Tragedi di Atas Sungai Kahayan

Sungai Kahayan
Excited, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya  ketika trip kali ini. Selain gratis, eh di bayar…selain itu juga di  jalur yang akan dilewati ada area yang masih rawan dengan perampokan dan yang pastinya…pertualangan. River cruise kali ini tidak membawa tamu seperti biasanya, tapi dalam rangka mengantarkan kapal baru yang dimiliki perusahaan untuk dry dock di Banjarmasin.

Jalur yang akan di ambil adalah dari Sungai Kahayan kemudian melalui terusan menuju Sungai Kapuas, lalu dilanjutkan lagi melalui Sungai Barito di Marabahan dan berakhir di Banjarmasin.
Perkampungan suku Dayak di tepi sungai
Namun belum juga berangkat masalah sudah datang, porseneling untuk maju mundur kapal rusak.  Dari yang dijadwalkan pukul 8 akan berangkat hingga akhirnya pukul 12.26 barulah kapal meninggalkan Pelabuhan Rambang di Palangkaraya.
Masalah kembali datang ketika baru saja ingin menikmati perjalanan, setelah berlayar kurang lebih setengah jam tiba-tiba tenaga dorong kapal menjadi melemah, jangkarpun segera dilabuhkan, mekanik bekerja keras untuk menemukan masalahnya.
Karena posisi tempat kita mogok sekarang ini berada di tikungan yang berarus deras,jadinya jangkar seberat 25 kg yang kita labuhkan kurang bisa menahan berat kapal sehingga pelan tapi pasti kapal terbawa arus.
Awan yang segera tumpah
Mekanik yang mandi keringat di ruang mesih akhirnya mengambil kesimpulan bahwa ada sesuatu yang tersangkut di roda karena ketika di coba mesin mati kalau porseneling maju dimasukan. Karena tak ada satupun penyelam yang sanggup menahan napas panjang sambil melawan arus yang deras akhirnya sang kapten kapal berinisiatif untuk meminta bantuan dari Palangkaraya untuk mengirimkan penyelam.
Awan hitam yang bergelayut di kejauhan tampaknya akan segera bertransformasi menjadi tetesan air yang akan membasahi bumi, dan benar saja, tak lama kemudian hujan yang lebat bersama dengan anginnya yang kencang menghampiri, membuat kapal terseret hingga ke tepi sungai. Kejadian ini mengingatkan saya pada salah satu scene di film Anacoda ketika kapal mereka mogok di tengah hujan dan di serang oleh ular raksasa tersebut, namun untungnya itu hanya dalam film dan tidak terjadi sekarang ini.
Terkena Badai
Tenyata masalahnya bukan karena ada sesuatu yang tersangkut di roda kapal, tapi karena saluran minyak ke mesin yang tidak lancar, untungnya sebelumnya penyelam yang datang tadi memeriksa terlebih dahulu dan juga sedikit mengerti tentang mesin. Mesin bisa menyala walaupun masih belum lancar dan kita melanjutkan perjalanan menuju desa terdekat untuk mengambil oli mesin yang telah di kirim dari Palangkaraya dan menginap di desa tersebut.
Hari pertama belum ada kemajuan yang berarti, total perjalanan yang lancar hanya tidak lebih dari setengah jam….
Pemandangan dari haluan kapal
Hari kedua akhirnya bisa berjalan dengan lancar sejak keberangkatan dari  pagi hari karena para mekanik telah bekerja keras memperbaiki kerusakan di malam sebelumnya. Pemandangan khas sungai yang lebar dengan hutan hutan hujan menemani sepanjang perjalanan, sambil sesekali melewati desa yang berada di tepi sungai.
Namun ternyata perjalanan yang lancar tidak bisa bertahan lama, sehabis tengah hari mesin kembali tersendat. Terpaksa kita menurunkan jangkar lagi, hingga sore menjelang mekanik belum juga bisa menemukan penyebab masalah yang terjadi.
Sunset yang menghibur hati
Keindahan matahari senja yang hampir terbenam di ufuk barat sedikit mengobati kekecewaan, pendar kemerahan cahaya sang surya menghiasi langit bercampur degan birunya langit yang tidak menampakan sedikitpun tanda-tanda akan hujan.
Malam kembali berlalu, namun kami baru mencapai seperempat perjalanan dari rute yang akan kita lalui, sedangkan waktu banyak terbuang dengan sia-sia. Pagi harinya team yang berada di Palangkaraya terpaksa menyusul dengan menggunakan mobil dan membawa mekanik yang lebih ahli.
Kapal yang masih belum 100% rampung
Ternyata kerusakan di bagian mesih sudah sangat parah sehingga ada satu part yang harus di bawa kembali ke kota untuk di perbaiki, waktu perbaikan yang lama sehingga menyebabkan molornya waktu dari jadwal yang telah ditentukan untuk dock, akhirnya keputusan di ambil, Kapal kembali ke Palangkaraya dan perjalanan menuju Banjarmasin dibatalkan.
Karena kapal kembali maka selesailah tugas saya, akhirnya sayapun kembali ke Palangkaraya melewati jalur darat. Pertualangan yang dinantikan harus tertunda, namun syukurlah tidak bertemu dengan perompak berseragam atau yang beneran  yang biasa memalak kapal yang sering lewat, karena jalur tersebut belum di masuki.

Happy Responsible Travel!
Share on Google Plus

About backpackerborneo.com

Adalah sebuah travel blog oleh Indra Setiawan, media untuk memperkenalkan wisata dari Kalimantan dan catatan perjalan menikmati keindahan Indonesia. Silahkan like facebook Backpacker Borneo, follow Instagram @backpackerborneo dan follow juga Twitter @bpborneo untuk update informasi terbaru .

30 komentar :

  1. Hohoho, kayak petualangannya di novel Tom Sawyer mengarungi sungai. Kalau mesinnya mati di tengah sungai repot juga ya. Apa didayung gitu sampai ke pinggir? Ini perjalanannya menantang arus sungai ga?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini ngikutin arus..jadi kalau mati langsung turunin jangkar aja..gak sanggup dayung kapalnya besar..

      Hapus
  2. Menikmati perjalanan walaupun diterpa masalah.
    Foto-fotonya keren, paling suka foto senjanya.

    BalasHapus
  3. Waduh serem >.< belum rejeki, Kak. Semoga lain kali ya busa berpetualang. Tapi sun set nya keren!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi untung juga gak..gak sampe ketemu perompak..hehe

      Hapus
  4. Foto2nya cakep bener .. :)

    BalasHapus
  5. baca dari awal-akhir ikut deg-degan kak haha, malah berasa kaya mau nangkep anaconda :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha..kalau ada anacondanya malah kita yang di tangkep..

      Hapus
  6. pertanyaan ulun terjawab di akhir haha
    ngeri kalau bujuran bagian perampok kapal menyinggahi, minta duit untung2, kalau minta kapalnya kiapa -__-"

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya am tu..padahal sudah siap2 tempat persembunyian barang berharga kaya hp n kamera..

      Hapus
  7. Wah ceritanya menarik dan fotonya keren-keren nih :D

    sudah 2 tahunan meninggalkan bumi borneo, kangen jua pang sama soto banjar
    hhihiii
    :D

    BalasHapus
  8. Ceritanya bikin deg-degan, apalagi kalau gak bisa berenang kayak saya. Tapi perjalanan yang "kurang lancar" tetep menghasilkan foto2 yang keren. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe..kalo ada kesempatan ambil foto teteeep..

      Hapus
  9. Waduh pasti kecewa berat tu.... tapi dek kapalnya bagus ya... sunsetnya juga mengobati hati..XD eh emang beneran ada perompak ya..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya...biasa malak mereka..tapi ada juga perompak berseragam...

      Hapus
  10. suka ama warna sungai kahayan....seperti coklat yang sedang mencair......

    BalasHapus
    Balasan
    1. tinggal kasih gula kak..haha..tapi warna aslinya kemerahan seperti teh loh...

      Hapus
  11. Hmm...sayang banget kapalnya enggak di cek dulu ya sebelum brangkat.


    www.littlenomadid.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. waktu mau berangkat emang udah rusak kak..dan dipaksakan berangkat sambil di perbaiki..hehe

      Hapus
  12. Seruu nih...viewnya juga keren banget. Untung nggak ketemu anaconda beneran ya hehe.

    BalasHapus
  13. aaawww..keren keren fotonya aaah...

    BalasHapus