Teluk Mayalibit, Pembelah Pulau Waigeo

Perjalanan saya di Raja Ampat kali ini memang tanpa Itenerary yang jelas, namun karena penasaran dengan cerita tentang batu di Teluk Mayalibit akhirnya saya memutuskan kesanalah tujuan saya selanjutnya. Untuk menjangkau tempat ini selain dengan kapal juga bisa ditempuh dengan jalan darat.
Bermodalkan petunjuk jalan dari seorang teman dan motornya yang dia sewakan saya berangkat seorang diri, jalannya masih belum beraspal dan hanya diperkeras dengan batu koral, bahkan ada bagian jalan yang runtuh. Di tengah perjalan ada sebuah air terjun yang cukup bagus dan memutuskan untuk mampir mandi ketika perjalanan pulang nanti, hanya satu kali saya berpapasan dengan angkot  berupa mobil  4 wheel drive yang bagian belakangnya di modif sedemikian rupa untuk penumpang duduk. 
Desa Warsambin
Jalan menuju desa Warsambin

Ketika tiba di Desa Warsambin desanya tampak sepi, setelah memarkir motor di depan salah satu rumah warga saya menuju Dermaga dan menyusuri jalan yang sudah di semen serta ada tulisan “BRI Peduli” yang tampaknya hasil CSR Bank tersebut. Seorang ibu menyarankan saya ke ujung kampung atau ke rumah seorang dokter yang mempunyai kapal yang bisa saya sewa.
Kebetulan ada sebuah Longboat yang merapat ketika saya sampai di ujung kampung. Sapei, nama pemuda yang punya dan dia bersedia mengantarkan saya berkeliling Teluk Mayalibit, saya hanya perlu mengisikan bensinya 5 liter.
Pemandangan di Teluk Mayalibit
Longboat yang kita naiki oleng ke kiri dan ke kanan ketika kita mulai memasuki pintu masuk Teluk Mayalibit yang hampir membelah Pulau Waigeo. Teluk ini memang berbentuk seperti botol, hanya ada satu jalan keluar selebar 350 meter  bagi air laut sehingga menyebabkan yang disebut arus pasang dan arus surut.
Alamnya yang masih terjaga merupakan ciri khas teluk ini, sepanjang mata melihat semuanya masih hijau, masyarakat hanya mengambil kayu seperlunya saja. Keberadaan Conservation International (CI) yang bermarkas di depan teluk juga turut mengawasi terjaganya alam di sini.
Salah satu goa yang ada
Teluk Mayalibit sendiri berasal dari kata “Maya” yang berasal dari nama suku asli yang mendiami Raja Ampat, sedangkan “libit” yang berarti teluk dalam bahasa setempat. Ada sekitar 10 desa yang tersebar di sepanjang teluk dan kebanyakan mereka berprofesi sebagai nelayan.
Akhirnya sampai juga kita tujuan yang membuat saya penasaran, batu tersebut memang sangat unik bentuknya, sangat mirip dengan kemaluan lelaki dan kembar pula. Tampak koin-koin berkilauan di ujungnya, “itu hanya kebiasaan turis-turis saja” jelas Sapei.
Ini dia batu yang dimaksud, Bagaimana?
Terbayar sudah rasa penasaran saya, kitapun kembali dengan menempuh rute yang berbeda. Di bawah ceruk-ceruk batu di tepian tampak kayu-kayu seperti jebakan ikan, dan memang betul ternyata itu adalah alat bantu mereka menangkap ikan Lema, ikan-ikannya yang berkumpul karena tertarik karena cahaya lampu mereka giring kedalam sana lalu setelah terkurung ikannya barulah mereka tangkap dengan serok besar.
Longboat yang terbuat dari kayu bulat tanpa sambungan kami naiki terus melaju membelah perairan teluk Mayalibit, saya dan motoris speedboat ini terus saling bercerita. Dia sangat bersemangat menceritakan ketika beberapa waktu lalu mahasiswa UGM melaksanakan KKN di desa mereka.
Air terjun yang saya temui di perjalanan 
Pulang dari Desa Warsambin saya kembali singgah di Air Terjun tanpa nama yang sebelumnya saya lihat. Dengan ketinggian sekitar 25 meter membuat saya tergoda untuk membuka baju dan merasakan kesegarannya, kaena ke air terjun tanpa mandi rasanya ada seperti bagian yang hilang.

Happy Responsible Travel!



Share on Google Plus

About backpackerborneo.com

Adalah sebuah travel blog oleh Indra Setiawan, media untuk memperkenalkan wisata dari Kalimantan dan catatan perjalan menikmati keindahan Indonesia. Silahkan like facebook Backpacker Borneo, follow Instagram @backpackerborneo dan follow juga Twitter @bpborneo untuk update informasi terbaru .

23 komentar :

  1. Oh batu itu mirip kemaluan pria, aku tadi mikir nya kayak ular anaconda lho hehe

    BalasHapus
  2. asik ya bisa jalan-jalan ke sana, tapi aku cukup senang bisa membaca tulisan ini dan membayangkan keadaan di sana

    BalasHapus
  3. salutt !! thx infonya, lmyan buat nambah list traveling slnjutnya. salam borneo ! dr Kaltim

    BalasHapus
  4. Aaaaaakkk mas Indra udah sampai Raja Ampat! Miris ya malah organisasi internasional yang menjaga kelestarian negeri kita.

    BalasHapus
  5. keren bgt guanya kayak kepala shark ya

    BalasHapus
  6. hahaha lebih cucok sisi lain raja ampat. maklum pemandangan alam raja ampat yang terekam dalam otak saya ttg alam yang wahhhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe..ada banyak sisi raja ampat yang masih belum terlalu di ketahui..

      Hapus
  7. Wow ka salut juga ke Raja Ampat ( teluk wayalibit lebih tepatnya ) cuma buat lihat batu *_* abis berapa kak..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini udah sama rangkaian raja ampat yg lain..habis sekitar 5-6 juta klo gak salah..

      Hapus
  8. lol, emang mirip gland penis ya...
    untung gak banyak jejak vandalisme di raja ampat ya..
    entah kapan bs kesana....

    BalasHapus
  9. Bagus juga ni travelling nya..jadi kangen ni jalan waisai-warsamdin..coba kalo trus ke mumes ato lopintol bang..kebetulan antara sept-okt kmrin kita desain ulang tu jalannya..dan naik longboat itu ibarat menari diantara ombak..apalagi pas di arus depan teluk mayalibit nya..boleh dicoba..butuh nyali dan motoricer handal pula..

    BalasHapus
  10. Thanks untuk semua informasinya gan sukses selalu yahh

    BalasHapus