Kehangatan Betang Toyoi di Desa Tumbang Malahoi

             Yang terlihat hanya perkebunan sawit menghampar luas, menyingkirkan pohon-pohon nan hijau yang dahulu berdiri dengan kokoh di hutan Kalimantan. Jalan yang berdebu dan tanpa aspal membuat kami harus berhenti beberapa kali untuk sekedar merehatkan pantat yang terasa panas.
Tiga jam setengah perjalanan terasa panjang dengan jalur yang hampir mustahil dilalui oleh mobil biasa tanpa sopir yang berpengalaman, begitu hujan turun, jalanan yang masih berupa tanah akan menjadi selicin sabun. Hanya mobil double garden lah yang di rekomendasikan untuk melalui jalan ini, selain travel dan penduduk yang tiap hari lewat sini tentunya.

Selamat datang di Betang Toyoi
Akhirnya tiba juga kita di sebuah desa yang bernama Tumbang Malahoi, di sinilah masih berdiri dengan kokoh sebuah rumah peninggalan masyarakat Dayak yang berukuran besar, Rumah Betang, demikian disebutnya.
Di tengah rumah, tampak mandau beserta benda-benda seperti air, beras, mandau, batu dan lain-lain. Upacara penyambutan telah di siapkan untuk kita, upacara Tapung Tawar namanya. Upacara ini dimaksudkan untuk membersihkan segala hal jahat yang kita bawa dari luar, agar dikuatkan selama berada di sana, serta akan dianggap layaknya keluarga sendiri selama berada di Rumah Betang.
Dinding yang terbuat dari kulit kayu
Rumah Betang yang berada di Desa Tumbang Malahoi ini didirikan oleh Toyoi Panji, sehingga dinamakan Betang Toyoi. Tak ada catatan pasti kapan rumah ini didirikan karena tak ada yang bisa menulis jaman dahulu. Namun menurut penelitian, kayu ulin yang menompang bangunan sepanjang 39 meter itu berusia sekitar 150 tahun.
Rumah Betang Toyoi telah mengalami beberapa kali pemugaran, namun keasliannya masih tetap di jaga, kecuali dinding yang sebelumnya hanya terbuat dari kulit kayu sekarang telah ditambahkan dengan kayu ulin di bagian dalamnya. Walaupun di bagian luarnya masih tetap memakai kulit kayu.
Sandung di depan Rumah Betang
Yang paling menakjubkan adalah bagaimana orang-orang jaman dahulu memotong dan membentuk tiang menjadi bulat persegi dengan jumlah yang sama persis hanya dengan peralatan yang sederhana. Begitu juga untuk merekatkan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainya tidak menggunakan paku, hanya pasak-pasak yang juga terbuat dari kayu ulin, atau ada juga yang menyebutnya dengan kayu besi.
Betang Toyoi tampak depan
Di bagian RumahBetang, bediri kokoh sebuah Sandung (Rumah kecil untuk meletakan tulang keluarga) serta tiang sapundu yang digunakan untuk mengikat hewan kurban ketika acara Tiwah. Di seberang jalan, Tiang Pantar yang dipercaya sebagai jalan untuk kembali ke surga yang terbuat dari kayu ulin tampak tinggi menjulang. 
Biasanya ada 5 keluarga yang mendiami rumah panjang ini, namun sekarang hanya ada 3 orang wanita yang berada di rumah karena keluarga yang lain sedang berada di ladang. Selama berada di sini, kami dianggap sebagai keluarga sendiri.
Esok harinya, kita pergi ke hutan untuk belajar bagaimana masyarakat sana mencari nafkah dan hidup di hutan. Bagaimana mereka menyadap karet, menemukan tanaman yang bisa di makan dan dijadikan sayur, serta melihat pohon ulin yang semakin langka.
Karena kebetulan juga sedang musim buah, kami juga menuju kebun buah keluarga yang berjarak sekitar 3 kilometer dari desa. Ternyata walaupun musimnya sudah hampir habis, masih banyak buah yang dapat kita temukan.
Trekking ke hutan
Gandi dan Bonni yang menemani kami, memanjat pohon dengan dengan cepat sehingga dalam kurang dari satu jam sekitar 4 karung buah sudah terkumpul dan harus kita habiskan. Buah-buahan khas hutan Kalimantan seperti Tangkuhing / Mata kucing, Pampaken (Seperti durian namun berwarna kuning), Asam putar, Langsat / duku dan Puak / Kapul. Bagi orang Kalimantan mungkin nama-nama buah tersebut terdengar asing. Dan karena terlalu banyak buah yang kita petik, beberapa yang tahan lama akhirnya harus di bungkus di dalam kardus untuk di bawa pulang.
Malam terakhir di Betang Toyoi diisi dengan hiburang musik dan tari-tarian dari penduduk setempat, kita sebagai tamu yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri juga ikut menari bahkan sampai diajarkan bagaimana langkah demi langkah untuk menari Manasai. Salah satu tarian kebersamaan bagi suku Dayak Ngaju, dimana semua orang menari bersama berkeliling ruangan dalam lingkaran, semuanya hanyut dalam keakraban.
Ngumpul sambil ngobrol malam di dalam Betang
Fasilitas bagi tamu yang datang seperti toilet dan kamar mandi juga telah tersedia di Belakang Rumah Betang. Untuk menuju desa Tumbang Malahoi diperlukan waktu sekitar 3-4 jam dari Palangkaraya dengan menggunakan jalan darat yang sebagian besar masih belum di aspal.
Betang Toyoi berada di hulu Sungai Rungan, di salah satu anak sungainya yang bernama Sungai Baringei. Desa Tumbang Malahoi sendiri masuk ke dalam administrasi Kecamatan Rungan, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah.
Datang saja ke sini untuk merasakan sendiri bagaimana keramah-tamahan Suku Dayak.
Happy Responsible Travel!
Share on Google Plus

About backpackerborneo.com

Adalah sebuah travel blog oleh Indra Setiawan, media untuk memperkenalkan wisata dari Kalimantan dan catatan perjalan menikmati keindahan Indonesia. Silahkan like facebook Backpacker Borneo, follow Instagram @backpackerborneo dan follow juga Twitter @bpborneo untuk update informasi terbaru .

19 komentar :

  1. Menu makan malam nya apa kak ??? #salahFokus

    BalasHapus
  2. Asyikkkk banget nih, tapi pengunjung harus bawa guide lokal nggak? Atau bisa jalan sendiri tanpa perlu bantuan dari guide lokal?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di desa aja sih gak perlu guide, tapi kalau ke hutan harus pake guide, ntar malah hilang di hutan kalimantan kak..hehe

      Hapus
  3. buah Tangkuhing / Mata kucing sayang kededa fotonya nah hhe
    itu buah bujurlah kayak kelengkeng, tapi kulitnye berbuku-buku omm?

    BalasHapus
    Balasan
    1. bujur banar...udah di tulis di sini jua http://www.backpackerborneo.com/2013/02/tangkuhis-buah-langka-dari-kalimantan.html

      Hapus
  4. Rumah orang dayak sudah ada televisi ternyata.
    Tertarik untuk mengenal lebih dekat suku dayak, tapi di Bontang (baca: stay 1 tahun kedepan) penduduknya mayoritas majemuk dan sulit menemukan suku dayak.
    Ayo main ke Bontang bang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Weh tinggal di kalimantan ya...ayo ekplore lebih jauh..mumpung di sini :-D

      Hapus
    2. Iya, tapi cuma sampe januari ada urusan kerjaan.

      Hapus
  5. Banyak dari teknik mengolah zaman dulu yang sudah hilang... hebat juga melihat bagaimana cara mereka memotong kayu-kayu biar sama besar...

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget...gak ada gergaji kaya jama sekarang lagi..

      Hapus
  6. keren! semoga saya bisa kesana :)

    BalasHapus
  7. Sebuah desa yang terlihat sungguh eksotis. Jadi iri pada anda sang penjelajah negeri kita yang kaya akan keindahan alam dan budaya yang sangat menarik.

    Salam kenal,
    mankKoko

    BalasHapus
  8. satu lagi bukti kearifan lokal yg layak dibanggakan ... perlu dikaji dan diekspose oleh para ahli konstruksi di kalimantan ... !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget...udah banyak juga sebenarnya yang meneliti, tapi gak di publikasikan..

      Hapus
  9. Mantap,Betang Toyoy.
    Datang aja ke Desa Tumbang Malahoi,Kec Rungan Kab.Gunung Mas,Prov Kalteng.
    Kami seluruh keluarga besar Betang Toyoy,memberi apresiasi atas postingnya. .

    BalasHapus
  10. Hola mas-mas...
    Nama saya Chandra dari Jakarta. Saya ada rencana mau ke Tumbang Malahoi, ada yg bisa kasih saya informasi mendetail terutama biaya2 menuju ke sana? Bisa japri saya ke sichandra@yahoo.com Terimakasih.

    BalasHapus