Bukit Batu

Datang ke Kalimantan tengah tanpa berkunjung ke tempat ini rasanya ada sesuatu yang kurang, karena merupakan tempat yang bersejarah bagi pahlawan nasional dari Kalimantan Tengah yaitu Cilik Riwut, karena di tempat inilah beliau balampah (bertapa/bersemedi).

Untuk menuju tempat ini dari ibu kota Kalimantan Tengah berjarak sekitar 65 km atau kurang lebih satu jam perjalanan dengan roda dua maupun roda empat, akses jalan yang muous dan lurus membuat selalu memancing untuk menarik gas sekencang-kencangnya namun harus hati-hati juga karena kalau mengantuk maka kecelakaan sudah sering terjadi di sini.

Setelah perjalanan panjang maka akan ditemuilah sebuah gerbang yang bertulisan Kota Kasongan, dan disini lah objek wisata ini terletak di sebelah kanan kalau dari arah Palangkaraya. Halamannya yang luas membuat tempat ini selalu ramai dijadikan tempat istirahat dari berbagai kota seperti Kasongan dan Sampit menuju Kota Palangkaraya. Memasuki pintu gerbang halaman yang berumput dan ada juga beberapa pedagang yang berjualan makanan dan minuman sehingga walau kehausan setelah di perjalanan ada banyak pilihan untuk menghilangkan dahaga itu.

View di tempat ini didominasi oleh batu-batu besar dengan bentuk dan letak yang unik, memasuki pagar pembatas sudah ada batu besar yang menyambut, namun sebelum mengekplor tempat ini sebaiknya kita harus mengisi buku tamu di atas, si sini juga ada dijual gelang dan manik-manik yang dirangkai sendiri uleh keturunan Cilik Riwut, di jual dengan harga dari Rp. 15.000 sampai dengan Rp. 30.000.

Agak ke depan anda dapat melihat sebuah bangunan kecil berbentuk rumah tapi sangat kecil dan tiangnya tinggi, ini merupakan tempat untuk meletakan sesaji seperti kopi pahit dll, ada juga yang seperti ini di bagian lain.

Batu-batu yang tersusun rapi dan tidak jatuh merupakan salah satu keunikan tempat ini, bahkan ada batu yang tersusun sehingga dapat dijadikan tempat untuk istirahat, dibawahnya suasana terasa sejuk di barengi tiupan angin bisa membuat ngantuk, bahkan ketika saya kesini ada orang yang bersemedi dengan pakaian seperti biksu atau penganut agama Budha. Ada juga mitos lain di tempat ini siapa yang dapat melewati melewati celah sempit di antara batu yang agak menjorok ke jurang maka segala yang dicita-citakan akan dikabulkan, serta ada juga sebuah mata air di batu yang katanya tidak pernah kering.

Pemandangan dari atas bukit sangat luas, karena disekeliling tempat ini merupakan daerah rawa-rawa, kedepannya de sekitar tempat ini akan dijadikan kebun raya seperti kaebun raya bogor. Bahkan bangunan-bangunan disekitar bukit sudah mulai dibangun.







Bagi yang ingin mengetahui lebih terperinci tentang asal-usul dan sejarah tempat ini silahkan mengakses situs Maneser Online, yang mana tahun 1979 Bapak Tjilik Riwut menulis buku Kalimantan Membangun. Setelah beberapa tahun, buku tersebut kemudian diedit dan diperbaharui kembali oleh puterinya, Dra. Nila Riwut Suseno. Tahun 2003, keluarlah buku berjudul Maneser Panatau Tatu Hiang, yang artinya Menyelami Kekayaan Leluhur.

Pada tahun 2009, sebagai persembahan dari Bapak Tjilik Riwut dan Keluarga Tjilik Riwut, buku Maneser Panatau Tatu Hiang diperkenankan untuk ditampilkan isinya dalam format digital berupa sebuah web khusus. Persembahan ini diberikan untuk seluruh Rakyat Indonesia dan Warga Dunia, dengan harapan budaya Suku Dayak akan dikenal dan Anak Esun Tambun Bungai tidak akan kehilangan jati dirinya.

Silahkan Klik di sini untuk membaca lebih lanjut.

Share on Google Plus

About backpackerborneo.com

Adalah sebuah travel blog oleh Indra Setiawan, media untuk memperkenalkan wisata dari Kalimantan dan catatan perjalan menikmati keindahan Indonesia. Silahkan like facebook Backpacker Borneo, follow Instagram @backpackerborneo dan follow juga Twitter @bpborneo untuk update informasi terbaru .

0 komentar :

Posting Komentar