About Me

Backpacker Borneo adalah sebuah blog yang berisi coretan seorang yang ingin mengelilingi Indonesia sebagai seorang Backpacker yang mencintai tanah air Indonesia. Beralih nama dari sebelumnya Ransel Naraituh menjadi Backpacker Borneo karena selama ini setelah browsing di Seach Engine dengan kata kunci “Borneo” ternyata yang pertama muncul selalu negara tetangga yang hanya memiliki sebagian kecil dari tanah Borneo, sedangkan Indonesia sendiri yang memiliki sebagian besar dari pulau ini. Selain itu potensi Kalimantan masih banyak yang belum diperhatikan oleh kita sebagai warga negara Indonesia itu sendiri, sebagai seorang backpacker tentunya potensi wisata di Kalimantan dapat menjadi tujuan yang lengkap....,read more

Selasa, 29 Mei 2012

Tips dan Itenerary Backpacking ke Wakatobi


Sebutan Surga di Atas dan Surga di Bawah kata Trinity,Naked Traveler ternyata memang real adanya. Banyak orang yang punya mimpi untuk dapat menikmatinya, namun sayangnya jalan yang panjang dan biaya yang tidak sedikit harus ditempuh untuk menuju Wakatobi, Salah satu Kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara tersebut. So, di sini saya ingin berbagi sedikit pengalaman bagi teman-teman yang mau backpackeran ke Wakatobi.
Pulau Hoga
Dari manapun kita, pertama-tama harus menuju Kota Makassar terlebih dahulu kemudian ada beberapa pilihan menuju Wakatobi.
  • Pertama, dari Makassar naik Pesawat menuju kota Kendari, lalu dilanjutkan naik pesawat kecil ke Wanci di Pulau Wangi-Wangi.
  • Kedua, dari Makassar naik pesawat menuju Kota Bau-Bau, lalu dilanjutka dengan naik kapal penumpang menuju Wanci, Keledupa, Tomia atau Binongko. Untuk maskapai yang melayani Rute Makassar-Kendari/Bau-Bau ada Merpati Air, Lion Air dan Express Air. Untuk Merpati dan Lion Air bisa dilihat dan dibeli via Internet sedangkan Express Air tidak ada jalur Onlinenya. Tarif sekali terbang dari Rp. 300.000-700.000 tergantung rezeki waktu membeli..:-)
  •  Ketiga, dari Makassar naik Kapal Laut menuju Bau-Bau baru dilanjutkan ke Pulau-pulau di Wakatobi, untuk jadwal kapal Pelni bisa dilihat di Web Resmi Pelni (www.pelni.co.id), jadwal disini lumayan bisa dipercaya, untuk memastikan jamnya bisa ditelpon call centre yang ada. Sedangkan kapal penumpang menuju pulau Wangi-wangi, Keledupa, Tomia dan Binongko setiap malam pukul 9 dari Bau-bau.
Pastinya bagi backpacker seperti kita lebih memilih opsi yang termurah, dan untuk transportasi antar pulau di WaKaToBi dilayani oleh kapal-kapal penunmpang kecil yang lumayan berasa ketika laut sedang berombak. Sesuai pengalaman saya kemaren dari Bau-Bau ke Wanci tarif Kapalnya Rp. 103.000 kemudian dari Wanci ke Tomia Rp. 80.000 karena saya langsung menuju yang terjauh. Sedangkan antar pulau seperti dari Wanci – Keledupa- Tomia – Binongko antar pulau masing-masing Rp. 50.000.


Itenerary :
Berikut Rancangan Itenerary seperti yang kemaren yang sempat saya jalani ketika ke Wakatobi.
Day 1
Kota Asal – Makassar = Ambil penerbangan pagi
Makassar – Bau-Bau = Naik Merpati Air/Lion Air/Express Air sekitar pukul 11 dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.
Ada waktu beberapa jam di Bau-bau bisa disempatkan jalan ke Air Terjun Tirta Rimba atau Goa Lakasa Atau Pantai Nirwana / Benteng Keraton.
Malam sekitar Pukul 8 menuju pelabuhan, kapal menuju Tomia ada 2 hari sekali, jadi kalau ingin Langsung Menuju Tomia (Rp. 130.000)  atau Keledupa kalau kebetulan tidak ada kapal bisa terlebih dahulu naik kapal ke Wanci (RP. 103.000).

Day 2
Tiba Di Pulau Tomia.
Kapal Langsung Tomia tiba sekitar pukul 9-10. Kalau Naik kapal Wanci sampai pagi pukul 6-7 baru dilanjutkan naik ojek ke pelabuhan Mona dan cari kapal ke  Keledupa (Rp.50.000) atau Tomia (Rp. 80.000).
Bisa dilanjutkan istirahat dulu atau langsung explore daratan Tomia, ke Benteng atau ke Puncak Kahiangan tempat syuting Film Mirror Never Lies.

Day 2
Diving atau Snorkling trip di Tomia. Bagi yang mau Diving bisa menghubungi Pak Ade (081234767854 / 085341300675). Untuk penginapan di Tomia ada Hotel Adijaya ( sekitar 150.000-250.000), atau Homestay bisa minta bantu carikan dengan Pak Ade. 

Day 3
Pukul 8 pagi kapal berangkat ke Pulau Keledupa (Rp.50.000) kurang lebih 3-4 jam, turun di pelabuhan…., Kapalnya tidak merapat di Pelabuhan tapi naik kapal kecil ke pelabuhannya (Rp. 10.000). kemudian naik ojek ke Pelabuhan penyebrangan ke Pulau Hoga atau bisa langsung menghubungi Pak Jufri (085395303993) dari Hoga untuk menjemput di pelabuhan, sekali berangkat Keledupa-Hoga (Rp. 50.000). Dan sore harinya bisa snorkeling di sekitar dermaga Pulau Hoga.

Day 4
Diving / snorkeling di sekitar pulau Hoga atau sekedar leyeh-leyeh di pantai berpasir Putih. Untuk diving bisa menghubungi dive master Pak Jufri di atas tadi. Sekali diving tarifnya Rp. 350.000 untuk yang sudah punya sertifikat. Sedangkan penginapan di Hoga tidak ada, hanya ada pondokan-pondokan masyarakat yang memang khusus disewakan seperti Bungalow per orang Rp. 50.000. untuk mahal lumayan mahal yaitu Rp. 40.000 sekali makan, jadi biar hemar bisa bawa mie instan atau Roti dari Pulau Utama. Listrik hanya menyala dari pukul 5 sore sampai pukul 11 malam.

Day 5
Kembali ke Keledupa dan bisa lanjut ke Pulau Wanci (Rp. 50.000) atau langsung balik ke Bau-Bau (Rp.100.000) sampai di Bau-bau pukul 8-9 malam.

Day 6
Explore Bau-bau lagi tergnatung penerbangan kembali ke Makassar yang biasanya sore hari dan kota Asal masing-masing.

Kapal dari Tomi ke Wanci
Tips Tambahan:
-          Bergaullah dengan masyarakat,  karena orang Wakatobi baik-baik siapa tau diajak nginap gratis di rumahnya seperti saya kemaren bahkan diajak naik perahu untuk snorkeling dan pastinya Gratis juga cuy..
-          Bawa Losion Anti Nyamuk karena di Pulau Hoga banyak nyamuk kalau musim Hujan. Atau pilih pondokan yang di tepi laut.
-          Bulan 6-8 adalah bulan-bulan datangnya siswa dan mahasiswa dari luar negeri yang penelitian di Pulau Hoga, biasanya semua pondokan sejumlah 143 penuh semua. Jadi usahakan hindari bulan-bulan tersebut atau bisa dihubungi orang di Pulau Hoga untuk memastikan.
-          Jangan lupa untuk memastikan jadwal kapal karena sering berubah-ubah biar tidak ketinggalan.
Lanjutkan Baca - Tips dan Itenerary Backpacking ke Wakatobi

Penantian indah di Labuan Bajo


Cerita sebelumnya menuju Labuan Bajo bisa dibaca di sini.
Karena belum ngantuk akhirnya saya memutuskan untuk jalan-jalan barang sebentar. Malam di Labuan Bajo tak seramai kota wisata lainnya seperti Bali ataupun Jogja, di jalan ... yang hanya satu arah tak tampak banyak kendaraan yang lewat, walaupun masih baru sekitar pukul 8 malam, sayapun hanya berjalan sebentar kemudian balik lagi dan duduk di atas trotoar disamping seorang bapak yang sedang asyik berbicara di telpon. Ternyata bapak ini juga baru datang dari arah timur, dia sedang menjemput tamu di Labuan Bajo yang akan berkeliling di Flores. Kalau tau mendingan ikut saya, lumayan ada teman buat ngobrol di jalan. Katanya...yah bapak, coba kita kenal lebih dulu lumayan kan gratis ke Labuan Bajo...hee
Pak Leo juga bercerita kalau sebenarnya Labuan Bajo masih belum siap sebagai kota wisata, dari segi infrastruktur jalannya masih banyak yang rusak dan yang paling susah adalah air. Rata-rata air dirumah penduduk masih berasa payau, begitu juga dengan air di penginapan, entah bagaimana dengan hotel-hotel mewah di sana karena belum pernah juga nginap di hotel yang harganya mahal tersebut. Pak Leo pun memilih menginap di penginapan karena cuma pengen mandi sampai puas, kadang kalau cuma tidur di mobil beliau bawa air galon buat mandi, mahal banget kan..
Pelabuhan Labuan Bajo
Tak terasa mata sudah mulai ngantuk, sebelum berpisah beliau menyarankan untuk mencari seseorang di Pusat Informasi kali aja bisa bantu untuk ke Pulau Komodo yang harganya tak murah itu. Untungnya saya selalu membawa losion anti nyamuk sehingga bisa tidur dengan bijak malam itu.
Pagi harinya setelah sarapan dengan membeli nasi bungkus yang di jual seorang ibu yang lewat saya berjalan-jalan ke pelabuhan Fery, dari sini saya bisa melihat banyaknya kapal-kapal yang sedang berlabuh di teluk, di ujung saya juga bisa memperhatikan kesibukan di dermaga pasar termpat para nelayan membawa hasil tangkapannya. Setelah itu saya melanjutkan perjalanan ke arah barat ternyata di bagian ujung jalan di depan pasar ada seperti gazebo yang bisa dipakai untuk beristirahat sambil menikmati pemandangan laut biru dengan berbagai macam kapal yang ada.
Setelah itu sayapun menuju pasar ikan untuk melihat-lihat kehidupan masyarakan sana, dan saya bertemu dengan dua orang yang sedang asik foto-foto dan ternyata mereka sudah beberapa hari di Labuan Bajo dan belum ke Pulau komodo karena uangnya belum cukup, saya pun mengajak mereka bareng sambil mencari tambahan orang biar biaya sewa kapal lebih murah, namun sayangnya mereka besok sudah harus meninggalkan Labuan Bajo karena tiket sudah terbeli. Di pasar saya sambil mencari tau tentang public boat yang akan menuju Pulau Komodo, namun masih belum bisa mendapatkannya. Mungkin masih kurang pagi sehingga besok harinya saya berencana untuk kembali ke pasar ini lebih pagi.
Ikan kering di pasar
Setelah itu saya pun kembali menyusuri jalan namun dengan arah sebaliknya, di sebelah kiri jalan tampak hotel-hotel sedangkan di sebelah kanan banyak berjejer dive centre yang siap mengantarkan wisatawan yang ingin Diving, Snorkling, Trekking di Pulau Komodo sampai Overland trip di Flores. Saya pun mencari seseorang yang dimaksud pak Leo tadi namun sayangnya dia sore hari baru ada di tempat, di dive centre lain saya coba-coba tanya harga ternyata paling murah sekitar Rp. 500.000 itupun Cuma satu hari dan harus mencari teman untuk sharing cost kecuali mampu untuk menyewa kapal sendiri, sedangkan yang satu malam atau dua malam harganya lebih mahal lagi lebih dari satu juta. Kayaknya Pulau Komodo semakin jauh bagi backpacker kere seperti saya.
Sayapun melanjutkan perjalanan dan kayaknya dari jalan yang di atas pemandangan yang bisa dilihat lebih bagus, maka sayapun terus berjalan dan ketika melihat ada orang yang keluar dari jalan kecil saya berpikir bahwa itu pasti jalan tembus, sayapun mencobanya dan memang betul itu jalan ke atas namun melalui rumah-rumah penduduk sehingga saya harus sering bertanya supaya tidak tersesat.
Akhirnya saya sampai di jalan yang berdebu, dan ikut beristirahat sebentar depan sorang bapak yang berasal dari Jawa, ternyata untuk menuju tempat yang bisa memandang semuanya saya harus menuju tempat yang bernama puncak Waringin, dari sini saya bisa melihat pemandangan keseluruhan pelabuhan Labuan Bajo dengan latar belakan laut biru yang dihiasi oleh kapal besar dan kecil yang tengan berlabuh, seandanya ada kursi pasti saya menghabiskan waktu lebih banyak di sini, sayangnya saya hanya berdiri di pinggir jalan.
Kapal-kapal sedang berlabuh
Saya lebih memilih pulang dengan naik Angkot, tarifnya jauh dekat hanya Rp. 2.000. Dan saya putuskan untuk turun di gazebo yang menghadap kelaut dan foto-foto di sana, ada dua orang di salah satu gazebo dan ternyata salah satunya adalah seorang guide yang sedang menunggu untuk menjemput tamunya yang baru datang dari Pulau Komodo, ketika bertanya-tanya tentang cara ke sana dan mungkin melihat tampang saya kere akhirnya saya diajak untuk ikut dengan dia namun harus menunggu 3 hari lagi.
Alhamdulillah akhirnya saya bertemu satu lagi orang Flores yang baik hati menjadi dewa penolong saya. Tidak hanya itu, orang yang saya panggil kaka Pedi ini juga mengajak saya bersantai sambil menunggu tamunya pulang. Kita bersantai di salah satu cafe di sana, saya juga ikut main bilyar namun dikalahkan langsung dikalahkan 3 set, maklum lama tidak megang stik..:-)#(Alasan)
Main Bilyar Dulu
Setelah mengantar ke Bandara saya kita ke kantor Dinas kehutanan yang mengurus Taman Nasional Komodo, di sini saya mendengar bahwa tak lama sebelumnya ada seorang Ranger yang digigit oleh komodo, dan langsung di bawa ke Bali karena rumah sakit yang mampu untuk mengatasinya hanya ada di Bali, bikin ngeri mendegarya.
Sore harinya saya menikmati sunset di Gazebo tadi, rupanya tempat ini memang dibangun untuk menikmati sunset, banyak warung-warung yang bermunculan yang menjual gorengan dan makan seperti gorengan sehingga masyarakan bisa bersantai menikmati matahari terbenam sambil menyeruput teh panas dan pisang goreng.
Sunset di Labuan Bajo
Padahal saya sudah berencana untuk pindah dari penginapan tempat saya menginap, tapi karena kemaren tidak sempat jadi satu malam lagi saya harus tidak “Bahagia”, pagi harinya setelah membeli sarapan di pasar saya mencari penginapan lain, sesuai petunjuk dari Rizal bahwa di dekat Bank NTT ada juga penginapan murah yang lumayan, masuk di Jalan Cumi-Cumi ternyata ada sebuah hotel di pinggir lapangan bola yang bernama Hotel Pelangi, dilihat dari luar bangunannya memang bagus, terbuat dari beton dan ada ruang yang berAC, namun ternyata ada juga kamar ekonomi yang berharga Rp. 30.000, saya pun tak pikkir panjang segera mengambilnya, kamarnya lebih bersih dan ada dua kasur di dalam kamar, namun dindingnya yang dari papan agak jarang, sehingga kita bisa melihat orang di sebelah kamar.
Di sekitar Pelabuhan memang banyak penginapan murah dengan Tarif sekitar Rp. 25.000 sampai Rp. 50.000, ternyata ini adalah penginapan yang biasanya digunakan oleh para penduduk Flores yang sedang menunggu kapal, baik itu kapal Fery yang menyebrang ke Sape ataupun Kapal Pelni yang melayani pelayaran dari Sulawesi dan Jawa. Dan biasanya mereka menginap di sini sampai kapal yang di tunggu datang, jadi jangan heran kalau kapal belum datang jadi penginpan akan banyak yang penuh.
Belum sempat saya mengambil ransel di penginapan yang lama ada sebuah telepon yang masih, nomornya masih baru dan menanyakan mau ngapain saya hari ini, dan saya jawab belum tau  dan dia langsung mengajak saya jalan.
Pertandingan sepak Bola di depan Hotel
Tak lama menunggu ternyata dia adalah Abang Icang, temannya kaka Pedi yang kemaren bertemu di Kantor Kehutanan, sayapun diajak keliling-keliling kota Labuan Bajo, serta menuju Goa Batu Cermin, salah satu objek wisata yang bisa dikunjungi di Labuan Bajo. Eh ternyata yang jaga juga teman-temannya sehingga saya tidak dipungut karcis masuk. Dan menuju Goa Batu cermin dengan ditemani oleh seorang cewek yang menjadi guide saya, salah seorang bapak membisiki saya “Ntar beri aja uang Rp. 10.000 buat tip dia”,oke deh...
Untuk menuju Lokasi Goa kita harus berjalan sekitar 200 meter di jalan yang sudah dilapisi paving blok, dan tampaknya goa ini baru dibenahi oleh pemerintah walaupun tampak ada bangunan yang sudah rusak dan penuh coretan. Silvy pun bercerita dengan lancar tentang sejarah goa ini, katanya goa ini sempat dijadikan tempat persembunyian oleh penduduk setempat ketika jaman penjajahan.
 Seperti goa pada umumnya banyak stalagtit dan stalagmit yang menghiasi langit-langit dan dinding goa ini.Yang menjadi keunikan goa ini adalah kita bisa menemukan fosil-fosil hewan yang biasa di bawah laut seperti ikan dan kura-kura, hal ini menandakan bahwa goa ini dulunya pernah berada di bawah laut. Selain itu goa ini dinamakan Goa Batu Cermin bukan karena kita bisa bercermin dengan batunya, namun karena pada musin hujan air yang menggenangi lantai goa terpantul oleh cahaya matahari ke dinding goa dan tampak berkilauan seperti cermin, makanya disebut Goa Batu Cermin.
Goa Batu Cermin
Untuk masuk ke dalam goa kadang kita harus menunduk karena ada yang stalaktitnya sangat rendah, namun di bagian tengah goa ada sebuah ruangan yang cukup luas dan disinilah katanya orang-orang dulu berkumpul. Jalan masuk dan keluar goa ini berbeda sehingga kita akan melewati pemandangan yang berbeda.
Setelah selesai dan kembali ke pos penjagaan saya langsung diantar oleh sepupu Bang Icank untuk bertemu dengannya di Perempatan karena dia ada yang urus sebelumnya. Karena dia tidak bisa menemani akhirnya saya dipinjamkan motor untuk berkeliling, dan untungnya jalan di Labuan Bajo tidak begitu membingungkan dan hanya ada beberapa lampu merah. Sehingga cukup aman bagi saya berkendara sendiri tanpa peta.
Siangnya saya menuju Pantai Pede, bertanya menjadi panduan saya untuk menuju pantai ini. dan saya diberi petunjuk bahwa tinggal lurus menuju arah ke Hotel Jayakarta dan Pantai Pede tepat ada di samping kanan sebelum hotel ini.
Pantai Pede, sayang kotor
Sudah banyak fasilitas yang dibangun di Pantai ini seperti tempat untuk duduk-duduk, bahkan ada juga Perahu air berbentuk bebek namun terlihat dirantai dan kayaknya lama tidak digunakan. Hanay ada beberapa orang di pantai ini, serasa milik sendiri, namun pantainya yang berpasir putih hanya sedikit mungkin karena pasang atau memang begitu adanya yang pastinya cukup banyak sampah yang terlihat di tepi pantainya, mungkin terbawa dari laut.
Karena bosan hanya duduk-duduk sayapun melanjutkan ke perjalanan mengikuti jalan, ternyata di pinggir jalan banyak terlihat pub dan bar yang kecil-kecil, dan jalan yang beraspal mulus ini ternyata berakhir di Hotel Jayakarta, Salah satu Hotel berbintang yang ada di Labuan Bajo dan memiliki banyak jaringan di berbagai kota.
Matahari semakin turun, sayapun kembali ke Pantai Pede untuk menikmati sunset. Hanya ada dua orang cewek dari Polandia setengah bugil yang lagi berjemur, sisanya hanya tampak nelayan di ujung pantai yang membuat saya penasaran untuk mendekat.Ternyata orang tua ini bernama Pak Lewu, dia tinggal di sebuah pondok di ujung pantai yang berdindingkan kardus dan atapnya seng bekas, dia melaut masih memakai perahu tenaga angin, hanya anak-anaknya yang telah menggunakan perahu bermesin.
Sunset di Pantai Pede
Matahari semakin tenggelam dan berubah perlahan-lahan dari bundar hingga habis sama sekali,  yang tertinggal hanya cahayanya yang keemasan.  Itu berarti mengakhiri pertualangan saya hari ini di Labuan Bajo dan besok harinya adalah waktu yang saya tunggu-tunggu, yaitu waktunya untuk mengekplore Taman Nasional Komodo (bisa di baca di sini).
Lanjutkan Baca - Penantian indah di Labuan Bajo

Sabtu, 28 April 2012

Backpacker Versi Saya

Iseng-iseng bongkar harddisk  akhirnya nemu catatan usang yang dibawah yang saya tuliskan untuk wawancara di salah satu harian di Kalimantan Selatan, dari pada berdebu di hardisk lebih baik dimasukin di blog yang juga udah mulai berdebu. Demikian..
Apa sih Backpacker?
Banyak versi untuk pengertian backpacker itu sendiri, secara harfiah sendiri Backpacker adalah orang yang memanggul ransel. Sedangkan secara arti luas backpacker itu adalah jalan-jalan murah yang tak sekedar jalan-jalan, dan saya sendiri sepakat bahwa ada 4 poin penting yang harus dipenuhi baru bisa disebut backpacker, yang pertama Independent, yang berarti bahwa dia menyusun sendiri rencana menjalanannya, jauh-jaun hari dia telah menyusun itinerary (Rencana Perjalanan) nya, mencari informasi tentang daerah yang dituju baik itu dari internet atau informasi orang lain,jadi orang yang berwisata dengan ikut Tour belum bisa disebut sebagai backpacker..:-) Yang kedua adalah adalah Travel Light, bawaan seorang backpacker haruslah seringan dan sehemat mungkin, karena seorang backpacker butuh pergerakan yang lincah dan flexsible. Ketiga Travel Cheap, namanya juga backpacker juga harus murah donk, baik itu transportasi maupun Akomodasi lebih suka naik angkutan umum maupun tinggal di hotel-hotel murah, bahkan terminal atau bandara bisa menjadi pilihan. Dan yang terakhir adalah Educational, dalam perjalanan seorang backpacker bukanlah melihat yang indah-indah saja, tapi bergaul dengan masyarakat yang utama, sehingga kita bisa merasakan bagaimana budaya setempat dan yang penting dapat sesuatu pelajaran yang baru dari perjalanannya tersebut.
Kenapa suka?
Dengan menjadi backpacker kita bisa lebih mengenal dan mencintai tanah air Indonesia dengan segala keragamannya.
Suka duka selama menjalani perjalanan?
Lebih banyak sukanya karena apapun itu harus dinikmati, yang pastinya wawasan kita lebih luas dibanding hanya membaca dari buku. Dukanya kadang-kadang kalau terlalu lama jalan jadi kangen rumah..:-)
Manfaat?
Banyak manfaat yang bisa didapat dari backpacking, salah satunya adalah tentang arti hidup. Selain itu kita punya banyak kenalan di manapun kita berada.
Tips & trik jadi Backpacker.
Rencanakan perjalanan sejak dari rumah, kita harus terlebih dahulu mengenal destinasi yang akan kita tuju sehingga kita lebih siap dengan apapun yang terjadi selama perjalanan, bisa dengan browsing di internet ataupun bertanya dengan orang yang sudah pernah mengunjungi tempat tersebut. Selain itu sleeping bag salah satu barang tak tak pernah ketinggalan ketika backpacking. Jangan lupa untuk bergabung dengan komunitas backpacker  yang makin menjamur sehingga kita bisa berbagi dan bertanya kepada orang yang lebih bepengalaman.
Geliat pencinta Backpacker di Kalsel.
Walau agak terlambat dari daerah lain sekarang di kalsel juga mulai bergeliat, bahkan salah satu komunitas yang ada (Banjarmasin Traveler) selain gencar jalan-jalan juga memperkenalkan wisata yang ada di Kalimantan.
Lokasi Favorit
Lokasi Favorif saya sejauh ini adalah Taman Nasional Komodo, keunikannya bukan cuma hewan Purba tersebut tapi juga dengan keindahan bawah lautnya. Terumbu karangnya yang masih sehat dan warna warni benar-benar memanjakan mata.
Lanjutkan Baca - Backpacker Versi Saya

Senin, 05 Maret 2012

Perjalanan Lintas Sumbawa, Terdampar di Bima

Ini adalah hari trakhir saya di tanah Flores, setelah lebih seminggu berpetualang di salah satu Pulau yang termasuk Provinsi Nusa Tenggara Timur ini, dan selanjutkan akan menuju Tanah Sumbawa lalu melanjutkan perjalan di Pulau Lombok. Sehari sebelumnya saya sudah membeli tiket bus “Langsung Indah” jurusan Mataram, setelah tawar menawar dengan penjualnya di pelabuhan Feri Labuan Bajo akhirnya kita sepakat Rp. 200.000 sampai Mataram, dan ini sudah termasuk tiket kapal penyebrangan dari Labuan Bajo ke Pelabuhan Sape hingga Bima.
Pagi-pagi ketika saya ke pelabuhan sudah ada kapal feri yang bersandar, ketika saya mau masuk ke kapal ternyata tidak bisa langsung naik pakai tiket bus tadi, tapi harus mengambil tiket Feri terlebih dahulu dengan petugas tiket di loket, dan tugas dari Bus lah yang mengurus hal ini. Sebelum masuk terlebih dahulu saya membeli nasi bungkus untuk di makan di atas kapal sambil menunggu waktu keberangkatan.
Sayapun mencari posisi di pinggir jendela supaya bisa melihat pemandangan pulau-pulau kecil yang cantik selama perjalanan nantinya, di belakang saya duduk sepasang bule dari Poland yang tampaknya cowoknya lebih manja dari ceweknya, sehingga apa-apa ceweknya yang mengurus.
Selain mereka juga ada dua orang cewek bule yang saya tidak tau dari mana, salah satunya menjadi pusat perhatian, kemanapun dia pergi kebanyakan mata memandang kepadanya, khususnya yang laki-laki. Hal itu karena karena pakaiannya yang sangat menantang ditambah dengan bodinya yang aduhai, lumayan lah ada pemandangan indah selama di perjalanan..hee
Setelah kurang lebih 7 jam akhirnya kita tiba di pelabuhan Sape, pelabuhan yang belakangan di bokir warga yang protes atas adanya tambang di wilayah mereka, untungnya kejadian ini bukan terjadi beberapa bulan lalu ketika saya lewat. Tiba di pelabuhan saya sengaja keluar belakangan supaya tidak berdesak-desakan dan menghindari serbuan calo dan buruh angkut menyerbu para penumpang, setelah itu barulah saya mencari Bus Langsung indah yang ternyata belum datang, dari pelabuhan Sape menuju Bima kita terlebih dahulu naik Bus yang lebih kecil kemudian barulah di Bima berganti dengan bus yang lebih besar.
Selain kami yang telah membeli tiket terusan ada juga beberapa penumpang yang naik bus kecil ini, mereka membayar Rp. 20.000 untuk menuju kota Bima. Perjalanan melewati jalan yang berkelok-kelok sambil melihat rumah-rumah penduduk Sape yang rata-rata berbentuk panggung, di bawahnnya bisa dijadikan tempat ternak atau tempat untuk duduk-duduk.
Ketika memasuki kota Bima saya sempat searching di Hp tentang tempat-tempat menarik di kota ini, namun selain museum istana tak ada tempat lain yang saya dapatkan. Dan akhirnya kita turun di terminal dan tiket kita diambil kembali oleh petugasnya, Bus baru berangkat menuju Mataram pada pukul 7 malam. Saya punya waktu sekitar 4 jam yang harus saya manfaatkan di kota ini dan ketika saya bertanya tentang museum katanya jam 4 sore sudah tutup, sedangkan jam di Hp sudah menunjukan pukul setengah 4, akhirnya saya memutuskan untuk berjalan di sekitar terminal, yang menarik ada sebuah Musholla di tengan jalan dan berkandang seperti taman, kota Bima lumayan ramai di sekitar terminal ini, ketika saya kembali melalui jalan lain saya melihat ada banyak bunga di ujung jalan sehingga sayapun penasaran dan ke sana.
Di pinggir jalan bersusun rapi bunga berbagai macam warna mengelilingi seperti sebuah danau namun airnya berwarna hitam, dan ditenganya ada sebuah tugu dengan gambar pancasila. Di seberang jalan terlihat banyak pemuda yang duduk di atas motor sambil sebagian ngebut-ngebutan dan ketika adda mobil polisi yang datang mereka pun berhamburan.
Selain itu tampak beberapa orang menggelar tikar dengan sebuah meja yang berisi minuman sachet seperti kopi dan minuman lainnya, sayapun mendekat dan ngobrol dengan seorang ibu yang sedang membuka dagangannya. Ternyata tempat ini bernama “Amahami” tempat nongkrongnya anak muda di Bima, buka dari sore hari hingga tengah malam, makin malam makin banyak orang yang bersantai di sini.
Kemudian saya menuju sebuah dermaga yang berbentuk seperti jembatan, namun sayangnya kurang terawatt sehingga rusak di beberapa bagian. Bima memang berada pinggir laut sehingga kita langsung berhadapan dengan angin laut yang meniup deras. Di atas jembatan ada beberapa cewek yang sedang duduk, bertanya kepada mereka tentang tempat ini dan akhirnya ngobrol-ngobrol dengan mereka. Di ujung dermaga ada seperti kapal wisata namun tak ada orangnya sama sekali.
Saya pulang dengan jalan yang satunya alias mengelilingi danau, ternyata di seberang ada pekuburan cina dan yang membuat saya heran banyak anak-anak muda yang nongkrong di sana, walaupun pagarnya tertutup tapi mereka tetap bisa masuk, bahkan duduk-duduk sanpai di atas nisannya sambil bercanda. Ternyata jauh juga memutar lewat sini, kalau ada angkot yang lewat saya akan setop saja karena kaki udah terasa gempor.
Tiba di terminal masih ada waktu sekitar satu jam, sayapun bersantai-santai di sana. Teman bule tadipun bingung karena tiketnya di ambil dan belum dikembalikan saya bilang kalau nanti ketika akan berangkan akan diserahkan lagi. Dan kita berpisah di sini karena kita berbeda Bus,mereka menuju Denpasar dan saya hanya sampai Mataram.

Perjalanan selama semalam ini membuat saya tidak bisa menikmati pemandangan di tanah Sumbawa, melihat gunung Tambora dan lain-lain, ketika sekitar pukul 2 dini hari bus berhenti di sebuah rumah makan, para penumpang dibagi kupon untuk makan. Namun yang membuat saya terkejut disini ketika buang air kecil kita harus bayar Rp. 2.000 rupiah, ini satu-satunya tempat makan yang memungut bayaran dari pengunjungnya yang pernah saya temui. Setelah makan saya terkejut karena baru sadar bahwa handphone saya tertinggal di dalam bus, ketika kembalike bus untungnya di amankan oleh ibu yang duduk di samping saya bersama anaknya.
Ada juga kejadian lucu lainnya ketika bus sedang berhenti untuk beristirahat dan ketika berangkat ada satu penumpang yang ketinggalan, sehingga kita harus mundur lagi padahal jaraknya sudah lumayan jauh, ternyata dia sedang telponan di belakan mobil namun terlindung oleh satu mobil di belakang kita sehingga tidak menyadari ketika bus berangkat.
Kita tiba di Fery penyebrangan menuju pulau Lombok ketika matahari terbit, sehingga pemandangan pagi yang menakjubkan kembali terhampar di depan mata. Di kejauhan juga terlihat Gunung Rinjani yang terkenal dengan Danau Segara Anaknya yang menjadi target gunung yang harus saya daki. And finally saya menginjakan kaki di Pulau Lombok.

Lanjutkan Baca - Perjalanan Lintas Sumbawa, Terdampar di Bima

Senin, 06 Februari 2012

Itinerary Backpacking di Kalimantan Selatan

Karena banyaknya pertanyaan dari teman-teman tentang tempat-tempat yang bisa dikunjungi di Kalimantan Selatan dan Banjarmasin pada khususnya, berikut ini saya buatkan rancangan rencana perjalanan di Kalimantan Selatan bagi yang punya waktu sedikit untuk mengexplore Kalimantan selatan.

Day 1
07.00 – Datang di Bandara Syamsuddin Noor
                (Ke Jalan Besar Naik Ojek Rp. 5.000)
07.15 – Menuju Loksado
                (tunggu di Persimpangan Naik Colt L-300 sampai Kota Kandangan Rp. 30.000)
11.00 – Sampai di Kota Kandangan (Turun di Terminal)
11.10 – Menuju Loksado
(Naik Angkot Rp. 15.000 ,di atas pukul 11 angkot tidak ada  jadi naik ojek sampai Loksado (Rp. 50.000)
12.00 – Tiba Di Loksado
                ( Penginapan: Wisma Alya (Rp. 130.000), Wisma Loksado (Rp. 220.000), Camp AAL (Rp.        50.000)
13.00 – Menuju Desa Malaris (Jalan Kaki sekitar setengah Jam)
Karcis masuk Rp. 1.000 (Bisa lihat Rumah Panjang, Perkampungan Dayak, Buat Gelang Simpai, Wisata Kampung Buah,Bendungan kecil,Air Terjun Malaris, Liat Pembuatan Kayu Manis)
Malam (Acara Bebas)

Day 2
07.00 – Bamboo Rafting
                (Sewa Rakit Rp. 250.000, bisa untuk 3 orang perjalan sekitar 3-4 jam tergantung debit air)
10.00 – Dari tempat Finish Bamboo Rafting Naik Ojek atau Angkot ke Loksado.(Sda)
12.00 – Menuju Banjarmasin (Sda)   
                Sebelum Berangkat coba makan Ketupat Kandangan dulu di Kota Kandangan
16.00 – Sampai di Banjarmasin.
                Dari terminal Km. 6 Naik angkot Rp. 3.000 ke Kota.
                Penginapan : Hotel Niagara (Rp. 40.000 – 90.000), Hotel Mira (Rp. 180.00- 300.000)
17.00 – Santai di sekitar Siring atau Seputaran Mesjid Sabilah Muhtadin
19.00 – Makan di Lontong Orari

Day 3
                (Sewa Kelotok Rp. 175.000- Rp. 250.000)
10.00 – Menuju Banjarbaru
11.00 – Mengunjungi  Pendulangan Intan Tradisional di Cempaka, Pengolahan Intan di Martapura, ke Rumah Banjar Bumbungan tingggi yang berusia ratusan tahun di Teluk Selong, Belanja Oleh-oleh di Cahaya Bumi Selamat (CBS).
16.00 – Ke Bandara Syamsuddin Noor (Balik Ke kota Masing-masing)

Note:
-          Untuk intenerary di atas bisa di ubah sesuai kehendak dan keperluan
-          Bagi yang mau contact person yang saya sebutkan di atas bisa hubungi saya.

Demikian rancangan Itenerary ke Kalsel bagi yang jalannya di waktu weekend, selain di atas sebenarnya juga masih banyak spot lain yang bisa di kunjungi di Kalimantan Selatan, seperti Jembatan Barito, Museum Waja Sampai Kaputing di Banjarbaru, trakking ke Lembah Kahung, Kerbau Air yang bisa berenang di Nagara, Snorkling di Pantai Angsana, dan Kotabaru Khususnya Teluk Tamiang yang punya spot untuk Snorkling dan Diving namun sayangnya masih belum ada Dive operator yang menyewakan peralatan Diving dan Snorkeling.
Lanjutkan Baca - Itinerary Backpacking di Kalimantan Selatan

Rabu, 25 Januari 2012

Gunung Usung, Mendaki Berbonus Air Terjun

Berangkat agak terlambat dari jadwal semula kita bertiga menuju Gunung Usung yang hanya berjarak beberapa puluh Kilometer dari Kota Puruk Cahu, ternyata di tempat sebelum memulai pandakian sudah beberapa orang menunggu, hingga totalnya ada 7 orang yang akan mendaki hari ini, saya dan 6 orang murid Kelas XI MAN Puruk Cahu. Sebenarnya Gunung Usung bukanlah sebuah gunung, hanya sebuah bukit. Namun masyarakat di Kalteng lebih terbiasa menyebut “Gunung” bagi tonjolan kulit bumi yang tampak lebih tinggi dari sekitarnya. Begitu juga dengan tanjakan di jalan raya, ada nama masing masin seperti Gunung Ular atau Gunung tengkorak, padahal itu hanya sebuah tanjakan.
Gunung Usung
Terlepas dari semuanya mendaki bukit di sini bukan hal yang mudah karena selain terjal dan medannya yang berat. Kita memulai perjalanan dengan “Rasa-rasa”, mengira-ngira apakan ini jalan yang tepat, namun kita terus berjalan hingga sampai kepada sebuah tebing yang tampaknya tempat yang asik buat panjat tebing, namun ketika saya coba ternyata basah dan licin, mustahil untuk memanjatnya tampa pengaman.

Perjalanan menuju Puncak
 Dan benar saja hasil dari “Rasa-rasa” dari kita salah mengambil jalan hingga melalui harus berhadapan dengan jalan buntu dan harus menembus semak belukan untuk dapat melanjutkan perjalanan, onak duri menemanii perjalanan kita hingga kita menemukan jalan yang benar.
Untungnya jalan untuk menuju puncak sudah jelas karena tampaknya sudah sering di daki, namun di beberapa tempat kita harus merunduk untuk menghindari semak yang rapat, dan jalannya pun terus menanjak sampai saya kehabisan napas, ini akibat dari sekarang sudah tidak pernah olahraga lagi, fisik makin kendor.
Hanya ada satu Bonus di sini dan setelah ini perjalanan menjadi semakin terjal hingga 50 derajat, untuk naik kita harus berpegangan di rerumputan dan pohon yang jarang, panas yang menyengat juga membuat saya tambah kedodoran, namun semangat saya memaksa untuk melanjutkan perjalanan karena yang lain sudah sampai di atas, dan setelah beberapa kali menaris nafas dan beristirahat akhirnya sampai juga.
Tampak salah satu gundulnya hutan
Well, tak ada pohon di puncak, hanya ada semak yang lumayan tinggi untuk berlindung dan dari puncak kita bisa melihat pemandangan yang luas, kota Puruk Cahu yang kecil kelihatan makin kecil. Sungai Barito tampak seperti ular yang meliuk-liuk dan di pinggirnya tampak beberapa desa yang berada di wilayah Kabupaten Murung Raya.
Namun hati saya sedikit terenyuh ketika melihat hutan yang mulai gundul, banyak yang telah menjadi perkebunan karet bahkan beberapa tampak masih menjadi lahan kosong, dan untungnya dari sini tidak ada pemandangan tambang batu bara atau kebun Kelapa Sawit yang mulai banyak menggusur hutan Kalimantan.
Karena kesiangan kitapun harus rela berpanas-panasan di puncak, saya berencana untuk kembali lagi ke sini dan menginap sehingga bisa melihat matahari terbit serta berada di atas awan. Selain foto-foto tak banyak yang kita lakukan karena kurangnya persiapan, termasuk persiapan snack. Untungnya persediaan air minum kita cukup sampai turun kembali.
DI puncak
Pukul setengan 12 kita beranjak turun, tak lupa juga membawa botol bekas minuman aga tak menambah sampah plastic yang ada d sana. Namun perjalan turun lebih sulit Karena kita harus berjalan mundur sambil melihat kebelakang, bagi yang phobia ketinggian ini merupakan moment yang horor. Dan untuk turun kita harus berpegangan yang erat di rerumputan yang lumayan tajam sehingga mengoyak tangan beberapa orang. Ketika kita turun ada tiga orang anak yang seddang naik dan hanya membawa sebotol pocari, dan hasilnya mereka turun kembali tidak jadi ke puncak dan turun kembali.
Perjalan turun membuat tekanan 5 kali lipas di lutut dari pada berjalan biasa, sehingga lebih berasa daripada ketiga naik yang lebih banyak makan nafas. Dan lagi-lagi saya yang terakhir karena sambil foto-foto selain fisik mereka yang tampak lebih kuat, maklum paling tua..hehe
Turun pun harus merangkak
Setelah turun kita langsung menuju air terjun yang berada di kaki bukit, dulunya iar terjun yang tidak seberapa tinggi ini selalu ramai dikunjungi di akhir pecan, namun sejak ada kejadian seorang cewek yang dibunuh pacarnya tempat ini menjadi sepi. Kitapun langsung mandi dan menikmati pancaran air terjun yang debit airnya lebih sedikit dari pada waktu saya pertama kali kesini.
Air terjun Gunung Usung
Setelah puas dan perut yang mulai dangdutan kita pun segera berbelik arah menuju kota Tercinta dan sebelumnya mampir di warung untuk minum karena sudah kangen dengan es, saya juga memesan Mie rebus untuk mengganjal perut yang sudah keroncongan. Akhirnya setelah sampai di rumah istirahat dan merasakan kaki yang sedikit pegal, tapi lumayan untuk mengisi liburan akhir pekan. Dan masih banyak tempat eksotis di Murung Raya yang harus di jelajahi.
Untuk Foto-Foto yang lainnya bisa di klik di SINI.
Lanjutkan Baca - Gunung Usung, Mendaki Berbonus Air Terjun