(Kindly Flores) Desa Moni, Bukan Sekedar Transit

Dari Ende menuju desa Moni ditempuh dengan perjalanan sekitar 2 jam, melalui jalan yang berliku-liku di kanan-kiri jurang yang dalam, namun untungnya jalannya cukup baik, sebagian masih dilakukan perbaikan jalan seperti pelebaran jalan dengan mengeruk di sebelah tebing, saya tidak ingin memejamkan mata untuk menikmati perjalanan, bus yang saya tumpangi melaju pelan, semakin lama penumpangnya semakin penuh, bahkan sampai teman baru saya tadi di atas atas atap bus, di samping saya bapak yang badannya besar membuat tempat duduk yang tersisa makin sedikit, di samping kanan saya tampak pasangan yang tak malu-malu untuk bermesraan. ya, inilah salah satu sensasi jalan dengan angkutan umum bagi seorang Backpacker.
Karena tak tau medan jadi saya hanya mengikuti teman tadi, ketika mobil berhenti di sebuah desa di tikungan dan ternyata ini adalah desa Moni, sayapun turun. Dengan sabarnya di membantu saya mencari penginapan, di penginapan pertama ternyata harganya Rp. 100.000, dan sudah ada bule yang sedang menginap di sini, karena masih terlalu mahal bagi kantong Backpacker seperti saya kita kembali melanjutkan pencarian, namun di sebuah warung yang bernama Nusa Bunga kita berhenti karena itu punya keluarganya dan bertanya di situ tentang penginapan yang murah, ternyata di sana mereka juga punya Homestay, setelah ditanyakan ternyata harganya Rp. 50.000 lalu saya coba untuk menawar dan harganya tidak bisa turun lagi.
Sambil menunggu kamarnya dibersihkan saya ngobrol dengan anak yang punya Homestay yang bernama Wahyu, di bercerita bahwa ternyata kebanyakan yang punya penginapan di sini adalah Bule, namun dikelola oleh orang lokal, salah satu kendala yang dihadapi penduduk sana adalah mahalnya harga bensin yang mencapai Rp. 10.000 karena tidak adanya SPBU yang dekat, jadi wajar saja kalau ojek naik ke Danau Kelimutu  menjadi lumayan mahal.
Saya baru sadar kalau saya belum makan, lalu sayapun memesan makan dengan menu ayam goreng. Ternyata setelah keluar ayamnya berteman dengan mie rebus sebagai kuahnya, waktu saya membayar saya agak terkejut ternyata harganya Rp. 17.000, hmm..mahal ternyata.
Homestay Nusa Bunga lumayan jauh dari restorannya, saya diantarkan oleh Wahyu dengan motor ke sana, tempatnya cukup luas dan hanya ada dua buah kamar, ketika saya masuki kamar yang sebelah kanan ternyata kamar mandinya rusak, lalu masuk ke kamar yang satunya ternyata memang yang ini kamar yang telah disiapkan sebelumnya, air untuk mandipun sudah disiapkan. Karena belum mandi beberapa hari (he..he..) sayapun segera segera mandi, tapi ternyata airnya sangat dingin dingin walaupun waktu itu masih siang sekitar pukul 3.
Sayapun membaringkan diri menikmati nikmatnya kasur, karena 4 malam sebelumnya tidur hanya beralaskan matras. Tapi kerena tidak juga bisa tidur akhirnya saya duduk di depan Homestay, di beberapa tempat tampaknya sedang ada acara, hal ini dapat dilihat dari adanya keramaian di tenda-tenda yang terbuat dari terpal serta musik yang keras dari speaker mereka. Tak lama saya duduk datang seorang pemuda mengampiri saya, dan bertanya saya dari mana dan daripada saya berdiam diri saja sayapun mengikuti ajakannya untuk ke tempat party yang dia bilang. Namun sebelunya di telah menjelaskan tentang adat kebiasaan mereka yaitu ketika disuguhi Moke kita sebagai tamu wajib untuk menerima walaupun sedikit sebagai wujud penghormatan kita terhadap adat-istiadat mereka.
Karena penasaran saya segera berangkat, dan ternyata sedang diadakan acara “Sambut Baru”. Acara ini seperti juga ketika sedang acara perkawinan, dan anak yang sedang merayakan sambut baru duduk di kursi dengan dandanan jas yang rapi bagi laki-laki dan baju yang bagus bagi perempuan.
Di dalam agama katolik dikenal yang namanya Sekramen Ekaristi, dan anak-anak SD menerima hosti yang pertama kali dan ini dinamakan Komuni pertama, nah komuni pertama inilah yang di rayakan ketika anak tersebut duduk di kelas lima SD, ketika saya datang ada 8 orang yang sedang merayakan Sambut Baru, hingga seluruh desa menjadi rame karena sediap sudut ada yang sedang berpesta. Bukan hanya warga sekitar desa yang datang tapi juga ada yang datang jauh-jauh dari kota untuk memenuhi undangan. Biasanya mereka berpesta dari siang hari sampai dini hari. Atau istilahnya sampai puas dan teler..hee
Suasana kekaluargaan langsung terasa begitu saya datang, setelah memasukan amplop ke dalam kotak yang ada saya segera bergabung dengan penduduk yang ada di situ, warga yang ada menyambut saya dengan hangat dan saya pun memperkenalkan diri saya, dan tak lupa pula suguhan Moke dari mereka yang saya terima dan hanya saya cicipi sedikit untuk menghormati mereka, Moke adalah minuman fermentasi khas dari Flores yang terbuat dari uap dari pemasakan sari dari pohon aren ataupun lontar, dan ini sedikit lebih keras dari tuak di kalimantan yang terbuat beras.
Saya juga langsung di suruh masuk ke rumah mereka yang berdindingkan bambu untuk menyantap hidangan, saya hanya menyambil lauk yang dari sayuran dan kacang-kacangan karena takut termakan babi yang juga menjadi santapan mereka, namun ternyata merekapun paham akan hal tersebut dan tetap menghormati saya yang beragama muslim, saya makan ditemani oleh  Tony yang ternyata berkerja menjadi guide di Labuan Bajo, dan dia pulang karena dirumahnya sedang diadakan acara sambut baru tadi.
Selesai makan saya kembali lagi ke tempat pesta tadi, yang mereka laukan selain minum-minum moke adalah berjoget diiringi musik yang alirannya kadang-kadang berubah-ubah dari dangdut sampai pop dan melayu, sambil ngobrol-ngobrol Babi menjadi seperti cemilan bagi mereka, diletakan di atas piring di ditaroh di atas kursi di tengah lingkaran kita duduk.
Saya diajak oleh Sifrianus untuk ke acara Sambut Baru yang lainnya, sama seperti sebelumnya sayapun segera disuguhi makan, walaupun pada awalnya saya menolak karena memang sudah kenyang namun mereka tetap memaksa ”Di sana ya di sana, yang di sini orang yang mengundang beda lagi”, akhirnya saya makan lagi walaupun dengan nasi yang sangat sedikit.
Di sini saya juga mencoba untuk ikut berjoget walaupun sebenarnya saya tidak bisa berjoget, namun sayapun cuek bebek dan ikut berbaur bersama mereka hingga musinya terhenti karena sound sistemnya bermasalah. Ketika duduk saya melihat sesuatu yang menarik seperti rumah adat dan minta diri untuk meninggalkan pesta untuk melihat-lihat sebentar.
Ternyata itu adalah sebuah bangunan tradisional yang sering digunakan untuk upacara adat masyarakat di sana, bangunan ini tidak berdinding, namun atapnya yang terbuat dari jerami sangat tinggi dan yang membuatnya unik adalah di dalamnya ada dua buah kotak yang berisi tengkorak leluluhur mereka. Di depan bangunan ada seperti sebuah lingkaran yang dikelilingi oleh batu-batu, sedangkan di bagian tengah ada seperti sebuah tugu yang terbuat dari batu juga, katanya ketika sedang berlangsung upacara adat masyarakat moni menari di dalam lingkaran tadi.
Saya juga tertarik dengan beberapa nenek yang sedang menguyah sirih dan pinan di dekat bangunan adat tersebut, mereka mengguna kain tenunan khas Flores yaitu kain songket, ketika saya raba kain ini bertekstur keras dan tebal, memang cocok untuk masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan yang dingin seperti di Moni.
Hari makin sore dan dingin mulai menusuk kulit saya yang cuma menggunakan baju pendek, tampak beberapa pemuda yang sedang mabuk karena kebanyakan minum moke  menari-nari di tengan jalan hingga menyulitkan pengguna jalan yang sedang lewat, untungnya yang lain segera menariknya ke pinggir sehingga orang-orang segera bisa lewat. Saya juga diajak mampir ke homestay baru punya Sipri, namun masih belum disewakan karena masih menunggu kasur dan lemari yang dia pesan, bahkan saya juga diajak untuk menginap di sana, seandanya saja saya belum checkin di homestay saya..huhu.. 
Sebenarnya saya di ajak lagi untuk ke tempat acara sambut baru yang lain namun sudah ada lagi uang kecil dan ketika ingin menukar di warung ternyata tidak ada lagi, akhirnya memutuskan untuk kembali ke Homestay karena sudah mulai gelap dan dinginnya makin menusuk. Ternyata di kamar saya lampunya tidak menyala, entah rusak atau memang tidak bisa karena tadi siang saya tidak mencobanya, sayapun coba untuk melihat kamar yang satunya dan menyala, akhirnya saya pun memutuskan untuk tidur di kamar sebelah daripada repot-repot compain dengan tuan rumah, serasa lebih menewa cottage karena satu rumah saya miliki. Malamnya saya hanya berjalan ke warung di depan sebentar dan segera beristirahat karena saya tak sabar untuk kembali merasakan tidur di atas kasur dan mempersiapkan diri untuk trakking ke danau tiga warna yang terkenal, yaitu Danau Kelimutu.
Share on Google Plus

About backpackerborneo.com

Adalah sebuah travel blog oleh Indra Setiawan, media untuk memperkenalkan wisata dari Kalimantan dan catatan perjalan menikmati keindahan Indonesia. Silahkan like facebook Backpacker Borneo, follow Instagram @backpackerborneo dan follow juga Twitter @bpborneo untuk update informasi terbaru .

0 komentar :

Posting Komentar