Terdampar di Pulau Saonek, Raja Ampat

Laut biru begitu lapang
Dan gelombang menghalau bosan
Petualang bergerak tenang
Melihat diri untuk pergi lagi

Ya sejenak hanya sejenak
Ia membelai semua luka
Yang sekejap hanya sekejap
Ia merintih pada samudera

Sebebas camar engkau berteriak
Setabah nelayan menembus badai
Seikhlas karang menunggu ombak
Seperti lautan engkau bersikap

Petualang merasa sunyi
Sendiri di hitam hari
Petualang jatuh terkapar
Namun semangatnya masih berkobar

Petualang merasa sepi / merasa sunyi
Sendiri dikelam hari
Petualang jatuh terkulai
Namun semangatnya bagai matahari

Suara Iwan Fals dengan lagunya  Sang Petualang  mengalun pelan dari handphone butut yang berada di samping saya, begitu mengena dengan suasana hati saya saat ini.

Sendirian...

Merasa bosan...

Di kejauhan, tampak ombak yang memutih bergulung-gulung disertai angin yang bertiup cukup kencang, pasir putih nan lembut yang membentang luas di hadapan saya berpadu dengan langit biru, dan saya di sini, masih di atas sebuah kursi yang mulai lapuk, tempat saya bermalas-malasan sejak  pagi.
  
Pantai Pulau Saonek
Sudah dua hari saya  terdampar di sebuah pulau kecil di ujung timur Indonesia, Pulau Saonek namanya. Pulau ini dulunya sempat menjadi ibu kota Raja Ampat, namun sejak Raja Ampat dimekarkan menjadi kabupaten sendiri dan berpisah dengan Sorong, maka ibu kota kabupaten dipindah ke Waisai.

Walaupun berhasil mencapai Raja Ampat yang terkenal dengan keindahan alamnya dan mahal, namun tak pernah ada satu malampun saya menginap di hotel atau resort mahal, saya lebih suka menginap di penginapan murah untuk menghemat biaya.

Beruntung, ketika mengutarakan niat saya untuk mengunjungi Pulau Saonek pemilik penginapan tempat saya bermalam sebelumnya menawarkan untuk tinggal di rumah adiknya. Sebuah keluarga sederhana yang menganggap saya seperti anggota keluarga mereka, padahal saya adalah orang yang tak mereka kenal sama sekali sebelumnya.

Rencana untuk berkeliling ke pulau-pulau sekitar harus tertunda karena ombak di lautan masih lumayan besar, kapal kecil yang sedianya akan mengantarkan saya berkeliling tidak berani untuk menantang sang alam.


Akhirnya di sinilah, di tepi pantai saya menghabiskan waktu dengan sebuah buku. Ketika buku habis tanpa sadar saya meraih handphone yang tidak bersinyal dan memutar musik, hal yang sebenarnya jarang saya lakukan.

Dan mengalirlah suara dari sang legendaris musik Indonesia tersebut, mendengarkan bait demi bait lirik lagu tersebut membuat saya sadar dan kembali bersemangat.
Yup, saya tidak boleh kalah hanya karena ombak, masih banyak hal yang bisa dilakukan. Perlahan-lahan saya bangkit dan berniat untuk  kembali menuju rumah keluarga baru saya tersebut, namun ternyata di perjalanan saya memilih untuk kembali duduk, tidak sendiri, membaur bersama masyarakat pulau kecil ini.
Dari salah satu orang tua saya mengetahui bahwa katanya ada sebuah batu di pantai bagian belakang pulau yang ketika surut terlihat sebuah pahatan mirip laki-laki yang sedang sholat, bahkan ketika kita membaca bacaan tertentu katanya kita bisa bertemu di dalam mimpi dengan penghuni batu tersebut.
Saya juga diperlihatkan sebuah foto di handphone salah seorang penduduk, di kegelapan malam tampak seberkas cahaya terang, namun kurang jelas karena resolusi foto itu tidak terlalu tajam. Ternyata itu adalah foto Pulau Saonek Monde yang tepat berada di pulau yang saya pijak sekarang ini, katanya cahaya itu muncul ketika sedang dilakukan pembangunan mesjid di pulau Saonek yang memang dihuni oleh mayoritas masyarakat muslim.
Entahlah, terlepas dari kepercayaan mereka hanya Tuhan lah yang tau kebenarannya.
Yang katanya mirip orang sholat
Sebuah musik memang kadang bisa membangkitkan perasaan diri kita, baik itu sedih, senang, haru, gembira. Tergantung ketepatan lirik dengan perasaan yang dialami waktu ini. Namun bagi saya, musik adalah pembangkit semangat ketika saya sedang lelah, frustasi, dan merasa sendiri di dalam perjalanan yang memang sering saya lakukan seorang diri.

Sebebas camar engkau berteriak
Setabah nelayan menembus badai
Seikhlas karang menunggu ombak
Seperti lautan engkau bersikap

Ya sang petualang terjaga
Ya sang petualang bergerak
Ya sang petualang terkapar
Ya sang petualang sendiri

Happy Responsible Travel.
Share on Google Plus

About backpackerborneo.com

Adalah sebuah travel blog oleh Indra Setiawan, media untuk memperkenalkan wisata dari Kalimantan dan catatan perjalan menikmati keindahan Indonesia. Silahkan like facebook Backpacker Borneo, follow Instagram @backpackerborneo dan follow juga Twitter @bpborneo untuk update informasi terbaru .

23 komentar :

  1. Selalu ada cerita disetiap perjalanan .... Semoga menang yaa kakak, doaku menyertaimu :-)

    BalasHapus
  2. Kadang kita menemukan titik paling rileks dari diri kita saat sedang menikmati indahnya dunia... seperti duduk dibawah pohon pinggir pantai sambil mendengar musik...XD

    BalasHapus
  3. btw ini sekalian honey moon ga kak indra?

    BalasHapus
  4. hai backpacker indra....

    saonek?
    ejie pun sudah kemari dan senang kok meski tak jadi ke pusat inti raja ampat nya karena kapal yang terlalu besar dan pertimbangan lainnya. perjalanan yang terjadi adalah rezeki yang kita dapatkan. terdampar mungkin menjadi suatu cerita bagi kita jika bisa memanfaatkannya. is that true?? i think, depend on the site of us.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. haaiii Ejie..

      yup..defenetly true..terganting gimana kita menyikapi masalah yang ada tersebut..

      Hapus
  5. Sepi banget di sana ya, kurang panjang ceritanyaaaa :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cerita lengkapnya ada di buku Traveling Note Competition kak..hehe

      Hapus
  6. Gak nahan abis puisinya mas brohhhh :))

    BalasHapus
  7. Suka banget sama foto yang paling atas, biasanya kerang yang suka aku foto model begitu.. cakep!

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang kerang sebetulnya juga ada..tapi gak di masukin sini..hehe..

      Hapus
  8. Keadaan alam sekitar yang semula jadi.. memang seronok untuk menenangkan fikiran :D

    BalasHapus
  9. tempatnya menarik bangeett..
    foto-fotonya kurang banyak hehehehe

    BalasHapus
  10. Keren Raja Ampat, dulu saya pernah tugas kantor ke sana, dan pengen kesana lagi, pantai dan lautnya bagus banget, dulu saya di teluk aljui :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Raja Ampat emang selalu bikin pengen balik lagi.

      Hapus
  11. Thanks untuk informasinya enak dehhh siang siang di pinggir pantai sambil menikmati anging yang sepoy sepoy g2 hheheheh

    BalasHapus