(Kindly Flores) Ramahnya Warga Bena dan Panasnya Air Panas Soa

Cerita sebelumnya menuju Bajawa bisa dibaca di Dinginnya Kota Bajawa, atau klik di sini.
Kumandang azan Subuh membangunkan saya, ketika berwudhu airnya terasa sangat dingin bagai air yang baru keluar dari kulkas, tampaknya di sini kulsas bakal tak terpakai karena untuk mencari air dingin tidak perlu susah-susah. Seperti yang saya rencanakan sebelumnnya hari ini saya ingin mengunjungi desa adat Bena dan pemandian air panas di Soa.
Kampung Bena
Sebelum berangkat saya terlebih dahulu mencari sarapan, namun tampaknya yang banyak di sini hanyalah Warung Padang yang harganya lumayan, akhirnya terpaksa saya makan di sana, namun walau kali ini agak murah namun yang menjual tidak ramah, hingga saya tidak berencana untuk makan yang kedua kalinya disini.
Sambil smsn dengan Rizal yang sudah pernah ke Bajawa jadi tau informasi lebih banyak tentang bagaiman menuju Bena, saya berjalan menuju pasar Bajawa atau ada juga yang menyebutnya pasar Inpres. Dari sinilah saya akan mencari ojek untuk menuju Desa adat Bena dan setelah tawar menawar dengan seorang tukan ojek akhirnya dapatlah harga Rp. 20.000 untuk mengantarkan saya ke desa megalit itu. Sebenarnya selain dengan ojek bisa juga dengan naik angkot yang terbuat dari truk yang telah dimodifikasi dibuat tempat duduk dibagian belakangnya, tarifnya hanya Rp. 5.000. Namun angkotnya hanya sewaktu-waktu alias sangat jarang.
Untuk menuju Desa Bena kita melalui jalan utama kemudian di sebuah pertiaang di dekat gereja kita belok kiri menuju ke arah Desa Luarekeo, namun ternyata jalannya ditutup karena sedang ada acara sehingga kita harus memutar lebih jauh lagi. Menuju desa yang masih tradisional ini kita disungguhi oleh suasana yang sangat damai dan tenang, banyak kebun kopi penduduk yang kita lalui, kita juga banyak melalui jalan turunan dan mendaki karena desa Bena terletak di lereng Gunung Inerie.
Kurang lebih 30 menit akhirnya kita tiba juga di Desa Bena, saya langsung menuju pos penjagaan untuk mengisi buku tamu. Di sini kita tidak dipungut biaya masuk hanya donasi sukarela saja yang bisa kita masukan kedalam sebuah kotak yang sudah disediakan, di dinding tampak sebuah kertas yang berisi jadwal penjagaan oleh beberapa suku yang mendiami desa bena.
Pak Yoseph
 Begitu memasuki desa Bena saya langsung merasa terlempar kembali kemasa lalu saat masih jaman batu, tampak banyak berserakan alat-alat yang terbuat dari batu. Di depan rumah yang pertama tampak seorang bapak  duduk, lalu sayapun menghampiri beliau dan ternyata beliau sangat mengetahui tentang sejarah Desa ini, sambil mendengarkan penjelasan beliau tangan sayapun sibuk untuk mencatat seperti mesin ketik. Dan lagi-lagi separti orang flores lainnya bapak yang bernama Joseph ini bercerita kalau dia punya teman akrab di kalimantan, di nitip salam sama temannya itu. Duh, disangka Pulau Kalimantan kecil kali ya..:-)
Yang mendiami desa Bena ini ternyata ada sembilan suku yang berbeda yaitu suku Bena, Suku Kopa, Suku Ngadha, Suku Ago, Suku Dizi Azi, Suku Solo Mai, Suku Laiu Lewa, Suku Wato dan Suku Dizi Kae. Menurut pak Joseph dulunya kampung ini adalah sebuah Kapal dengan ukuran 350m X 80m yang kemudian terdampar karena tidak bisa melanjutkan perjalanan lagi karena terhalang oleh gunung Inerie.
Rumah-rumah di Bena
Warga Bena
Masyarakat Bena menganut sistem matrirkat, yaitu posisi perempuan lebih tinggi dari laki-laki. Ketika seorang laki-laki dan perempuan dari desa tersebut menikah maka mereka harus tinggal di rumah keluarga perempuan, untuk membedakan antara rumah keluarga laki-laki dan perempuan kita bisa melihat dari boneka yang ada di atas atap, di keluarga laki-laki bonekanya memegang tombak sedangkan keluarga perempuan di atas atapnya ada sebuah miniatur rumah kecil. Di depan rumah tampak terlihat tengkorak kerbau dan tulang seperti iga dan rahang hasil upacara adat yang telah dilakukan, semakin banyak tengkorak kerbau berarti semakin sering pemilik rumah tersebut melakukan upacara.
Batu Menhir di tengah Kampung
Yang membuat saya betah di Kampung Bena adalah keramahan warganya, mereka selalu tersenyum dan mengucapkan selamat pagi kepada setiap orang yang ada di sana. Tak lupa saya berintraksi dengan mereka, dua orang nenek yang sedang duduk di depan rumah sangat bersahabat ketika saya ajak ngobrol, sayangnya mereka juga tidak tahu arti dari ukiran yang ada di teras depan rumahnya ketika saya tanyakan, katanya itu sudah tradisi turun temurun.
Tengkorak Kerbau
Ada beberapa rumah yang tampaknya masih baru, baru sekitar dua bulan lalu dibangunnya, namun tetap dalam bentuk seperti rumah tradisional seperti yang ada di kampung Bena yang lainnya. sayapun tak lupa untuk sekedar melihat seperti apa bentuk dalam rumah mereka, setelah minta izin dari sorang penduduk yang juga pengurus koperasi di sana sayapun masuk ke dalam, hanya ada dua ruangan di dalam rumah, yang pertama digunakan untuk beristirahat dan menerima tamu sedangkan ruangan yang kedua digunakan sebagai dapur, dan tentunya dapur yang tradisoinal juga dengan bahan bakar dari kayu, tampak juga alat masak seperti kuali yang digunakan untuk memasak.
Mayoritas penduduk bekerja sebagai petani, sedangkan kaum perempuan mengisi waktu dengan menenun di depan rumah, ada juga yang menjual biji vanili dan oleh-olah khas flores seperti kain tenun ikan hasil buatan mereka sendiri, ada yang berbentuk kain yang harganya sekitar Rp. 300.000 sampai syal yang berharga Rp. 75.000. dan semuanya “hand made”.
Santai di ujung Kampung
Di ujung desa kita bisa menikmati pemandangan Gunung Inerie yang tampak berdiri gagah dan seluruh desa juga terlihat dari sini, di tempat ini sudah dibuat tempat untuk beristirahat. Fasilitas seperti toilet juga sudah ada di sediakan bagi para pengunjung. Di bagian tengah kampung yang berundak tampak batu-batu yang berbentuk aneh-aneh seperti dari jaman dahulu. Mirip seperti desa di Galia yang ada di komik “Asterix dan Obelix”. Puas berkeliling di Bena saya kembali ke kota Bajawa untuk melanjutkan pertualangan saya.
Setelah pulang dari “Desa Asterik” saya kembali ke Bajawa dan minta Tarsi untuk menurunkan saya di Pasar Inpres, saya pun berkeliling untuk melihat-lihat pasar ini, seperti pasar tradisional lainnya pasar ini banyak menjual bahan pokok sehari-hari, dari baju hingga ikan dan sayuran. Tujuan saya selanjutnya dalah pemandian air panas Mengeruda di Soa, namun kali ini saya tidak naik ojek dan saya memilih naik angkot karena kata Mas tarmizi ada banyak angkot yang menuju Soa sehingga tidak perlu naik ojek lagi. Di persimpangan saya menunggu angkot yang bertuliskan “Soa” di samping belakangnya, akhirnya ada yang lewat dan hanya saya sendiri yang menjadi penumpangnya. 
Dapur rumah di Bena
Sebelum ke Soa saya terlebih dahulu dibawa mampir ke sebuah bengkel untuk menemui bosnya dan saya disuruh menunggu, setelah itu barulah kita melanjutkan perjalanan, seperti jalan-jalan lainnya di Flores jalan menuju Soa pun jarang ada yang lurusnya, naik turun kemudan balok kiri kanan. Tampak di sepanjang jalan banyak masyarakat yang menambang batu di tebing yang rawan longsong, sopir memberitahu saya untuk menahan napas karena didepan akan ada bau tak sedap seperti bau kentut karena bau belerang. Bagi yang tak tahan bau disarankan untuk membawa masker supaya tidak mabok darat karena mencium baunya.
Angkot di Folres menurut pengamatan saya pada umumnya kursi untuk penumpang di belakan dibuat sangat tinggi, seperti di Ende hingga di Bajawa yang saya naiki sekarang, setelah saya tanyakan ternyata kursi sengaja ditinggikan untuk menaroh speaker di bawah sana, menaiki angkot di sini selalu full musik, dari dangdut, pop sampai lagu daerah. sehingga tampaknya kalau tidak full musik dan aksesoris mobil angkot menjadi kurang keren.
Saya punya firasat buruk karena sejak tadi hanya saya sendiri yang menjadi penumpangnya, dan betul saja ketika sampai di persimpangan saya diturunkan dan ditagih Rp. 10.000 dari yang biasanya Cuma Rp. 5.000. Ketika saya tanyakan kenapa tidak sampai ke dalam katanya di dalam kalau sudah jam siang seperti ini akan susah mendapatkan penumpang dan dia mau mengantar asal dibayar Rp. 20.000. Akhirnya  sayapun turun di situ dan mencari ojek atau angkot yang menuju pemandian air panasnya.
Pintu masuk pemandian Air Panas
Sekian lama saya menunggu tidak ada juga angkot yang lewat, demikian juga ojek karena tak tampak seorangpun yang ada disekitar saya yang bisa dijadikan tempat untuk bertanya. Akhirnya ada seorang bapak yang lewat dan kemudian saya panggil apakah mau mengantarkan saya ke dalam, namun dia minta Rp. 10.000 dan itu bukanlah tarif yang wajar sehingga saya minta Rp.5.000 namun dia menolak kemudian dia pergi. Sayapun kembali menunggu di bawah pohon mangga yang melindungi dari panasnya sengatan matahari.
Ternyata tak lama bapak ini kembali dan kemudian akhirnya mau mengantarkan saya (Alhamdulillah), menuju pemandian air panas tampak lebih gersang dan pepohonan menjadi jarang, kita juga melalui sebuah bandara kecil yang dimiliki oleh kabupaten Ngada. Saya diantar sampai kedepan pintu masuk pemandian air panas ini, di parkiran hanya tampak dua buah mobil dan beberapa motor, saya menebak bahwa sangat sedikit orang didalam.
Sungai yang hangat
Untuk masuk ke pemandian air panas Mengeruda ini kita dikenai tarif sebesar Rp. 3.000, sedangkan untuk WNA dikenakan tarif masuk Rp.5.000. Yang menjaga pintu masuk dan penjualan karcis ternyata adalah anak-anak SMK yang lagi magang, ketika mendengar saya sendiri dan dari dari Kalimantan merekapun bertanya “kok berani?”, sayapun menjawab apa yang ditakutkan, karena selama masih ada ada orang Indonesia saya tidak takut, karena kita semua bersaudara. 
Begitu masuk ke dalam saya sudah disambut dengan rusaknya bangunan, lantainya jebol sangat besar, begitu juga dengan atapnya, saya masuk ke dalam dan ketika mencari kamar mandi untuk ganti baju saya ditunjukan bahwa kamar mandi ada di bagian belakang, sebenarnya juga ada di tengah namun keadaannya sangat menggenaskan, setelah ganti celana saya berencana untuk berendam di air panas itu, namun setelah melihat kolamnya yang kering dan tak terawat membuat saya mengurungkat niat, saya hanya duduk saja, ketika ingin mencari tempat untuk beristirahatpun sangat susah karena walaupun banyak pepohonan tapi bangunannya banyak yang rusak dan kotor. 
Korban Vandalisme
Sumber air panas berada di bagian tengah, sudah dikelilingi oleh semen dan di bawah pohon yang rindang, ketika saya berdiri di tepi kolam terasa uap panas yang keluar dari panasnya air. Ada dua buah warung yang memjual makanan kecil serta bir di sini, yang pertama seperti kios kecil di bagian tengah sedangkan yang kedua berada di bangunan yang terbuat dari bambu dan berbentuk seperti restoran, di pintu tampak hiasan-hiasan yang terbuat dari bambu seperti gambar komodo, rumah adat, serta bnetuk-bentuk lain yang saya tidak mengerti, di atas pintu terdapat tulisan “Maromay” yang katanya berarti Selamat Datang, setelah saya masuk ke bagian dalam ternyata ada yang ditangkap olah perjaga warung di sungai. Ada sungai yang mengalir deras di pemandian air panas ini, airnyapun berasa hangat, tampak beberapa bule yang sedang berendam di sungai, waktu itu hanya ada saya dan beberapa orang bule yang menjadi pengunjung tempat ini.
Kolam yang Kering
Sayang sekali tempat seperti ini kurang terawat, begitulah aset wisata yang dikelola oleh pemerintah. Padahal tempat ini bisa menjadi salah satu tempat alternatif bagi wisatawan yang sedang berkeliling di Pulau Flores setelah datang dari Danau Kelimutu dan Taman Nasional Komodo. Selain itu kurangnya kesadaran masyarakat sekitar untuk menjaga fasilitas yang ada, hal ini terbukti dari banyaknya tulisan-tulisan di dinding dan bangunan yang ada. Vandalisme memang selalu ada di setiap objek wisata yang saya kunjungi selama ini, budaya narsis masyarakat yang salah diekpresikan menjadikan tempat indah menjadi kotor. Sebenarnya cukup dengan foto kita sudah bisa menunjukan bahwa “I have been There” tanpa harus menulis-nulis nama kita di batu atau dinding bangunan.
Welcome to Mangeruda
Keluar dari Pemandian Air Panas Mengeruda ini saya harus kembali memikirkan cara untuk pulang, karena hari biasa seperti ini tidak ada angkot yang datang ke sini, sayapun ikut ngobrol-ngobrol di loket masuk walau kadang saya tidak  mengerti apa yang mereka bicarakan, untuk mencari ojek saya disarankan untuk berjalan keluar, namun ada seorang pemuda yang sedang menunggu temannya yang pada awalnya keberatan setelah diajak ngobrol akhirnya mau mengantarkan saya ke depan untuk menunggu angkot.
Untungnya tidak lama menunggu ada angkot yang lewat, angkot ini kembali harus berhenti agak lama untuk mengambil peralatan musik bekas acara kemudian diletakan di atas atap, tidak seperti berangkat tadi kali ini saya langsung menyerahkan uang Rp. 5.000 tanpa bertanya karena memang segitu tarif angkot biasanya.
Setelah mampir sebentar ke mesjid saya kembali jalan-jalan di sekitar Bajawa, ternyata di seberang mesjid ini ada sebuah gereja, ini melambangkan tingginya tenggang rasa diantara penduduk kota Bajawa. Berjalan sekitar 500 meter ada sebuah lapangan bola atau mungkin bisa disebut alun-alun karena dibagian ujungnya ada taman dan seperti panggung, di sebelah lapangan ini juga ada sebuah gereja yang besar dengan arsitektur khas belanda, memang masih banyak rumah-rumah peninggalan belanda dulu yang masih bertahan di kota Bajawa ini yang katanya dulunya berasal dari pemukiman belanda kemudian berkembang hingga seperti sekarang ini.
Pos penjualan tiket masuk
Kota Bajawa tidak terlalu luas, namun lokasinya yang dikelilingi oleh bukit dan berada di ketinggian diatas 1000 meter di atas permukaan laut membuatnya selalu sejuk, tempaknya inilah kota idaman bagi orang-orang yang tinggal di kota besar, segar dan bebas polusi serta jauh dari kebisingan.
Besok pagi saya harus bangun pagi-pagi untuk mengejar bus yang menuju Labuhan Bajo, kota terakhir yang menjadi tujuan saya di Pulau Flores ini. Kota yang menjadi pion pemberangkatan menuju Taman Nasional Komodo yang terkenal karena satu-satunya hewan purba yang masih sanggup bertahan hingga kini. Jadi tak sabar untuk melihatnya, selain itu bawahlautnya juga terkenal indah hingga saya berencana ke sana tidak hanya untuk bertemu mas Komo, tapi juga untuk menikmati bawah lautnya, walau hanya dengan snorkeling karena masih belum memiliki sertifikat selam.
Share on Google Plus

About backpackerborneo.com

Adalah sebuah travel blog oleh Indra Setiawan, media untuk memperkenalkan wisata dari Kalimantan dan catatan perjalan menikmati keindahan Indonesia. Silahkan like facebook Backpacker Borneo, follow Instagram @backpackerborneo dan follow juga Twitter @bpborneo untuk update informasi terbaru .

2 komentar :

  1. Luar biasa, Indonesia !

    BalasHapus
  2. Halo Admin / Blogger :)

    Saya sangat suka dengan postingan foto-fotonya :)
    Perkenalkan, saya Dewi dari tim kumpulbagi. saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi foto-foto,video,menggunakan disk online yang lain untuk tujuan promosi ? :)
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Anda bisa dengan bebas mmengupload foto-foto,video dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    Terima kasih.

    Salam.

    BalasHapus