Karimun Jawa, Penutup Perjalanan yang Manis (Part II)

Cerita sebelumnya bisa dibaca di Karimun Jawa, Penutup Perjalanan yang Manis (Part I) atau klik di sini.
Di hari kedua ini kita berangkat lebih pagi dari kemarin, tujuan hopping islands kita yang pertama adalah Pulau Cemara Besar. Kalau hari pertama tujuan kita adalah pulau-pulau di sebelah barat pulau utama sedangkan hari kedua ini adalah pulau-pulau yang berada di sebelah timur. Ombak agak besar mengiringi perjalanan kita menuju pulau Cemara Besar, di pulau ini kita tidak datang untuk snorkeling, namun kita akan main pasir, namanya juga liburan yang penting happy-happy. Kita tidak bisa merapat ke pantai karena sudah agak surut, jadi kita harus nyebur ke dalam air yang dalamnya sepinggang untuk menuju pantai yang berpasir putih.
Cowok2 gokil dari Jogja..:-)
Berasa di kasur tebal
Di pantai ini kita bermain-main menghabiskan waktu, ada yang mengubur dirinya(gak sabar kayaknya), main lempar pasir hingga membuat karya seni dari pasir dengan pose yang sangat menantang..:-). Pulau ini dinamakan pulau Cemara Besar mungkin karena memang sebagian besar pulau ini ditumbuhi oleh pohon cemara, di samping pulau ini ada juga pulau yang lebih kecil yang dinamakan Pulau Cemara Kecil. Di sini juga kita bisa menemukan entah batu entah benda apa yang berbentuk pipih dan diatasnya ada gambar seperti sebuah titik yang mempunyai sinar atau bercabang lima, bisa dijadikan oleh-oleh yang unik dan gratis dari Karimunjawa. 
Setelah puas bermain pasir barulah kita snorkeling di karang gosong, sebuah gugusan karang yang ketika air laut surut terlihat dipermukaan. Namun sayangnya di sini juga banyak karangnya yang rusak, entah karena penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan atau karena prilaku wisatawan yang kurang hati-hati hingga kadang menginjak atau berdiri di atas terumbu karang yang mengakibatkan patahnya atau rusaknya karang ini.
Menurut saya sejauh ini memang kebanyakan karangnya yang ada di Karimunjawa berjenis karang keras, tak seperti terumbu karang di Pink Beach di Taman Nasional Komodo yang lebih warna-warni, di sini jenisnya lebih monoton, entah spot yang saya datangi masih belum yang terbaik ataupun tidak bisa hanya dengan snorkeling untuk menikmati keindahnnya, namun harus dengan Diving.
Kemudian kita melanjutkan perjalanan ke Pantai Ujung Gelam, untuk sandar di pantai ini kapal dikenai restribusi sebesar Rp. 10.000, entah untuk siapa uang tersebut. Di sini sudah banyak warung di pinggir pantai yang menunggu dengan gorengan dan air kelapa muda, sayapun tak lupa untuk mencicipinya. Pantai ini cukup indah di kiri kanannya ada batu-batu besar bahkan ada yang menyebutnya seperti di Belitung, selain itu ada pohon kelapa yang miring menjorok ke laut yang menjadi tempat favorit untuk berfoto, kitapun naik berjejer ke atas batangnya untuk berfoto di spot sejuta umat ini.
Pantai yang asalnya sepi menjadi riuh ketika rombongan yang disebut “gerombolan siberat” oleh teman-teman, kitapun menyepi ke ujung sambil berfoto narsis ria, tak lupa pula foto keluarga di atas batu besar yang ada dibawah pohon besar. Tulisan “Ada Ojek” yang terpasang di pohon kelapa menarik perhatian saya, ketika saya tanyakan itu adalah ojek untuk menuju pulau utama yang bisa ditempuh dengan jalan darat dari sini. Makan siang juga kita lakukan di pulau ini, hingga tak terasa pukul dua kita meninggalkan pantai ini untuk melanjutkan perjalana kita ke tempat snorkeling yang terakhir.
Berenang bersama ikan
Lokasi yang terakhir adalah Pulau Menjangan kecil, di sini terumbu karangnya kurang lebih seperti spot yang sebelumnnya, namun ikannya sangat banyak hanya dengan modak remah-remah roti maka mereka akan berkumpul di sekeliling kita. Karena tidak membawa roti maka sayapun coba untuk membawa wafer  yang menjadi snack kami ke dalam air, ternyata ini lebih efektif untuk menarik perhatian ikan untuk berkumpul karena tidak mudah hancuk sehingga ikan-ikan bergerombol untuk mengigitinya, bahkan tangan saya juga ikut digigit oleh ikan, rasanya seperti dicubit ringan oleh ikan-ikan lucu tersebut, lumayan fish teraphy gratis langsung dari sumbernya yang alami.
Bermain-main dengan ikan sungguh mengasyikan, walaupun tidak menikmati terumbu karangnya namun spot ini yang menjadi favorit saya di Karimunjawa ini, berenang bersama ribuan ikan merupakan pengalaman yang tak terlupakan, sungguh penutup yang benar-benar mengesankan. Namun di Karimunjawa ini ketika snorkeling saya tidak menemukan ikan badut lucu yang suka bermain di anemon yang yang gemulai, kalaupun ada itupun cuma di Penangkaran hiu di pulau Menjangan Besar kemaren. Pantas saja teman saya dari Surabaya yang datang ke Kalsel penasaran dengan Pantai Angsana yang banyak ikan badutnya yang narsis-naris dan suka mengajak bercanda yang saya tuliskan di blog satunya karena katanya sebelumnya  di Kerimun Jawa dia tidak bisa bertemu ikan yang menjadi bintang Film ini.
Action dulu deh
Haripun semakin sore hingga kita kembali ke pulau utama, namun kita langsung kembali ke homestay masing-masing tidak mampir terlebih dahulu untuk menikmati sunset. Oh ya, listrik di Pulau Karimunjawa ini hanya ada dari pukul 6 sore sampai pagi, sehingga begitu balik ke homestay kita langsung berebut untuk mengisi alat elektronik yang sudah habis. Walaupun sebagai ibu kota kecamatan namun kampung utama Karimunjawa tidak terlalu besar, dengan berjalan kaki beberapa menit kita bisa langsung sampai ke ujungnya, namun tertata rapi, di setiap perempatan ada tong air yang diletakan di tengah, angkutan umum yang tersedia hanya becak dan ojek.
Malam harinya kita makan-makan bersama di sekretariat SukaWisata sambil mengopy foto underwater dari kamera mereka, karena masing-masing kita membawa flashdisk hingga kita harus antri untuk minta foto-foto tersebut, setelah makan kita ke pusat toko sovenir untuk membeli oleh-oleh, walau saya tidak ikut membeli dan cuma menemani. Di toko-toko yang bejejer ini banyak yang menjual kaos dan gantungan kunci yang terbuat dari fiberglass, saya tidak menemukan sesuatu yang betul-betul unik yang hanya ada di Karimunjawa, walau ada ukiran-ukiran namun berasal dari Jepara.
Memberi makan air.
Bagi teman-teman yang ingin melakukan perjalanan indevenden ala backpacker di pulau ini banyak pilihan homestay yang murah, untuk menyeberang KM. Muria merupakan transfortasi yang cocok, namun harus menyesuaikan jadwal penyebrang, karena sehari di Jepara dan sehari di Karimunjawa. Yang jadi masalah adalah sewa perahu untuk snorkeling trip mengelilingi pulau-pulau di sekitar Karimunjawa, harganya sekitar Rp. 300.000 hingga Rp. 400.000, cara untuk menyiasatinya adalah dengan mencari rombongan lain untuk saharing cost menyewa perahu sehingga bisa menjadi lebih murah, peralatan snorkelingpun banyak tempat yang menyewakanya dengan rate sekitar Rp. 35.000. bagi yang ingin berkeliling pulau bisa ddengan menyewa sepeda maupun sepeda motor kepada penduduk setempat.
Taman Nasional Laut Karimunjawa ini diresmikan menjadi Taman Nasional oleh Mentri Kehutanan pada tahun 2001, dari gususan pulau-pulau yang berjumlah 27 ini hanya 5 buah pulau diantaranya Pulau karimunjawa, Pulau Kemujan, Pulau Parang, Pulau Nyamuk dan Pulau Genting. Pulau Karimun menjadi pusat kecamatan yang terletak sekitar 83 km dari kota Jepara, di pulau ini juga tersedia Puskesmas yang mempunyai gedung baru, sekolah juga ada dari SD sampai SMA.
Nama Karimunjawa berasal dari zaman Sunan Muria , beliau melihat pulau-pulau di Karimunjawa sangat samar dari Pulau Jawa, selain itu ada juga makan kiyai yang dikeramatkan oleh penduduk setempat yang bisa dijadikan sebagai alternatif wisata di pulau ini.
Untuk menuju Karimunjawa dicapai dengan cara dari Semarang menggunakan Bus menuju Jepara dengan perjalanan sekitar 1,5 jam, dan dari Jepara (Pelabuhan Kartini) menuju Karimunjawa menggunakan Fery KM. Muria dengan perjalanan sekitar 6-7 jam dan jadwal kapalnya selang-seling, sehari di Jepara sehari di Karimunjawa. Sedangkan dari Semarang juga bisa menggunakan kapal cepat KM. Kartini dan tentunya dengan biaya yang lebih mahal.
Akhirnya kita harus meninggalkan Pulau penuh kenangan ini, di jemput pagi-pagi di homestay kemudian menjemput teman-teman yang lain di tempat lain eh ternyata mereka ada yang belum siap, bahkan ada yang belum mandi. Namun ternyata akhirnya saya yang ditinggal oleh mobil “Kemana-kemana” menuju dermaga besar, akhirnya saya memutuskan untuk berjalan kaki sambil lebih memperhatikan perkampungan di Karimunjawa ini, kemudian di dermagapun saya lebih dulu ke dermaga tempat para nelayan yang sedang membongkar hasil tangkapannya hingga akhirnya saya yang terakhir ditunggu untuk masuk kapal.
Kembali mengarungi laut menuju pelabuhan jepara di dalam perut KM. Kartini selama 6 jam, perjalanan pulang ini goncangan lebih berasa karena ombak sudah mulai agak besar. Sesampainya di Jepara kita terlebih dahulu naik becak menuju terminal dengan biaya Rp. 10.000, lalu naik bus kecil menuju semarang terlebih dahulu bersama-sama dengan mas Eko, guide kita yang ramah. Saya berencana terlebih dahulu menuju Jogjakarta untuk menemui adik saya yang kuliah di sana, namun karena tidak ada Bus langsung dari Jepara ke Jogja kita ke semarang terlebih dahulu baru kemudian mencari bus yang menuju Jogja, dan untungnya kita sempat naik bus yang terakhir, eh ternyata bus ini Cuma sampai Magelang dan kita para penumpangnya diover ke Bus lain.
Share on Google Plus

About backpackerborneo.com

Adalah sebuah travel blog oleh Indra Setiawan, media untuk memperkenalkan wisata dari Kalimantan dan catatan perjalan menikmati keindahan Indonesia. Silahkan like facebook Backpacker Borneo, follow Instagram @backpackerborneo dan follow juga Twitter @bpborneo untuk update informasi terbaru .

3 komentar :

  1. ini merupakan informasi yang patut saya apresiasi. rasanya pengenalan terhadap potensi yang kita punya merupakan suatu keharusan. inilah bentuk kesyukuran kita terhada Tuhan YME

    BalasHapus
  2. Sangat bermanfaat bagi yang ingin berlibur kesana.
    Untuk info paket berwisata, kunjungi http://karimunjawamenjanganresort.com

    BalasHapus
  3. saya terakhir kesini 7 tahun yang lalu :)

    BalasHapus