

Sebagai kota yang tidak terlalu terkenal sebagai tujuan untuk berlibur, kadang orang-orang masih bingung mau ke mana saja dan hal apa saya yang bisa dilakukan ketika berwisata ke Kota Palangkaraya. Berdasarkan pengalaman sebagai pemandu wisata berikut saya coba untuk memberikan rekomendasi 14 hal yang bisa dilakukan ketika berada di Kota Palangkaraya:
1.       Wisata susur sungai
Ini adalah atraksi utamma yang wajib untuk di lakukan ketika berada di Kota Palangkaraya, ada kapal susur sungai yang berada di dermaga tugu pahlawan yang selalu siap untuk mengantarkan anda untuk menikmati keindahan panorama sungai Kahayan dan Rungan. Kapal wisata milik pemerintah ini berangkan setiap hari selama kurang lebih 3 jam sekali berangkat dengan minimun penumpang 25 orang. Selain itu juga ada kapal milik swasta namun lebih mahal karena pasarnya adalah wisatawan mancanegara, namun semua fasilitas di kapal ini full service, dari penjemputan hingga makan dan kamar tidur yang berada di dalam lambung kapal.
2.       Menikmati Baram 
Baram adalah minuman alkohol tradisional suku Dayak yang terbuat dari fermentasi beras ketan, di beberapa cafe mereka telah mengolahnya menjadi minuman yang tidak memabukan, salah satunya dengan menjadikannya coctail baram  yang harus dicoba karena cuma ada di Kota Palangkaraya. Cafe Cilik Riwut yang memadukan galeri perjuangan pahlawan nasional dari Kalimantan Tengah adalah salah atu tempat untuk mencobanya, selain itu Greenleaf Cafe yang berada di Palma juga menyediakan berbagai olahan dari baram.
3.       Berkunjung ke Musium Balanga

Satu-satunya musium yang ada di Kota Palangkaraya ini adalah tempat yang paling cocok untuk di kunjungi bagi yang ingin mengetahui tentang adat dan budaya Suku Dayak. Dari proses kelahiran hingga upacara kematian di jelaskan dengan menarik dengan benda-benda yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari dipajang dalam kaca dan tampilan yang menarik, di lantai dua bahkan ada miniatur dari rumah betang dan rumah yang biasa digunakan ketika tinggal di ladang selama berbulan-bulan oleh suku Dayak.
4.       Aburetum Nyaru Menteng
Di sinilah Orangutan yang telah menjadi korban dari lajunya deforestasi kembali di rehabilitasi untuk kembali ke alam liar, di sini bawah yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation mereka di ajarkan kembali bagaimana menjadi Orangutan yang seutuhnya, bagaimana cara naik pohon, membuat sarang hingga mengenali predator yang ada di di sekitarnya. Namun pengunjung hanya diperbolehkan untuk masuk ke pusat informasi dan hanya melihat mereka di kandang besar dari balik kaca, di pusat informasi ini kita juga diputarkan video ketika pelepasliaran dan film pendek tentang orangutan yang menjadi peliharaan hingga kembali ke hutan. Pusat  infomasi ini hanya buka pada hari sabtu dan minggu, diluar itu bagi yang ingin berkunjung harus mengurus di BKSDA setempat.
5.       Bersantai di Danau Tahai

Tak jauh dari dari Aburetum Nyaru Menteng ada sebuah danau berair hitam yang telah dibangun di atasnya jembatan kayu yang pas untuk foto-foto, juga tersedia beberapa tempat untuk bersantai santai menikmati panorama sekeliling yang masih dikelilingi oleh hutan gambut. Bagi yang ingin mencoba aktifitas lain juga ada bebek-bebekan yang tinggal dikayuh untuk berkeliling danau.
6.       Mendaki Bukit Tangkiling
 
Diperlukan waktu sekitar 45 menit untuk mencapai puncak bukit ini, setiba dipucak panorama hijaunya hutan Kalimantan berhiaskan sungai yang meliuk-liuk adalah bonus yang bisa kita nikmati. Waktu terbaik untuk mendaki bukit yang berupa batu-batu ini adalah di pagi hari ketika kabut tipis masih menutupi daerah sekitarnya sehingga kita tampak seperti berada di atas awan, atau di sore hari ketika matahari kembali ke peraduannya, sunset di Bukit Tangkiling adalah salah satu sunset terindah yang bisa dinikmati.
7.       Main seluncuran di Sungai Berbatu
Turun dari Bukit Tangkiling anda bisa menuju desa Sei Gohong yang berada di bawah bukit, desa ini dibelah oleh sebuah sungai yang airnya berwarna merah kehitaman. Ada bagian yang berbatu dan berlumut sehingga pas untuk berseluncur dan berendam untuk menghilangkan lelah setelah mendaki bukit.
8.       Camping di Danau Tahai’i

Walaupun namanya mirip dengan danau tahai sebelomnya, namun yang satu ini sama sekali berbeda dengan yang sebelumnya, untuk meuju ke sana kita terlebih dahulu melalui labirin sungai kecil dengan pepohonan yang masih rapat. Pasir putih yang menghampar merupakan tempat yang pas untuk mendirikan tenda dan danaunya yang tidak terlau luas namun berair bersih sangat menyegarkan untuk berenang. Lebih lanjut tentang Danau tahai’i bisa dibaca di sini (Link).
9.       Berkeliling Pulau Kaja
Pulau kaja adalah pulau pra pelepasliaran Orangutan yang telah lulus “Sekolah Hutan” di pusat rehabilitasi BOSF, di sinilah mereka untuk pertama kalinya dengan bebas bergelayut dari satu pohon ke pohon lainya. Walau begitu, mereka masih di beri makan setiap harinya karena persediaan buah-buahan yang terbatas di pulau ini. Karena Pulau ini bukan tempat wisata, jadi ada beberapa peraturan yang harus di patuhi oleh pengunjung seperti dilarang untuk naik ke pulau dan berinteraksi dengan Orangutan,menjaga jarak maksimal 10 meter serta dilarang mengambil foto Orangutan dengan camera profesional. Pulau Kaja hanya boleh di kunjungi pada hari Sabtu, Minggu, Selasa dan Kamis
10.   Memetik Nanas langsung di kebunnya


Kalau di Malang ada wisata kebun apel, di Palangkaraya juga ada kebun nanas yang bisa menjadi alternatif untuk berwisata. Bukan cuma melihat-lihat, kita juga langsung dijelaskan oleh pemiliknya langsung tentang bagaimana perkebunan seluas 3 hektar tersebut di kembangkan olehnya, tentang beberapa jenis nanas yang di taman serta memetik sendiri dan memakan buahnya yang manis dan segar. Perkebunan nanas ini berada sekitar 10 kilometer dari bukit Tangkiling.
11.   Melihat Tarian Dayak
 
Waktu terbaik untuk melihat berbagai macam tarian Suku Dayak yang mempesona adalah ketika Festival Budaya Isen Mulang yang biasanya dilaksanakan setial bulan Mei. Namul diluar itu juga bisa dengan memesan langsung tarian dari sanggarnya yang khusus performance untuk kita.
12.   Bersantai di Taman Kota
 
Ada dua taman yang bisa dijadikan alternatif untuk bersantai dan bergaul di Palangkaraya. Yang pertama adalah taman kota yang terletak di dekat kantor gubernur, taman ini bisanya rame ketika sore dan malam hari. Relief perjuangan bangsa Indonesia dari jaman penjajahan hingga jaman kemerdekaan menghiasi temboknya, di bagian tengah, tirai air membelah taman menjadi dua bagian. Yang kedua adalah taman Tugu Sukarno, di sebut Tugu Sukarno karena di sinilah pertama kalinya dipancangkan pembangunan Kota Palangkaraya oleh presiden pertama republik Indonesia dan disiapkan sebagai ibukota negara.
13.   Menikmati Sunset dari tepi Sungai Kahayan
Setiap sore, di tiga pelabuhan sungai utama yang ada di Kota Palangkaraya selalu di penuhi oleh masyarakat baik itu untuk sekedar bersantai ataupun memancing, tak lupa pula para penjaja makanan yang datang untuk menawarkan dagangannya kepada para warga yang haus atau sekedar pengen menikmati gorengan sambil menatap sunset. Tiga pelabuhan yang biasanya menjadi tongkrongan adalah Pelabuhan Tugu Sukarno, Pelabuhan Flamboyan dan Pelabuhan Rambang.
14.   Trekking di Taman Nasional Sebangau

Taman nasional ini memang kalah terkenal dengan tetangganya Taman Nasional Tanjung Puting, namun ternyata di sini ada sekitar 6500 Orangutan liar yang tersebar di area hutan rawa gambut yang mendominasi kawasan ini. Menurut petugas di Taman Nasional sangat mudah untuk bertemu dengan Orangutan ketika sedang trekking atau menyusuri sungai dengan kelotok, terkadang mereka hanya bergelantungan di atas pohon di tepi sungai. Keunikan lainnya adalah hutan nipahnya yang cukup luas dan berliku-liku, menyusuri tempat ini dengan longboat atau kelotok adalah salah satu sensasi tersendiri yang tidak bisa didapatkan di tempat lain.
Demikian 14 hal yang bisa dilakukan ketika berwisata di Kota Palangkaraya menurut Backpacker Borneo, ada yang mau menambahkan? 
Tulisan ini dipersembahkan untuk posting bareng dari komunitas Travel Blogger Indonesia dalam rangka #14on14, silahkan di simak tulisan lainya di sini:
·         Astin Soekanto  |  Makna Filosofis 14 Motif Tenun dari Nusa Tenggara
·         Danang Saparudin | 14 hal manis dan murah di Inggris
·         Danan Wahyu | 14 alasan mengunjungi Kerinci
·         Arie Okta | 14 Ragam Wisata Tanah Kelahiran
·         Albert Ghana | 14 Objek Wisata Menarik di Kalimantan Barat
·         Lenny | 14 travel selfie around USA
·         Tekno Bolang | 14 Senja yang Bikin Kamu Galau
·         Fahmi Anhar | 14 Tempat Wisata Menarik di Dubai
·         Wisnu Yuwandono | 14 Foto Romantis di Sekitar Kepulauan Komodo
·         Yofangga | 14 film inspirasi perjalanan
·         Teguh Nugroho | 14 Hal yang Harus Kamu Tahu Tentang Semarang
·         Dea Sihotang | 14 Things to do in Paris
·         Indri Juwono | 14 tindak tanduk asyik di wae rebo!
·         Parahita Satiti | 14 tempat cantik untuk Natarajasana
·         Titiw Akmar | 14 Lagu Momen untuk Traveling
·         Bobby Ertanto | 14 SEO Basic Travel Blogging ala Virus Traveling
·         Adlien | 14 Alasan kenapa harus Traveling Saat Muda
·         Rembulan Indira | 14 Places I want to Share with my Loved One
·         Rembulan Indira | 14 Places I want to Share with my Loved One
·         Wira Nurmansyah | 14 Tips Simpel agar Komposisi Foto makin Kece
·         Olive Bendon | 14 Langkah Menikmati Perjalanan Tak Biasa

Happy ResponsibleTravel!

Read more »

[Foto] Lautan Manusia di Lautan Pasir

Gradasi Bromo di pagi hari
Gunung Bromo, bisa dibilang salah satu destinasi paling populer di Indonesia. Baik wisatawan lokal maupun mancanegara sudah menjadikan tempat ini salah satu tempat yang harus dikujungi ketika menginjak Pulau Jawa, hampir tak ada musim sepi pengunjung di kawasan Gunung Bromo, dari musim hujan yang menghijau sampai musim kemarau yang menguning.

Apalagi jika berkunjung ketika weekend atau pas musim liburan, untuk menaiki tanggapun kita harus antri. Tapi dengan antri sebenarnya lumayan untuk bisa istirahat, sambil menark nafas yang sudah mulai ngos-ngosan.

Berikut sedikit foto yang diambil ketika weekend di kawasan padang pasir Gunung Bromo:

Gunung Batok diambil dari lereng Kawah Bromo.
Pengunjung yang naik ke Kawah Bromo.
Antrian tangga menuju kawah.
Telihat badai pasir di kejauhan, memakai masker sangat di sarankan.
Yang kecil-kecil di kejauhan sana adalaha manusia loh.
Jeep adalah satu-satunya kendaraan roda 4 yang bisa masuk ke kawasan Gunung Bromo.
Happy Responsible Travel!

Read more »

Sensasi Labirin Pepohonan Menuju Dahau Tahai'i

Maafkan daku wahai backpakpackerborneo.com, ternyata bulan kemaren tak ada satupun tulisan yang di posting di sini. Tahun berganti dan dalam beberapa minggu kedepan masih akan sering salah nulis angka 5 menjadi angka 4 untuk penulisan tahun.
Kali ini saya mau memperkenalkan sebuah destinasi yang nampaknya masih belum banyak di ketahui di Kota Palangkaraya. Yaitu sebuah danua kecil dengan air yang berwarna kemerahan seperti teh.

Menuju danau Tahai'i
Perjalanan menuju danau 
Namanya Dahau Tahai’i, namun jangan salah, danau ini berbeda dengan Danau Tahai yang berada di wilayah Nyaru Menteng. Danau yang saya maksud ini berada tak jauh dari Desa Sei Gohong. Untuk menuju danau ini masih belum ada jalan darat, kita harus menggunakan kelotok alias perahu mesin kecil.
Namun di sinilah keunikannya, sebelum sampai ke danau, kita akan melewati sungai-sungai kecil yang masih dikelilingi oleh pohon yang masih asri. Terkadang kita harus merunduk karena ranting pohon yang tak jauh dari kepala kita. Untuk lebih menyatu dengan alam, kita bisa mematikan mesin kelotok dan mendayung. Hanya suara alam yang terdengar dan ciauan burung yang akan menemani perjalanan di sini, benar-benar kembali ke alam. 

Mendayung sambil menikmati pemandangan
Kembali ke alam
Dan yang membuat saya merasa surprise, waktu kedua kalinya ke tempat ini di pagi hari, ada beberapa kelompok Bekantan atau yang sering disebut moyet belanda karena hidungnya yang mancung. Begitu mendengar suara manusia, mereka langsung berhamburan untuk bersembunyi diantara pepohonan. Ya, binatang ini sebenarnya memang pemalu dan tertu saja mereka masih sangat liar.
Sesampainya di Danau Tahai’I yang tidak terlalu besar, sayapun tak sabar untuk segera menceburkan diri di segarnya air yang berwarna kemerahan, sungguh segar. Sebenarnya tempat ini terlalu kecil untuk disebut sebagai danau karena hanya tidak terlalu luas, namun kalau disebut sungai juga terasa kurang pas.
Pasir dan air yang berwarna kemerahan
Kelotok untuk ke danau
Air yang berwarna merah kehitaman
Air danau yang berwarna kemerahan 
Wilayah kota Palangkaraya hampir semuanya merupakan daerah rawa gambut yang berair, apabila dikeringkan maka akan menjadi padang pasir. Akar pepohonan yang telah menyesuaikan diri membuat warna air manjadi berwarna kemerahan, di bagian air yang dalam akan terlihat seperti berwarna hitam sehingga ada juga yang menyebut air di wilayah Palangkaraya berwarna hitam.
Tanah lapang yang membentuk seperti pantai membuat danau ini saya sebut sebagai tempat untuk camping yang paling pas, hamparan pasir yang dulunya digunakan sebagai ladang dan kabun karet yang gagal sungguh cocok untuk mendirikan tenda.
Tempat yang pas buat camping
Tempat yang pas buat camping
Aktifitas yang utama bisa dilakukan di sini adalah berenang dan mandi, kalau mau berjemur juga boleh, namun matahari di Palangkaraya lumayan menyengat kulit, selain itu mendayung diantara labirin pepohonan juga mengasyikan. Namun diharapkan untuk ditemani dengan orang yang sudah mengenal tempat ini karena jalur yang tampak membingungkan dan terlihat sama.
Ada yang mau ikutan camping bareng di sini?  Yuk datang ke Palangkaraya!


Happy Responsible Travel!


Read more »

Berpetualang dengan Rakit Bambu di Loksado

Air sungai dan air terjun yang jernih, Suku Dayak dan serunya menaiki rakit bambu merupakan hal yang bisa dinikmati di Loksado. Sebuah kecamatan kecil di kaki Pegunungan Meratus menawarkan begitu banyak pesona keindahan alam bagi para pencinta traveling. Berikut adalah catatan perjalanan dan waktu yang dibuat oleh Indra Setiawan jika penerbangan berasal dari Jakarta.

Serunya bamboo rafting
Hari Pertama
Untuk menuju Loksado, Begitu mendarat dengan Citilink dari Jakarta pukul 15.20 di Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin, kita bisa langsung menggunakan jasa ojek menuju jalan utama untuk menunggu Angkot L300 (sebutan bagi taksi di Banjarmasin) menuju Kota Kandangan yang biasanya tersedia hingga larut malam.
Perjalanan airport-Kandangan akan memakan waktu 4 jam, sesampai di terminal kota kita bisa turun untuk berganti angkutan dan melanjutkan perjalanan menuju Desa Loksado. Catatan sedikit karena angkot tidak tersedia sejak sore, maka alternatifuntuk melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojek atau menyewa mobil (travel dengan rombongan).
Kota Kandangan-Loksado dapat ditempuh sekitar 45 menit melalui jalan yang berliku dan berbukit.Ada beberapa pilihan untuk menginap di Loksado, dari yang termurah di Homestay atau pondok informasi, wisma, hotel, cottage ataupun resort tergantung dengan budget yang anda miliki. Yang pastinya ada harga ada kualitas.
Mengupas kulit kayu manis
Hari Kedua
Bangun pagi dan siapkan diri kita untuk mencoba Balanting Paring atau Bamboo Raftin. Menyusuri sungai dengan rakit bamboo bersama joki yang sudah berpengalaman mengarungi sungai, bisa dibilang cukup aman. Selain akan merasakan sensasi riam jeram sungai Amandit, kita juga bisa menyimak aktifitas suku Dayak Meratus yang akan kita temui dibagian tengah dari perjalanan arung sungai ini.
Rute pendek bamboo rafting sekitar 2-3 jam, satu rakit bamboo bisa untuk menampung 3 orang penumpang beserta seorang joki. Perjalanan dengan rakit bambu akan berakhir di Desa Tanuhi yang memiliki sumber air panas. Walaupun tidak memiliki gunung merapi, namun di Kalimantan bisa kita temui beberapa sumber air panas yang berasal dari gas bumi. Kita bisa berendam sejenak untuk mengurangi kepenatan dan ketegangan setelah berjibaku dengan riam  Sungai Amandit. Untuk kembali ke Desa Loksado tempat menginap dari Desa Tanuhi, kita bisa menunggu angkot yang tak menentu waktunya, atau jika ingin cepat ojek motor tentu lebih mudah ditemukan.
Sesampai di Loksado, jika anda merasa masih ingin meneruskan petualangan sebagai pelancong sejati, Malaris, desa yang berjarak sekitar 30 menit berjalan kaki dari Desa Loksado bisa jadi pilihan yang sangat menarik. Di Malaris terdapat sebuah balai adat yang berbentuk rumah panjang yang biasanya digunakan untuk upacara adat seperti Aruh Ganal, upacara syukuran sehabis masa panen yang biasanya dilakukan tiga kali dalam setahun. Tidak jauh dari Desa Malaris ada sebuah air terjun yang bernama air terjun Kilat Api, walaupun tidak terlalu tinggi namun dengan kolamnya yang lebar dan tidak terlalu dalam kita bisa mandi sambil menikmati segarnya air yang berasal dari pegunungan.
Aktifitas lainnya yang sangat rekomendasi adalahmelihat proses bagaimana masyarakat mengolah kayu manis dari ketika masih berbentuk pohon hingga diolah menjadi sirup, atau bagi yang ingin souvenir khas Dayak, bisa membuat Gelang yang terbuat dari tumbuhan khas hutan hutan Meratus yang langsung dijalin ke tangan atau kaki anda.
Untuk para petualangan yang memiliki hobi fotografi, memotret para wanita yang sedang membuat tas atau kerajinan dari rotan pasti menarik! Memperhatikan bagaimana lincahnya tangan mereka, merubah selembar rotan atau kulit bambu hingga menjadi tas yang artistik yang biasa digunakan oleh masyarakat Dayak Meratus untuk pergi ke hutan.
Jika masih memiliki tenaga lebih, sore hari kita bisa mencoba untuk bermain tubing dijamin akan menyenangkan! Tubing istilah dari bermain air dengan menggunakan ban dalam mobil sambil menyusuri sungai di desa Loksado.
Jembatan gantung di Loksado
 Hari Ketiga
Ada baiknya kita check dulu waktu keberangkatan kita, perjalanan , menuju airport akan diperkirakan akan mengambil waktu 6 jam dengan pertimbangan jalan santai. Jika penerbangan pulang anda adalah ke Jakarta maka maksimal kita harus segera bertolak kembali ke Banjar Baru pada pukul 7:30 WITA pagi. Tetapi jika penerbangan anda masih diatas pukul 5 sore, alternatif untuk mampir ke air terjun Haratai bisa jadi jangan dilewatkan. 
Haratai, air terjun dengan ketinggian 20 meter bisa dicapai dengan kendaraan roda dua (ojek). Perjalanan menggunakan ojek hanya sekitar 30 menit.
Untuk kembali ke Banjarmasin, rute yang digunakan juga sama seperti berangkat sebelumnya.Pagi hari persedian angkutan umum sudah lumayan banyak. Jika masih ada waktu dan sudah sampai di Kandangan, jangan lupa untuk mencoba makanan khas yakni Ketupat Kandangan.
Bagi yang mempunyai waktu yang lebih lama, masih ada banyak destinasi yang bisa untuk dikunjungi di Kalimantan Selatan seperti Pasar Terapung, silahkan kunjungi backpackerborneo.com untuk referensi lebih jauh.

Rincian Pengeluaran:
Ojek Bandara – Jalan utama: Rp. 5.000 – 10.000
Angkot (L300) Banjarmasin - Kandangan: Rp. 30.000
Angkot Kandangan – Loksado: Rp. 15.000
Ojek Kandangan -  Loksado: Rp. 50.000 – 75.000
Bamboo Rafting: Rp. 250.000
Gelang simpai: Rp. 10.000
Ojek Desa Loksado – Air Terjun Haratai: Rp. 60.000

Pilihan Penginapan:
Camp AAL: Rp. 50.000
Wisma Alya: Rp. 150.000
Wisma Loksado: Rp. 250.000
Meratus Resort: Rp. 300.000

Tulisan ini dipublikasikan dalam Majalah LINKERS, in flight magazine maskapai Citilink pada bulan Juli 2014. Silahkan klik di sini (Link) untuk membaca langsung di e-majalahnya.

Happy Responsible Travel!


Read more »

Menikmati Waktu Libur di Rungan Sari Resort Palangkaraya

Traveling itu tidak harus jauh-jauh ke luar kota, keliling kota atau sekedar leyeh-leyeh di suatu tempat  juga sudah bisa dibilang traveling. Weekend kali ini saya cuma pengen bersantai setelah seminggu jalan-jalan (kerja) bersama tamu keliling sungai di Kota Palangkaraya.
Dan yang menjadi tempat untuk bersantai kali ini adalah Rungan Sari Resort yang bisa di jangkau sekitar 45 menit dari Pusat Kota Palangkaraya. Lokasi resort ini memang sangat strategis, berada tidak jauh beberapa lokasi yang bisa di kunjung di sekitar Kota Palangkaraya seperti Bukit Tangkiling, Batu Banama, Pulau Kaja, Pusat Informasi BOS, dll.

Bangunan Rungan Sari Resort
Setelah selesai job di sabtu pagi, saya segera meluncur dengan motor kesayangan menuju Rungan Sari Resort. Pepohonan rindang yang meneduhkan menyambut kedatangan saya, setelah memarkir motor sayapun langsung menuju resepsionis untuk check in di kamar yang telah dibooking sehari sebelumnya.
Staf yang ramah dan penuh kehangatan membuat kedatangan saya di sini serasa kembali ke rumah sendiri, seorang staf yang mengantarkan ke kamar menunjukan letak kolam renang yang memang sudah saya incar sebelumnya.
Namun karena matahari masih bersinar terik akhirnya saya putuskan untuk beristirahat terlebih dahulu, kasur queen size yang empuk dan interior kamar setara dengan hotel bintang 3, toilet dan kamar mandi yang modern memang betul-betul tempat yang cocok untuk melepas penat setelah satu minggu full menghadapi pekerjaan.
Front Office
Kamar tempat saya tinggal :-)
Rungan Sari Resort yang berdiri sejak tahun 2002 ini merupakan resort pertama dan satu-satunya di Palangkaraya. Fasilitas lain yang bisa dipakai oleh tamu yang menginap di sini adalah sebuah kolam renang dan lapangan tenis, namun karena bermain tenis memerlukan skill dan kealian khusus maka saya lewatkan yang satu ini. Ada juga 3 ruangan meeting center yang biasa digunakan oleh perusahaan maupun instansi yang berada di sekitar kota palangkaraya.
Restoran yang terletak tepat di samping kolam renang mempermudah para tamu yang kelelahan setelah berenang dan memerlukan minuman, tinggal pesan maka langsung di antarkan ke meja-meja santai yang terletak di samping kolam. Selain saya, juga ada sepasang suami istri dan rombongan keluarga yang nampaknya sengaja datang ke sini hanya untuk menikmati kolam renang. Maklum saja, di kota Palangkaraya tidak ada kolam renang umum yang bagus selain di hotal dan resort seperti ini.
Kolam Renang
Restoran, buka dari pagi sampai jam 9 malam
Menu yang di tawarkan oleh Restoran Rungan Sari Resort yang terbuka untuk umum juga bermacam-macam, dari sekedar makanan pembuka sampai makanan berat dan penutup dengan berbagai macam syle masakan. Di pagi hari, sarapan gratis juga tersedia bagi para tamu yang menginap di sini. Kicauan burung yang terbang dengan bebas menemani sambil menikmati sarapan.
Pagi saya habiskan dengan berjalan-jalan di sekitar resort yang dinaungi oleh pohon jambu mente sambil mengirup udara pagi yang terbebas dari kabut asap yang melanda Kaliantan selama hampir 3 bulan. Sebenarnya disediakan juga sepeda bagi para tamu yang ingin berjalan-jalan, namun karena sammpil mengambil foto akhirnya saya memutuskan untuk berjalan kaki saja.
Ruangan buat meeting
Ini khusus buat bos yang meeting
Seperti layaknya sebuah resort, bungalow yang memiliki 4 buah kamar di setiap bangunannya dihubungkan oleh koridor untuk melindungi para tamu dari panas dan hujan, total ada 24 kamar double dan twin yang tersedia di sini. Wifi juga tersedia gratis di sekitar lobby dan restoran.
Satu malam terasa begitu singkat di sini, waktu seakan cepat berlalu tanpa terasa di dalam ketenangan dan kedamaian yang dipersembahkan oleh Rungan Sari Resort.  Namun life must go on, masih ada perkerjaan yang menunggu di rumah, yaitu pompa air yang bermasalah, alamat gak bisa mandi nih.

Rungan Sari Resort
Jl. Tjilik Riwut Km. 36 Sei Gohong
Palangka Raya, Kalimantan tengah 73225
Telepon: +62 811 520 8801
Twitter: @RunganSari_RSR

Read more »