Locals Always Know Best!

Bagi para backpacker yang sering jalan-jalan sendirian seperti saya, bergaul dengan warga lokal wajib hukumnya. Dengan bergaul dengan mereka kita akan mendapatkan sesuatu yang tidak dirasakan oleh orang kebanyakan yang traveling dengan cara yang biasa.
Seperti ketika backpacking ke Wakatobi beberapa waktu yang lalu, berinteraksi dengan warga lokal membuat perjalanan menjadi lebih mudah, di Pulau Tomia saya sampai diajak menginap di rumahnya oleh seorang guru hanya karena percakapan di dalam kapal. 
Menyusuri sungai dengan perahu (Photo courtesy of Withlocals)
Di lain pulau, ketika naik ojek untuk menuju penyeberangan ke Pulau Hoga, saya malah diajak ke desanya dan teman- temannya pada ikutan mengantar ke pulau seberang, mereka membeli ikan dan makanan khas lokal, kemudian membakarnya bersama-sama di pulau yang sepi.
Dalam merancang sebuah itenerary saya  biasanya lebih mengandalkan rekomendasi orang yang tiggal di tempat tersebut, bahkan bisa jadi saya hanya mengikuti saja mereka menunjukan tempat terbaik di daerahnya. Menyantap kuliner khas lokal bahkan ikut belajar memasak makanan tersebut merupakan pengalaman yang tak terlupakan.
Namun keadaan di atas hanya berlaku apabila kita berani nekad bespekulasi dengan segala kemungkin yang akan terjadi dan telah mempunya kenalan di destinasi yang akan kita datangi.
Menjadi pemetik teh seperti warga lokal (Photo courtesy of Withlocals)
Bagaimana dengan orang yang ingin merasakan interaksi dengan warga lokal namun tidak mempunyai kenalan atau mempunyai waktu yang sedikit? Baru-baru ini telah diluncurkan sebuah website yang bernama withlocals.com untuk menjembatani para traveler dengan warga lokal, khususnya di wilayah Asia.
Withlocals mempunyai konsep yang berbeda dari yang selama ini ditawarkan oleh agen perjalanan biasa, biasanya kita datang ke suatu tempat, naik bus, mengunjungi tempat wisata sambil mendengarkan perjelasan dari tour guide.
Suasana makan dengan keluarga baru (Photo courtesy of Withlocals)
Nah, yang saya suka dari Withlocals adalah kita langsung saling berhubungan dengan warga lokal yang menawarkan pengalaman yang berbeda seperti ikut memasak makanan khas daerah tersebut langsung di dapurnya sendiri, atau kita ikut merasakan sendiri aktifitas yang biasa mereka lakukan seperti memerah susu sapi, belajar seni bela diri,  dan lain-lain.
Ada tiga macam pengalaman bersama pernduduk lokal yang sediakan oleh Withlocal, yaitu Eat WithLocals, Tour WithLocals dan Activities WithLocals. 
Tak ada cara yang lebih baik untuk merasakan cita rasa makanan di tujuan kita selain ikut langsung memasak dan makan bersama warga lokal, saya jadi teringat ketika tinggal di rumah warga di Raja Ampat, di sana untuk pertama kalinya saya makan cumi-cumi yang langsung dimasak dengan tintanya dan berhasil membuat saya ketagihan.  Makan dengan keluarga baru dengan suasana yang hangat membuatnya menjadi pengalaman yang tak terlupakan seumur hidup.
 Ukiran buah dari bali (Photo courtesy of Withlocals)
Kalau menyusuri suatu tempat yang baru dengan menggunakan dan menuruti yang ada dalam buku panduan, yang kita dapat tak lebih daripada yang tertulis dengan buku tersebut, berbeda dengan orang lokal langsung yang mengajak kita.
Kita akan diajak untuk ke tempat baru dan tersembunyi yang hanya diketahui oleh warga lokal saja. Seperti yang ditawarkan salah satu teman di Jogjakarta, dia mengajak pengguna Withlocals untuk mencoba jajanan khas Jogjakarta yang mulai bermunculan setelah matahari tenggelam.
Dengan traveling, kita juga bisa memambah pengetahuan kita sehingga jalan-jalan tidak sekedar untuk menghabiskan uang, contohnya seperti ikut belajar membuat kesenian tradisional mengukir buah langsung dengan seniman yang sudah ahli di Bali.
Latihan Mauythay langsung di Thailand (Photo courtesy of Withlocals)
Saat ini Withlocals.com pertama kali meluncurkan programnya di beberapa negara di Asia Tenggara, seperti  Thailand, Malaysia, Singapura, Indonesia, Nepal, Sri Lanka, dan Vietnam. Namun kedepannya juga akan diluncurkan di negara Asia lainnya.
Kalau saya sih berharap segera dibuka di Korea, bukan karena ingin bertemu dengan boybandnya tapi ingin langsung merasakan latihan langsung di tempat asalnya beladiri yang selama ini saya tekuni, yaitu Taekwondo.
Happy Respobsible Travel!
Share on Google Plus

About backpackerborneo.com

Adalah sebuah travel blog oleh Indra Setiawan, media untuk memperkenalkan wisata dari Kalimantan dan catatan perjalan menikmati keindahan Indonesia. Silahkan like facebook Backpacker Borneo, follow Instagram @backpackerborneo dan follow juga Twitter @bpborneo untuk update informasi terbaru .

34 komentar :

  1. sepertinya warna kulit kita sama... sama yang difoto. hehehe
    asyik ya bang jalan2 sendiri.. sempet terpikir olehku.. tapi untuk saat ini belum bisa deh. aku masih butuh rame2 kalo jalan2. hehe

    BalasHapus
  2. Ayey! aku paling suka traveling dg konsep begini. Kalo di Indonsia sih sering, ke luar negeri blm pernah nginep di penduduk asli. kepingiinn jadinyaah... kalo ke korea sih nggak mau deh latihan tekondo, mending latihan ngedance.. ahaha

    BalasHapus
  3. Bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat local ini nikmat nya sampai ke hati, bisa merasakan kehidupan sehari2 mereka membuat kita bisa belajar banyak dan tentu nya belajar untuk bersyukur :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali..banyak banget pelajaran yang busa di ambil...

      Hapus
  4. setuju mas bro.....bagi para backpacker or travelller wajib hukumnya bergaul dengan masyarakat Lokal. saat saya bergaul dengan mereka, saya bisa menggali informasi dari mereka, mempelajari kehidupan mereka. bahkan bisa jadi, kita bisa membantu apa yang kita bisa. timbal baliknya adalah mereka tak segan-segan membantu kita.

    BalasHapus
  5. Interaksi dengan orang lokal emang maut he he he. Setiap perjalanan saya pu saya selalu sempatkan untuk langsung berinteraksi dengan mereka, walaupun itu cuma percakapan lima menit dengan petani sekalipun. apalagi bisa nginep dengan mereka. BTW pengalaman kita sama. Ketagihan makan cumi yang dimasak dengan tintanya. saya pertama kali mencobanya di Paciran, Lamongan. Tentu di rumah orang lokal juga. Emang nyentuh ranah sosiologi kayak gini yang bikin kita ketagihan jalan jalan dan jalan terus. sampai nggak penting lagi destinasi populer atau enggak. yang penting meet the Locals :P kepanjangan yah? he he he terakhir, terilhami soe hok gie. Bangsa ini akan kuat ketika pemudanya masih suka naik gunung, ke desa-desa terpencil, meresapi senyum ramah petani, nelayan, dan kaum-kaum termarjinalkan selama ini. Merdeka bung!

    BalasHapus
    Balasan
    1. MERDEKA.....haha..sama ketagihan ternyata..suka banget bung komentarnya..bisa dijadikan satu blogpost nih..hehehe

      Hapus
  6. Bener banget!
    Jalan-jalan nggak cuma ngabisin duit, tapi harus ada pengalaman/cerita yang bisa kita bawa hingga ke liang kubur. Salah satu yg paling berkesan ya pastinya berbaur dengan budaya lokal.

    Anyway withlocals nya bagus juga! Truly inspires!

    "Leave nothing but footprints. Take nothing but pictures. Kill nothing but time"

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup..itulah salah satu kelebuhan gaya traveling kita terlepas apapun itu penyebutannya...

      Hapus
  7. aku baca komen lagi, ngakak sendiri. ternyata masih mode formal. soalnya blogwalking sambil nulis juga, eh kebawa-bawa deh di komen wakwakwak. sekali lagi merdeka bung.#misi #numpang #lewat #lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekali Medeka tetap merdeka Bung...hahaha..tapi suka deh klo ada yg komen kayak gitu..hehe..

      Hapus
  8. Konsep travelling mirip couchsurfing tapi ini lebih aman dan terjamin.
    Penduduk lokal yang sebagai host sudah terdaftar secara resmi jadi tidak perlu takut masalah keamanan.
    Saya mau jadi host dari makassar, temani makan kuliner khas makassar tak perlu diberi imbalan cukup ditraktir makan saja. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kurang lebih..tapi ini berbayar, jadinya lebih aman...asyiiiik...ntar ke Mkassar lagi ah..

      Hapus
  9. Berinteraksi dengan warga lokal itu yang saya tunggu-tunggu. Dengan interaksi itu saya jadi bisa melihat dan mendengar potensi tempat yang saya kunjungi. Wah suka sekali dengan ceritanya Mas.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget..setidaknya kita bisa dapatt pelajaran dari perjlanan tersebut..

      Hapus
  10. konsep withlocals memang unik dan baru didunia industri pariwisata..
    sayapun sudah mencobanya.. konsep menarik untuk bisa lebih mengenal suatu daerah dan tempat bersama orang lokal..

    bisa mampir di sini http://www.shu-travelographer.com/2014/01/temukan-pengalaman-unik-dan-berkesan.html

    BalasHapus
  11. Oooh ternyata buzzer toh ahaha,,, soalnya kemarin juga ada postingan beginian :p
    Dan ternyata bayar yak :p kayak saya dong selalu gratis walau with local hahahahha... di korea pun gratis nginep di orang lokal ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. hohoo..lumayan buat beli beras kak...
      Ini beda konsep..Kalau pake CS sih gak pake bayar...gratis terus....hehe

      Hapus
    2. Waahhh... harus nyontoh mas Alid nih klo ke korea. Rata2 mereka bisa bahasa inggris yo mas :)

      Hapus
  12. Tanpa interaksi dengan orang lokal, perjalanan jadi terasa garing. Tulisan pun hambar ya kakak :)

    BalasHapus
  13. Ternyata ini postingan berbayar toh, pantesan dari kemarin cukup sering lihat berkeliaran di blog-blog travel di Indonesia

    BalasHapus
  14. Emang bener kak, bepergian sama orang lokal emang ga ada habisnya
    Most of the great secret destinations you read on guidebooks aren't secret to the locals.

    BalasHapus
  15. salam kenal
    kunjungi blog kami :)

    BalasHapus
  16. mantap deh. Seandainya ada waktu luang setaon, saya kepengen keliling-keliling juga untuk liburan ke seluruh Indonesia. semoga terwujud deh.. hooh

    BalasHapus
  17. withlocal memang sangat keren karena prinsipnya lokal lebih tau dengan daerah dan segala sesuatunya daripada yang non lokal. kadang yang non lokal hanya mengetahui suatu tempat dari baca buku atau majalah, namun lokal tentunya jauh lebih tau.
    bisa mampir kesini juga www.balitrekkingtrip.com

    BalasHapus
  18. Aku pernah sekali traveling tinggal di rumah warga lokal, sebenernya aku seneng banget Bang cuma aku orangnya awkward banget dan gak jago sosialisasi... padahal sebenernya suka banget...

    BalasHapus