(Raja Ampat #4) Saporkren, Sarangnya Burung Cendawasih

Tulisan hari sebelumnya di Teluk Kabui Bisa dibaca Disini.
Hal lain yang tak bisa dilepaskan dari Papua adalah Burung Cendrawasih, jadi rasanya akan terasa kurang jika tak melihat sendiri Bird of Paradise ini di habitat aslinya. Pak orgenes Diamara, motoris kita kemarin ke Teluk Kabui tak henti-hentinya mempromosikan lokasi untuk melihat burung cendrawasih yang baru dirintisnya, bahkan sampai Kapolres Raja Ampat yang kebetulan berkunjung ke Saleo juga tak luput dari sasaran promosinya.
Untuk melihat burung cendrawasih sebenarnya ada dua waktu yaitu ketika dia mencari makan pagi dan sore, saya memilih pagi hari untuk menyaksikannya. Pukul 5 pagi kita berangkat dari Homestay ketika mata masih ngantuk-ngantuknya, apalagi ketika melihat di jam tanganku masih menunjukan pukul 3 pagi. Memang ada 2 jam perbedaan antars di Papua dengan tempat saya di Kalimantan.
Ujung dan Dermaga Desa
Sesampainya di ujung desa kita langsung menambatkan perahu dan berjalan di kegelapan pagi, sebuah tongkat sudah disiapkan Pak Orgenes sebagai bantuan karena sebelum sampai lokasi kita harus naik dan naik bukit sampai ke puncaknya.
Setelah hampir satu 45 menit berjalan dengan napas yang ngos-ngosan dengan diselingi dengan buang hajat di semak-semak akhirnya sampai juga di lokasi. Kicauan burung Cendarawasih menyambut kedatangan kami, namun burungnya masih belum terlihat dengan jelas karena berada di puncak pohon tertinggi. Kita menuju ke tempat yang lebih tinggi yang mana sudah dibuatkan tempat duduknya dan bisa menonton tarian Burung Cendrawasih.
Burungnya di atas sana..:-)
Total ada sekitar 16 ekor Cendrawasih yang ada di tempat ini, lokasinya yang masih baru membuat tempat ini masih terjaga, dilihat dari buku tamu yang dibawa Pak orgenes masih sekitar 70 orang yang kesini. Selain melihat cendarawasih juga ada burung-burung lain seperti Nuri Biru serta burung yang menjadi icon Backpacker Borneo. “Itu burung seperti yang ada di bajumu” kata Pak Orgenes. Kita juga dapat bonus dengan melihat pemandangan laut dan pulau-pulau sekitarnya dari atas rumah pohon yang dibuatkan.
Keterbatasan camera pocket :-(
Turun dari atas bukit kita mampir sebentar di Desa Saporkren, desanya tampak rapi dengan pagar di depan rumah mereka. Rata-rata penduduk di sini berprofesi sebagai nelayan dan ibu-ibunya juga ikut mencari ikan di sermaga yang berada di ujung kampung.
Sekitar desa Saporkren
Ada dua dermaga desa ini, yang pertama ditengah desa kemudian yang kedua berada di ujung desa, yang di ujung inilah tempat banyak ibu-ibu yang memancing . selain suasananya nyaman karena banyak pohon kelapa pemandangan juga tak kalah Indah.
Cara memancing ibu-ibu ini juga cukup unik karena tanpa umpat hanya dengan mata kail yang dilepaskan ke tengah kumpulan ikan kemudian ditarik dengan tiba-tiba, ikannya ada yang tersangkut di kepala, badan, sirip dan tempat yang tak umum untuk sebuah hasil pancingan. Yang tak kalah menakjubkan adalah kumpulan ikannya yang sangat banyak hingga membuat dasar laut di depan pelabuhan terlihat menghitam.
Dermaga tempat mancing
Ketika kembali ke tempat kedatangan kita tadi ternyata Longboat kita sudah berada di tengah pantai karena air laut yang telah surut. Lama kita menunggu di pantai sampai akhirnya kita minta bantuan anak muda yang kebetulan lewat untuk membantu mendorong kelaut karena perut sudah mulai keroncongan.
Siang harinya setelah makan saya ikut menumpang ke Waiwo dengan Kak Inyong yang akan menuju Waisai. Waiwo adalah satu-satunya resort milik lokal di Raja Ampat dan termasuk paling murah juga, ternyata resort ini juga terbagi dua, sebelahnya milik pemerintah dan sebelahnya yang yang lebih bagus milik orang pemerintah alias milik pribadi.
Di depannya juga ada lokasi untuk besnorkeling memanjang hingga ujung pantai yang berarus deras, inilah yang akan saya tuju. Namun ternyata terumbu karangnya sudah banyak yang rusak sehingga saya tidak menyelam begitu lama. ikan-ikannya yang bergerombol di sekitar dermaga menjadi hiburan tambahan di sini. Kalau orang-orang biasanya memberi ikannya dari atas dermaga, saya berenang diantara ikan-ikan di bawahnya.
Anak Papua, menyatu dengan alam

Tak lama hujunpun turun dengan derasnya sehingga saya harus beteduh di dermaga sambil menunggu Kak Inyong yang belum kembali dari kota, sambil ngobrol-ngobrol dengan rombongan yang ternyata salah satunya adalah Camat Saonek, ketika mendengar saya dari Kalimantan Tengah dan sendiri pula mereka hampir tidak percaya, tapi saya sudah biasa dengan ekspresi ini karena kemana-mana selalu Solo backpacking.  Namun yang membuat saya juga agak terkejut karena beberapa minggu sebelumnya menurut para pegawai resort ini Bupati kabupaten saya juga menginap di sini, pejalan juga rupanya. Atau mumpung ada fasilitas ya??
Share on Google Plus

About backpackerborneo.com

Adalah sebuah travel blog oleh Indra Setiawan, media untuk memperkenalkan wisata dari Kalimantan dan catatan perjalan menikmati keindahan Indonesia. Silahkan like facebook Backpacker Borneo, follow Instagram @backpackerborneo dan follow juga Twitter @bpborneo untuk update informasi terbaru .

10 komentar :

  1. Nah loh, dari Kalimantan yang di tengah2 Indonesia aja pada ga percaya. gimana begitu tau ada yg dari Lampung yak? dr ujung ke ujung wkwk

    BalasHapus
  2. haha..tpi tenaaang...Tuhan bersama para Backpacker kok..:-)

    BalasHapus
  3. amin... semoga kali ini dapet grup buat ke wayag ya bang, bdoa buat yg tbaek... ato nyusul lg aja gmana? mei :D

    BalasHapus
  4. amiiiiin...boleh deh nyusul,tpi bayarin ya...hahaha
    Maret q mo exsplor ujung barat Indonsia..

    BalasHapus
  5. Indahnyaaaaaaaaaaa pemandangan alam di Papua *kapan ya kesana* jauh sekali*

    Salam kenal ya mas Indra :D

    BalasHapus
  6. Indonesia timur memang surga deh..hehehe #nabung #nabung #nabung

    BalasHapus
  7. Luar biasa alam bwh lautnya...terrtarik pengen kesana. Btw, homestay nya 250 rb per kamar dan boleh diisi dgn 2 atau 3 org kah...

    BalasHapus
  8. bisa kok..tapi itu bayarnya perorang...klo sampe tiga orang mendingan ambil di Waiwo aja...limaratusan..jadi bisa di share bertiga...

    BalasHapus
  9. wahh memang papua tidak ada habisnya :)

    BalasHapus